Thursday, July 14, 2011

ANALISIS KESINAMBUNGAN DALAM WACANA CERPEN KOTAK MERAH JAMBU KARYA NAFILAH NJURDIN

Setiap hari manusia menemukan wacana. Entah wacana lisan atau tulisan, manusia menggunakan wacana sebagai sarana penyampaian pesan. Menurut Longacre (1983), wacana merupakan rentetan kalimat yang membentuk suatu pengertian yang serasi dan terpadu, baik dalam pengertian maupun dalam manifestasi fonetisnya. Jika wacana tidak terdiri dari unsur pembentuk wacana yang saling berhubungan dan berkesinambungan satu sama lain, tidak mungkin tidak jika si penerima pesan akan menangkap suatu hal yang berbeda dari maksud si pengirim pesan. Oleh karena itu si pengirim haruslah menyusun wacana yang sesuai dengan topik yang diambilnya.Wacana lisan maupun wacana tertulis, penulis harus menghubungkan rentetan kalimat untuk membentuk suatu wacana yang utuh dan berkesinambungan, antara topik dan fokus isi materinya, agar penerima pesan dapat menangkap pesan yang utuh yang disampaikan oleh pengirim pesan.


BAB I 
PENDAHULUANLatar BelakangWacana merupakan satuan tuturan yang meyatakan suatu topik tertentu yang terikat oleh suatu kesatuan. Wacana adalah tataran bahasa tertinggi yang mencakupi tataran bahasa di bawahnya, yakni semantik, sintaksis, morfologi, dan fonologi yang paling kecil.Tarigan mengatakan bahwa wacana adalah satuan bahasa terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi tinggi yang berkesinambungan, yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata, disampaikan secara lisan atau tertulis (Tarigan, 1987: 1).Wacana dapat dikatakan baik bila memiliki topik didalamnya. Selain topik, ada juga tema dan judul yang juga memiliki kedudukan dalam sebuah wacana. Antara topik, tema dan judul haruslah membentuk suatu kesinambungan dengan isi yang disampaikan. Dalam makalah analisis topik dan kesinambungannya ini, akan digunakan wacana cerpen yang diambil dari majalah Story edisi 23 dengan judul ‘Kotak Merah Jambu’, karya Nafilah Njurdin.B.  Rumusan MasalahBerdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :1.      Definisi kesinambungan dalam suatu wacana.2.      Analisis wacana cerpen berjudul ‘Kotak Merah Jambu’ berdasarkan kriteria keinambungan topik.C. Tujuan1.      Mendeskripsikan unsur-unsur yang menjadikan suatu wacana berkesinambungan.2.    Mengetahui apakah wacana cerpen yang berjudul ‘Kotak Merah Jambu’ adalah suatu wacana yang berkesinambungan atau tidak.
BAB IIKAJIAN TEORITISA.  Definisi WacanaAdanya berbagai penelitian terhadap wacana menimbulkan banyak pengertian wacana oleh para ahli. Harimurti Kridalaksana (1978), mengemukakan bahwa wacana adalah satuan bahasa terlengkap dan merupakan satuan gramatikal tertiggi atau terbesar dalam hierarki gramatikal. Nmun, dalam  direalisasinya waana dpat berupa karangan yang utuh (novel, buku, seri ensiklopedia, dan sebagainya), paragraf, kalimat, frase, bahkan kata yang membawa amanat lengkap.Sobur Alex (2001) mengungkapkan bahwa wacana adalah rangkaian ujar atau rangkaian tindak tutur yang mengungkapkan uatu hal (subyek) yang disajikan secara teratur, sistematis, dalam suatu kesatuan yang koheren, dibentuk oleh unsur segmental maupun nonsegmental bahasa.Kinneavy (dalam Supardo 1988:55) mengatakan bahwa wacana adalah teks yang lengkap yang disampaikan baik dengan cara lisan maupun tulisan yang tersusun oleh kalimat yang berkaitan.Wahab (1991 : 128) mendefinisikan wcana sebagai organisasi bahasa yag lebih luas dari kalimat atau klausa.Dari beberapa pengertian para ahli tentang wacana seperti yang telah diuraikan di atas, dapat disimpulkan, wacana adalah rentetan kalimat yang diserti konteks dan memberi informasi secara lengkap. Untuk memberikan informasi secara lengkap, penyapa (addressor) diharuskan menyampaikan sebuah wacana yang berkesinambungan, antara topik, tema, judul, dan isi materi kepada pesapa (addressee).B.  Topik dan KesinambungannyaTopikDalam suatu wacana, dapat dikatakan baik jika memiliki satu topik yang fokus dari sebuah wacana. Menurut Poedjosoedarmo (1986 : 5) topik adalah gagasan utama yang dikandung oleh suatu wacana. Sedangkan menurut Givon (1983) topik merupakan pusat perhatian sebuah wacana (centre of attention). Jadi kesimpulannya, topik adalah sesuatu yang menjadi inti pembicaraan dalam sebuah wacana yang dapat berbentuk frasa ataupun kalimat.Selain topik, ada juga tema dan judul yang juga memiliki kedudukan dalam sebuah wacana. Menurut Samsuri (1987/1988 : 28 ; Alwi et al 1998 :437) tema lebih luas lingkungannya dan lebih abstrak dibandingkan dengan topik. Berbeda halnya dengan topik dan tema, judul mempunyai ruang lingkup yang lebih sempit daripada keduanya dan lebih konkret.Dalam topik terdapat dua jenis topik, (1) topik nonpersona, topik yang acuannya berupa konsep (abstrak) atau fisik (konkret), dan (2) topik persona, topik yang referennya insan. (Sumadi 1998 : 51)KesinambunganDalam setiap wacana dapat dikatakan sempurna jika isi materi tidak melenceng dari topik. Oleh karena itu ada tiga aspek dalam meneliti kesinambungan. Yaitu melalui :1.      Kesinambungan tematik (thematic continuity) : merujuk pada tema utama.2.      Kesinambungan tindakan (action continuity) : merujuk pada suatu kejadian.3.      Kesinambungan topik (topics continuity) : merujuk pada topik yang dibincangkan dalam urutan klausa atau kalimat.Wacana cerpen yang berjudul ‘Kotak Merah Jambu’, akan dianalisis menggunakan kesinambungan topik, karena setiap kalimat pada wacana tersebut menandung topik, yaitu kotak merah jambu..


BAB III 
METODEBerdasarkan kajian teoritis di atas tentang wacana, pada wacana cerpen yang berjudul Kotak Merah Jambu, akan menggunakan penelitian kesinambungan topik. Dalam kesinambungan topik, hal yang perlu diperhatikan adalah mencari topik di setiap kalimat-kalimat didalam wacana cerpen.Menurut Seng (1995 : 24), untuk menentukan kesinambungan topik dalam wacana, dapat ditentukan melalui kriteria-kriteria kesinambungan topik dengan memberikan nilai pada setiap kriteria yang ada pada wacana. Ketiga kriteria tersebut adalah : 1.      Jarak rujuk kembali (look back reference)Digunakan untuk melihat jarak penyebutan topik pertama kali dengan penyebutan topik kedua kalinya, ketiga, dan seterusnya. Adanya topik dalam suatu kalimat akan diberikan nilai 1 jika topik sudah disebutkan pada kalimat sebelumnya. Nilai 2, 3, dan seterusnya sampai 20 diberikan berdasarkan kalimat-kalimat sebelumnya yang memuat topik. Apabila tidak terdapat topik dalam sebuah kalimat, namun topik pantas dimasukkan kedalamnya, maka berilah angka 0 pada tempat yang dapat dibubuhi topik. Jarak Antar Klausa/kalimat  = ...    Jumlah Klausa/Kalimat Untuk menghitung jarak rujuk kembali dengan menggunakan rumus berikut :

Jika hasilnya bernilai < 1, maka jarak rujuk kembalinya baik. Namun jika hasilnya bernilai > 1, maka jarak rujuk kembalinya buruk, karena jarak rujuk kembali antara topik pada kalimat utama, terdapat jauh pada klausa atau kalimat setelahnya.2.      Kemungkinan gangguan (potential interference)Digunakan untuk melihat gangguan dari topik lain dalam kalimat-kalimat sebelumnya. Jika tidak terdapat gangguan dari topik lain diberikan nilai 1, karena pada wacana tersebut hanya memiliki satu topik. Namun jika terdapat gangguan topik lain pada kalimat di belakangnya, maka diberikan nilai 2, karena wacana tersebut memiliki dua topik. Apabila tidak terdapat topik dalam sebuah kalimat, namun topik pantas dimasukkan kedalamnya, maka berilah angka 0 pada tempat yang dapat dibubuhi topik.3.      Berterusan (persistence)Digunakan untuk melihat kepentingan suatu topik dalam wacana. Topik yang muncul pada kalimat pertama, diberikan nilai 0. Lalu diberikan nilai 1, 2, 3, jika kalimat setelahnya juga memuat topik secara berturut-turut. Jika pada sebuah kalimat tidak memuat topik, maka kalimat tersebut tidak diberi nilai, atau sama saja 0. Bila kalimat setelahnya memuat topik, kembali diberikan nilai 0, dan kembali diberikan nila 1, 2, dan seterusnya jika topik dimuat secara berturut-turut. Dan begitu seterusnya hingga akhir wacana.Apabila tidak terdapat topik dalam sebuah kalimat, namun topik pantas dimasukkan kedalamnya, maka berilah angka 0 pada tempat yang dapat dibubuhi topik.Sehingga pada wacana cerpen Kotak Merah Jambu akan ditentukan tema, topik, serta judul, dan juga akan dianalisis kesinambungan  topik berdasarkan kriteria di atas.

BAB IV 
HASIL BAHASAN
A.  Kesinambungan TopikSuatu wacana dapat dikatakan berkesinambungan jika isi materi sesuai dengan judul, dan judul sesuai dengan topik. Secara keseluruhan, topik menjadi acuan penting bagi sebuah wacana agar dapat dikatakan sebuah wacana yang berkesinambungan. Untuk menganalisis kesinambungan topik, digunakan sebuah wacana cerpen yang diambil dari majalah Story edisi 23, yang berjudul ‘Kotak Merah Jambu’³ dengan wacana di bawah ini :KOTAK MERAH JAMBUSore tadi Ariel membawakan sesuatu untukku. Sekotak mungil yang dia genggam di tangan kirinya dan dia angsurkan ke telapak tanganku.“Bukalah saat menjelang tidur nanti,” katanya.Aku tak sabar menanti malam. Aku ingin segera membuka kotak mungil berbungkus pink itu.Kini malam telah menjelang. Aku bersiap membuka kotak itu, ketika tiba-tiba Aringtone yang aku setel khusus untuk Ariel bernyanyi.“Ya?” sapaku dengan heran.“Beib, maaf... salah ngasih kotak. Jangan dibuka ya. Pliss.”Omaygot.... Jadi apa isi kotak ini dan untuk siapa?Kantukku buyar hanya dalam hitungan detik. Kumati kotak berbungkus merah jambu yang tergeletak di meja belajarku.“Beib, belum buka kotaknya kan?” Ariel masih di sana. Menunggu.“Belum.”Ada desah lega. Aku makin penasaran. “Besok aku jemput sekalian ngambil kotak itu ya? Maafin aku, Beib. Gara-gara kotaknya ketuker, kejutannya jadi berantakan. Heran, aku ceroboh gini. Sekarang tidur yang nyenyak biar besok gak telat bangun. Dah, Beib...”Aku tercenung lama. Sekarang isi pikiranku benar-benar telah dibajak kotak merah jambu itu. Astaga! Aku merutuk sendiri. Tersadar atas beberapa keganjilan yang terjadi hari ini.Pertama, Ariel memberiku kotak kado, padahal aku tidak sedang merayakan sesuatu yang spesial. Aku terlalu gembira saat Ariel memberi kotak itu hingga tak sempat memikirkannya. Dasar cewek! Kedua, kotak itu tertukar! Kuberitahu satu hal, Ariel bukan tipikal orang sembrono. Perfeksionis. Mustahil ia keliru memberiku kotak kado kecuali ia mempunyai dua kotak kado yang sama!Aku membanting tubuhku di ranjang. Kecurigaan mudah sekali timbul terhadap sesuatu yang samar-samar. Dan untuk urusan ini, kecurigaan bergandengan cemburu merusak tidurku. Sial.***“Kado ini buat siapa?”“Bukan orang penting.”“Bo’ong! Kok bisa ketuker dengan kotak punyaku?”“Gak sengaja, Erin sayang...! kenapa sih nanya kayak wartawan gitu?”“Gak masuk akal banget! Kotaknya buat siapa? Jawab!’“Ampun deh! Lagi dapet ya? Mencak-mencak kayak nenek kehilangan gigi palsu,” Ariel nyengir.“Arieeel!”Penghuni kelas XI  IA2 yang tidak istirahat di luar kelas, seketik menatp kami berdua. Aku masa bodoh. Tak akan da yang berani mengusirku walau aku bukan penghuni kelas mereka. Wjah cemberutku masih menggantung.“Apa susahnya ngasih tau aku siapa pemilik kotak kado itu? Atau jangan—jangan itu buat selingkuhan kamu ya?!”Mata Ariel membulat disusul sebuah jitakan lembut di kepalaku.“Bener-bener deh. Pikiranmu mulai ngaco. Kotak kado itu...”“Berarti bener. Kamu gak beres!” Aku beranjak.“Beib, dengar dulu...”“Bodo! Mulai hari ini berhenti ngirim sms, nelpon, jemput dan berhenti menemuiku dengan alasan apa pun sebelum kamu jujur! Aku gak mau nerima kotak kado yang sama!” cetusku lalu meletakkan kota kado yanng baru diberikan Ariel pagi tadi sebelum berlari keluar.”Beib? Erin, tunggu!”Sudah kubilang curiga dan cemburu itu ganas sekali. ***“Beib, beri aku waktu 15 menit buat jelasin semuanya!”Aku tak bergerak, berdiri menghadap jendela kamarku yang terbuka. Suah sejam Ariel berdiri di luar pagar. Dia belum menyerah meski aku diam. Tiga belas batang cokelat tergeletak manis di meja belajarku. Ariel mengirimnya lewat Bik Imah. Berharap aku bisa disuap dengan cokelat-cokelat menggiurkan itu. Oke, aku gila cokelat, tapi aku sedang cemburu. Dia tidak tahu itu.“Plis, Rin. Jangan kayak anak kecil gini dong. Masa ngambek demi hal yang gak penting, sih,” Ariel menggaruk kepalanya.Tuh kan. Ariel enggan memberitahuku mengenai kotak merah jambu itu! Siapa yang kekanak-kanakan coba? Menyebalkan!Ringtone khusus Ariel berbunyi.“Udah aku bilang jangan...”“Kamu harus menerima hukuman ini, Rin.”Aku melihat Ariel berdiri di seberang jalan rumahku. Kami saling berbicara di telepon dalam jarak berjauhan.“Kamu menggagalkan semua rencanaku! Dasar anak kecil!” Ariel mendecih.“Siapa yang anak kecil!?” kujulurkan lidahku.“Aku nyiapin semuanya agar sempurna. Tapi kamu sengaja merusaknya! Seharusnya kamu bisa pura-pura amnesia soal kotak kado yang tertukar itu! Agustus masih jauh dan semuanya sempurna gagal!”Ada apa di bulan Agustus?“Kotak kado yang seharusnya aku berikan malam kemarinberisi puisi empat musim dan tiga belas batang cokelat. Kejutan kecil itu sengaja aku berikan karena belakangan aku sadar ku terlalu sibuk dan sedikit mengacuhkanmu. Kotak yang tertukar itu berisi kaset lagu yang kutulis dan kurekam khusus hadiah ulangtahunmu ke-17, Agustus nanti... kamu bilang ingin sesuatu yang istimewa di hari itu. Sekarang apa yang tersisa untuk hari itu? Eriin, aku ingin mencekikmu!”Jadi? Aku shock. Kumatikan ponselku. Siapa yang kekanak-kanakan?“Biik Imaaah, kunci pagar mana...?!”
Wacana di atas memiliki tema ‘kotak kado yang tertukar’, karena pada cerpen tersebut mengisahkan Ariel yang gagal memberikan kejutan sebuah kado pada Erin, karena kotak kadonya tertukar. Sedangkan topiknya adalah ‘kotak merah jambu’ karena yang dibicarakan dalam cerpen tersebut membahas tentang kotak merah jambu yang tertukar. Bentuk topiknya berupa frasa, yaitu kotak merah jambu. Sedangkan judulnya adalah Kotak Merah Jambu, sesuai dengan topik yang membahas kado kotak merah jambu.Berdasarkan pada data wacana di atas, wacana cerpen tersebut berjenis topik nonpersona fisik. Karena pada wacana tersebut yang dibahas adalah bukan insan atau bukan orang, dan kotak merah jambu dapt terlihat bentuknya, wujudnya.
B.  Kriteria Kesinambungan Topik
1.         Jarak rujuk kembaliPada cerpen Kotak Merah Jambu ini terdapat 91 kalimat dengan jarak rujuk pada topik yang berbeda tiap kalimatnya.
Jumlah jarak rujuk pada wacana cerpen di atas adalah sebanyak 86 jarak. Untuk menentukan jarak rujuk kembali, digunakanlah rumus sebagai berikut :
Jarak Antar Klausa/kalimat  =      86        = 0,945    Jumlah Klausa/Kalimat            91Itu berarti jarak rujuk kembali dalam wacana cerpen Kotak Merah Jambu di atas < 1, sehingga kesinambungan topiknya baik.2.    Kemungkinan gangguanSeperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, pada kemungkinan gangguan akan diberikan nilai 1 jika tidak ada gangguan pada klausa atau kalimat setelahnya. Namun jika terdapat gangguan topik lain pada klausa atau kalimat setelahnya, maka diberikan nilai 1.
Dalam wacana cerpen Kotak Merah Jambu di atas, terdapat 5 kalimat yang tidak memiliki gangguan, dan ada 20 kalimat yang memiliki gangguan. Perbandingan persen antara kalimat yang memiliki gangguan dan kalimat yang tidak memiliki gangguan adalah  80 % : 20%.Itu artinya, pada wacana cerpen di atas memiliki gangguan topik sebanyak 80 persen, sehingga nilai gangguan dari wacana tersebut bernilai 2.
3.    BerterusanSemakin banyak topik yang muncul seara berturut-turut dalam wacana, semakin tinggi tingkat kesinambungannya. Pada topik utama diberi nilai 0, pada kalimat setelahnya yang mengandung topik, barulah diberi nilai 1, 2, 3, dan seterusnya. Pada wacana cerpen Kotak Merah Jambu di atas topik disebutkan sebanyak 25 kali. Namun topik yang berterusan hanya muncul 6 kali dengan topik terusan hanya 1, 2, bahkan 0, pada setiap topik yang muncul. Sehingga dihitung dari jumlah topik terusan, nilai berterusan wacana cerpen Kotak Merah Jambu adalah 6.

No comments:

Post a Comment

thanks for reading (^o^)