Thursday, July 14, 2011

Analisis Novel 'Rumah Maya'

BAB 1Latar BelakangKepercayaan suatu kelompok masyarakat tentang kehidupan lain yang ada disekitar mereka, masih sering ditemui pada jaman sekarang ini. Kepercayaan tentang hal yang bersifat mistis itu membuat suatu kelompok masyarakat memuja pemimpin dunia gaib, yang biasa disebut Kanjeng Ibu, dan bersedia menjadi abdi dalemnya yang setia. Imbalan mengabdi kepada Kanjeng Ibu adalah terpenuhinya kebutuhan duniawi. Namun tak semudah yang dibayangkan. Para abdi yang sudah merasakan kenikmtan duniawi, harus merelakan dirinya menjadi abdi selamanya. Bahkan sampai meninggalpun, abdi harus terus melayani Kanjeng Ibu di alam lain. Tak hanya itu, keturunan mereka seterusnya juga harus menjadi abdi Kanjeng Ibu.Seperti pada novel Rumah Maya karya Tan Swat San atau yang bernama lain Irene Eko Dani Kurniawati. Tan mengajak pembaca untuk ikut hanyut kedalam dunia mistis yang ia ciptakan sebegitu nyatanya. Tan dengan gamblangnya menceritakan suasana mistis yang berlatar tempat di pantai Pandan Sigegek, desa Sorobayan, Bantul. Penduduknya yang masih sangat kental mengaitkan dunia nyata dengan dunia gaib, dapat dirasakan dengan penuturan Tan yang khas dan magis. Dalam kata lain, penduduk desa Sigegek masih percaya terhadap tahyul-tahyul yang terlanjur diterapkan oleh nenek moyang mereka.Dalam makalah ini akan dibahas mengenai unsur intrinsic yang dikemukakan oleh Robert Stanton. Pada setiap babnya, Tan menggunakan sudut pandang yang berbeda-beda. Tak lepas dari itu semua, akan tetap dibahas mengenai unsur-unsur intrinsik menurut Robert Stanton.


BAB 11Teori Robert Stanton
Prosa dalam pengertian kesastraan juga disebut fiksi (fiction), yang berarti cerita rekaan atai khayalan. Prosa merupakan karya naratif yang isinya tidak menyarankan kepada kebenaran sejarah. Secara haris besar, prosa fiksi dibagi menjadi dua, yaitu cerpen dan novel.Cerpen atau cerita pendek merupakan prosa yang cara penyampaian permaslahannya lebih pendek dibandingkan dengan novel.cerpen hanya mempunyai efek tunggal, karakter, alur, dan latar yang terbatas, tidak beragam, dan tidak kompleks. Sehingga dalam cerpen tidak muncul degrasi yang sering terjadi pada penyampaian di novel. Degrasi sendiri berarti peristiwa kecil yang terjadi pada cerita, namun tidak mempunyai pengaruh besar terhadap keruntutan cerita.Sedangkan novel adalah karangan prosa yang memiliki alur kompleks, karakter yang banyak, tema dan permasalahan yang luas, serta latar yang beragam. Karena itulah dalam novel dimungkinkan banyak sekali degrasi-degrasi yang muncul.Dalam pembuatan suatu karangan prosa, terdapat unsur pembangun yang menjadi pegangan penting bagi seorang penulis. Prosa fiksi terdiri atas unsur bentuk dan isi. Unsur bentuk adalah cara yang digunakan pengarang untuk menyampaikan isi. Unsur isi yaitu sesuatu yang disampaikan melalui bentuk tertentu.Menurut Robert Stanton (1965), ia membedakan unsur pembangun prosa fiksi menjadi dua bagian. Unsur pembangun yang pertama fakta cerita, yang merupakan hal-hal yang diceritakan didalam prosa fiksi yang meliputi unsur alur, tokoh, dan latar. Sedangkan unsur pembangun yang kedua, sarana cerita, merupakan hal yang digunakan pengarang untuk memilih detail-detail cerita yang meliputi unsur judul, sudut pandang, dan gaya bahasa atau gaya penceritaan.a. Gaya bahasa, ialah cara pengungkapan seorang pengarang yang khas. Dapat dilihat melalui bagaimana cara penyampaian pengarang terhadap penjelasan yang dipaparkan dalam cerita.b. Tokoh, yaitu individu rekaan yang mengalami serangkaian persitiwa. Tokoh prosa fiksi dibagi menjadi dua, yaitu tokoh sentral atau tokoh utama, dan tokoh pariferal atau tokoh tambahan.c. Latar, merupakan lukisan peristiwa yang dialami tokoh. Latar bisa dibedakan menjadi tiga macam, latar waktu, tempat, dan suasana.d. Sudut Pandang, adalah cara pengarang menempatkan dirinya dalam sebuah cerita. Ada tiga sudut pandang yang dapat digunakan pengarang, yaitu sudut pandang orang pertama, sudut pandang orang kedua, dan sudut pandang orang ketiga.e. Alur, merupakan peristiwa beruntun yang mempunyai hubungan sebab akibat sehingga cerita merupakan keseluruhan yang padu, bulat, dan utuh. Untuk memperoleh keutuhan cerita, alur biasanya terdiri dari tiga tahap, tahap awal, tengah, akhir.
 

BAB IIISinopsis Rumah Maya
Kepercayaan masyarakat pantai Pandan Sigegek dengan hal-hal mistis yang berhubungan masih sangat kentara. Seperti yang ada pada diri Pandu, lelaki yang semasa hidupnya menjadi abdi penguasa pantai Pandan Sigegek ini rela melakukan apa saja demi menjadi abdi yang setia untuk Kanjeng Ibu.Suatu hari Pandu menikah dengan Kunti. Pandu dan Kunti, akhirnya memiliki anak kembar bernama Yudhis dan Saski berkat bantuan Kanjeng Ibu. Namun Pandu dan Kunti harus merelakan Yudhis ikut bersama Kanjeng Ibu. Tanpa bisa menolak, akhirnya Yudhis diasuh oleh dua perempuan utusan Kanjeng Ibu yang semuanya berpakaian serba hijau. Kanjeng Ibu ingin, kelak Yudhis dan Saski menjadi suami istri dan melanjutkan garis keturunan Pandu agar dapat terus menjadi abdi Kanjeng Ibu. Setelah Yudhis dan Saski dewasa, Pandu dan Kunti berniat mempertemukan mereka berdua. Namun sebelum keinginan Pandu mengajak Saski bertemu dengan Yudhis yang tinggal di sebuah rumah tepi pantai Pandan Sigegek, ia lebih dulu meninggal karena kecelakaan. Karena itulah Kunti harus sendirian mengantar Saski bertemu Yudhis.Suli dan Randi, teman Saski ikut dalam perjalanan. Kunti, Saski, Suli, dan Randi menginap di rumah Yudhis yang serba putih. Didalam rumah tersebut, semua keinginan mereka terpenuhi, sehingga mereka semua lupa akan kehidupan luar. Ternyata rumah yang menyediakan semua keinginan itu menyekap mereka selamanya. Keinginan Yudhis untuk menikah dengan Saski agar dapat terbebas dari belenggu Kanjeng Ibu, akhirnya batal karena kelicikan Kanjeng Ibu yang tak mau kehilangan abdi setia beserta keturunannya.Akhirnya, Kunti, Yudhis, Saski, dan Suli terjebak di rumah putih yang ternyata hanya sebuah rumah maya, ilusi dari Kanjeng Ibu. sedangkan Randi, tewas diburu utusan Kanjeng Ibu.
BAB IVAnalis Novel Rumah Maya
A.    Gaya Penceritaan atau Gaya BahasaTerlepas dari bagaimana dan mengapa Novel Rumah Maya ini terlahir, novel adalah suatu karya sastra yang sangat menarik untuk dibaca, karena isinya yang begitu komplit dengan konflik yang lebih banyak dibanding dengan cerpen. Seperti pada novel Rumah Maya, Tan dapat menceritakan suasana mistis yang menjadi gaya khasnya di dalam novel ini. Gaya penceritaannya begitu menarik perhatian pembaca. Kesan mistis dari setiap katanya seperti menimbulkan daya tarik magis bagi pembaca, sampai benda matipun menjadi seperti hidup dan memiliki kekuatan magis. Seperti pada kutipan percakapan Pandu dengan Kanjeng Ibu yang sengaja tidak di deskripsikan wujud Kanjeng Ibu oleh Tan, berikut :Pandu berlari menuju pantai, menepuk airnya sambil berkata, “Permisi, Kanjeng Ibu, maafkan saya, saya baru bisa datang kemari siang ini.”. Laut berteriak kecil menyambut kedatangan Pandu, seakan memberi sambutan atas kehadirannya. Sebuah gelombang kecil, dengan nakal menerpa tubuh Pandu. Kuyup. Cepat-cepat angin datang mengeringkan pakaian Pandu.“Akhir-akhir ini begitu banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan. Saya merasa jenuh dan bosan dengan semua rutinitas yang harus saya jalani tiap hari. Tapi ya bagaimana lagi, saya kan cuma abdi. Jadi ya harus melaksanakan perintah tanpa Tanya dan sesegera mungkin menyelesaikannya. Kanjeng Ibu mau memaafkan saya, bukan. Laut berteriak kecil mendengar kata-kata Pandu. Buih-buih putih menepi kepantai, menanggapi perkataan Pandu. … (RM, 26-27)Kesan mistis yang ditangkap pembaca ialah jawaban atas pertanyaan Pandu kepada Kanjeng Ibu yang diwakilkan oleh laut. Bukan jawaban seperti pada umumnya yang ditangkap manusia, melainkan jawaban dari benda mati, laut, yang seolah-olah mengerti pertanyaan Pandu. Melalui ombak, air, buih-buih putih, angin, dan yang lain, Pandu serasa berbicara langsung kepada Kanjeng Ibu yang sebenarnya hanya bisa dilihat nyata oleh Pandu saja. Sedangkan orang awam, tidak bisa melihat Kanjeng Ibu yang berwujud maya tersebut.Dalam hal gaya penceritaan, selain Tan mampu menciptakan kesan mistis melalui kata-kata yang ia tuangkan untuk menggambarkan situasi yang memang didominasi oleh kesan magis, ia juga sering menyuguhkan kalimat dalam bentuk seperti puisi, namun tetap menyampaikan maksud dan daya magis yang tetap melekat pada kalimat tersebut. Seperti kutipan dibawah ini, saat prosesi pemakaman Pndu digelar.Prosesi pemakaman.Hujan menyerbu.Mengalahkan kerontang.Mega-mega menutup matahari.Awan menghadang.Semesta kelam.Guntur menghantar berita duka.Malaikat kematian berpesta pora.Tarian penyambutan dilakukan.Menyongsong jiwa baru.Masuk kedalam kerajaan-kerajaan.Kepunyaan.Sang maut. (RM, 123)
Gaya penceritaan puitis Tan seperti pada kutipan diatas membuat pembaca lebih mudah dan lebih cepat memahami suasana yang sedang terjadi pada saat pemakaman itu berlangsung, sehingga pembaca terhanyut seperti suasana yang digambarkan. Tenang, dengan awan mendung dan petir.B.          Tokoh dan PenokohanUntuk mengetahui watak dari tiap-tiap tokoh, Tan menggambarkan secara tepat dan jelas bagaimana wujud dan penokohan yang ada didalam cerita Rumah Maya.  Entah melalui kalimat langsung maupun kalimat tak langsung. Rangkaian kata-katanya mudah dipahami oleh pembaca. Sehingga dengan sigap, pembaca dapat menyimpulkan bagaimana watak setiap tokoh yang ada didalam novel Rumah Maya. Setiap pendiskripsian tokohnya, Tan tidak melepaskan unsur magis yang menjadi dasar dari novel ini.  Dalam novel ini tokoh utamanya adalah Saski, sedangkan Pandu, Kunti, Yudhis, Suli, dan Randi menjadi tokoh tambahan.Seperti pada kutipan Pandu berikut ini, saat Kunti menyadari bahwa keluarga mereka telah banyak mendapatkan kenikmatan duniawi dari Kanjeng Ibu.“Apa maksudmu, Kunti? Apa yang kamu katakana, ha? Kamu menganggap Kanjeng Ibu berpamrih kepada kita? Kamu masih belum bisa menerima Kanjeng Ibu dengan tulus rupanya! Sehingga begitu buruknya kamu menilai Kanjeng Ibu. Apa belum cukup yang Kanjeng Ibu berikan kepada kita Selma ini? Belum cukupkah?”Kalimat Pandu diatas membuktikan bahwa sifat Pandu yang terlalu mempercayai hal-hal mistis menjadikannya gelap mata. Ia hanya memikirkan kenikmatan duniawi yang telah diberikan Kanjeng Ibu kepada keluarganya, sedangkan ia tak memikirkan apa akibatnya bagi keluarganya kelak. Ia percaya bahwa Kanjeng Ibu tidak akan meminta imbalan.Berbeda dengan Kunti. Dari kalimat Pandu diatas, dapat juga ditangkap bahwa Kunti mempunyai sifat yang sangat perhatian akan masa depan keluarganya. Ia tidak mau jika keluarganya terus bergantung hidup kepada Kanjeng Ibu, dan kelak, Kanjeng Ibu akan menagih imbalan yang tidak disangka-sangka. Kunti bersikap tegar saat Pandu selalu menyuruhnya untuk percaya pada Kanjeng Ibu.Sedangkan watak Saski, ia gadis yang keras kepala, terbukti saat ia marah kepada Kunti karena ia menyembunyiikan kematian Pandu. Selain itu, Saski begitu tidak rela menerima kenyataan bahwa ayah yang sudah lama ia tunggu kedatangannya, malah datang dengan tubuh yang sudah tak bernyawa. Dapat dilihat dalam kutipan langsung berikut :“Enggak!!! Enggak mungkin! Saski nggak mau melihat, Bunda. Saski mau bertemu Ayah. Enggak mau, yang didalam peti itu bukan Ayah, bukan. Pasti orang lain! pasti bukan! Bukan! Ayolah, Bunda. Bunda jangan mau dipermainkan. Ayah nggak mungkin meninggalkan kita begitu saja. Kita telah menyiapkan pesta untuk Ayah, bukan? Ini pesta untuk Ayah! Saski nggak mau, enggak! Ayaahh!”(RM, 120)Pada saat itu memang Saski belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dan sehari setelah pemakaman Pandu, Kunti mengajak Saski kembali ke Sigegek untuk dipertemukan dengan jodohnya, Yudhis, agar mereka bertiga dapat bebas dari jahatnya Kanjeng Ibu.Meskipun Tan tidak mendeskripsikan wujud Kanjeng Ibu secara fisik, namun Tan tetap dapat memberi gambaran akan sifat Kanjeng Ibu. Kanjeng Ibu tidak mau kehilangan abdinya yang setia, yaitu Pandu, Kunti, Yudhis, dan Saski, sehingga beliau menjebak mereka semua dirumah Maya untuk menjadi abdinya selamanya.“…Tidak, Kanjeng Ibu. Aku tidak mau! Aku mau keluar bersama pengantinku. Aku tidak mau seperti Ayah, yang akhirnya harus kembali kesini. Kanjeng Ibu memang licik, menggunakan Ayah untuk mempermudah menambah jumlah tawanan. Memaksa mereka meninggalkanku disini, supaya mereka kembali. Kanjeng Ibu licik, jahat, kejam!”(RM, 263)Kelicikan Kanjeng Ibu yang sengaja menahan Yudhis dari tangan Pandu dan Kunti, agar kelak, mereka kembali. Ternyata Kanjeng Ibu telah merencanakan semuanya, dan ketika mereka semua berkumul di rumah maya itu, Kanjeng Ibu menawan mereka, sehingga mereka tidak bisa kembali kedunia nyata. Dan akan menjadi abdinya selamanya.Berdasarkan cara menampilkan tokoh dalam cerita, di novel ini semua tokoh datar/sederhana/pipih, yang berarti wataknya tidak berkembang. Dari awal cerita hingga akhir, Saski, Pandu, Kunti, Yudhis dan yang lain, berwatak tetap, tidak berkembang maupun berubah hingga cerita selesai.C.    LatarLatar adalah lingkungan yang memayungi sebuah peristiwa (stanton. 2007: 35).1.      Latar TempatSeperti yang dikemukakan di muka, latar terbagi atas tiga macam. Yaitu latar tempat, latar waktu dan latar suasana. Dalam novel Rumah Maya ini, Tan berusaha menampilkan sedikit latar tempat, sehingga pembaca tidak terlalu sulit untuk mengingat dimana saja tokoh-tokoh berada. Namun pusat dari latar tokoh Rumah Maya berada di pantai Pandan Sigegek, rumah putih, dan mercusuar.Pendiskripsian Tan tentang letak pantai Pandan Sigegek terlihat jelas pada kutipan berikut :Pandan Sigegek merupakan salah satu pantai di sepanjang Selatan Laut Pulau Jawa. Letaknya di Desa Soroboyan, Bantul. Dari Pandan Sigegek, jika kita terus menelusuri pantai kearah Timur, maka kita akan sampai di Pantai Samas, Parangkusumo, dan Paangtritis. Jika kita bawa kaki kearah Barat, maka kita akan masuk wilayah Pantai Pandan Simo. Pantai-pantai ini merupakan pantai yang memiliki daya magis kuat bagi masyarakat Ngayogyakarta Hadiningrat…(RM, 25)Tan juga mendiskripsikan dengan rapi keadaan rumah keluarga Pandu yang berada di tepi pantai, melalui kalimat tak langsung dari Saski. Seperti yang ada pada kutipan berikut :Mercusuar menyambut kehadiran kami. Berdiri kokoh disamping sebuah rumah yang terlihat begitu cantik. Rumah putih dengan pagar putih, senada dengan warna mercusuar yang menjadi temannya. Beranda depannya dipenuhi tanm-tanaman hijau dengan bunga-bunga berwarna-warni, tertata apik dalam pot-pot besar. ... (RM, 33)Dengan gambaran Tan, kita bisa membayangkan betapa cantik dan indahnya rumah tersebut.2.      Latar WaktuSedangkan latar waktu, terlihat pada kutipan-kutipan berikut :Hari-hari terus berganti dan lelaki itu tidak menunjukkan perubahan sedikitpun.Setiap hari lelaki itu pasti terlihat duduk terpekur…Suatu pagi dihari yang baru… (RM, 10)Dalam latar waktu di Rumah Maya, Tan tidak banyak menggunakan kalimat untuk langsung menunjukkan waktu. Tan lebih memilih memainkan alur yang meloncat-loncat untuk menandakan pergantian waktu.3.      Latar SuasanaTan dalam novel Rumah Maya-nya, banyak mengungkapkan latar suasana sebagai penjelas cerita. Kelihaian seorang Tan dalam mendeskripsikan latar tempat, waktu, maupun suasana, membuat pembaca seolah-olah merasa dan berada dalam keadaan yang diceritakan olehnya. Pembaca seperti tersedot kedalam pusaran arus ceritanya. Tan begitu pandai menggunakan benda mati sebagai penjelas dalam latar suasananya. Seperti pada kutipan sebagai berikut :Ombak pantai begitu tenang siang itu. Ombak yang biasanya berlarian saling dahului menuju pantai, berjalan satu-satu tanpa suara yang memekakan telinga. Hampir tidak terdengar ramah sapa angin kepada ombak ataupun gugusan daun pohon-pohon pandan yang banyak terjajar disepanjang tepi pantai. Rumput grinting berdiam diri, seperti enggan berlari. Mengabaikan angin yang dengan genit menyentuhnya.Ombak, air, pohon, rumput, adalah benda mati yang dijadikan seolah-olah bergerak seperti manusia oleh Tan. Bisa disebut ia menggunakan majas personifikasi yang digunakan Tan dalam menyempurnakan penjelasannya sehingga pembaca akan merasa bahwa keadaan disekitar pantai benar-benar hidup, meskipun hanya ada benda mati disekitar-nya.Selain Tan pandai membuat benda mati seolah-olah bernyawa, ia juga menyampaikan suasana khidmat dan suci yang menjadi topik utama dalam novel Rumah Maya ini. Suasana khidmat dan suci seperti menjadi dasar dari segala masalah yang menyangkut dengan hal-hal mistis. Khusunya masalah yang berhubungan dengan Kanjeng Ibu. Seperti saat Pandu dan Kunti melakukan upacara khidmat untuk melakukan perjanjian dengan Kanjeng Ibu.Gulungan ombak meninggiLangit biru menghitamBurung-burung berhenti bernyanyiTak berani sekedar kepakkan sayapnyaHanya ombak lantang bersuaraMenyambut tiga manusiaMenerima bunga-bungaMenikmati aroma dupaDalam sunyi alam menariYang musnah kembali adaFana dikalahkan’keabadian munculSebagai pemenang (RM, 193)Dalam Rumah Maya ini banyak suasana yang dapat pembaca rasakan. Dengan rangkaian kalimat yang tepat, ditambah kata-kata yang puitis, pembaca menyelami suasana seperti yang digambarkan Tan.

D. Sudut PandangSudut pandang termasuk unsur intrinsik yang penting dalam sebuah cerita. Karena dengan adanya sudut pandang, pengarang sekaligus pembaca dapat memposisikan dirinya sebagai apa didalam cerita tersebut. Ada tiga macam sudut pandang. Sudut pandang orang pertama yang biasa ditandai dengan kata ‘aku’, sudut pandang orang kedua yang menggunkan kata ‘kau’, dan sudut pandang orang ketiga yang ditandai dengan penyebutan ‘nama tokoh’.Perbedaan sudut pandang seharusnya menimbulkan perbedaan “hasil pandang” penutur. Pada sudut pandang orang pertama hanya tahu isi pikiran si ‘aku’, penutur sudut pandang orang ketiga tahu segala hal. Sedangkan pada sudut pandang kedua, penutur diizinkan untuk tahu segala hal, kecuali isi pikiran si ‘kau’.Dalam Rumah Maya, Tan, menggunakan sudut pandang orang pertama dan ketiga. Namun ia lebih banyak menggunakan sudut pandang orang pertama yang selalu bersubjek-kan Saski. Sedangkan pada sudut pandang orang kedua, Tan menggunakan fokus tokoh yang berbeda-beda. Misalnya seperti pada bab pertama dan bab ketiga :Bab pertama : … Setiap hari lelaki itu pasti terlihat duduk terpekur di samping mercusuar. Atau, kadang-kala dia akan berjalan memutari mercusuar itu berkali-kali, kepalanya melongok-longok, dan bola matanya jelalatan membidik ke segala sudut kosong yang ada di seluruh pantai. Sakan-akan sedang mencari sesuatu.(RM,9)Bab ketiga : …Laut berteriak kecil mendengar kata-kata Pandu. Buih-buih putih menepi ke pantai, menanggapi setiap perkataan yang keluar dari mulut Pandu. Pandu duduk terpekur memandang lautan yang luas. Laut selalu bisa menyejukkan hatinya. Mengusir resahnya dan membuat dia selalu aman berada dalam ketidakpastia …(RM, 27)Jika dilihat dari kutipan diatas, bisa dipastikan dalam bab pertama Tan menggunakan sudut pandang orang ketiga dengan fokus tokoh ‘lelaki itu’, sedangkan pada bab ketiga, Tan menggunakan sudut pandang yang sama namun dengan fokus tokoh yang berbeda, yaitu ‘Pandu’.Penerapan Tan tentang sudut pandang yang berubah-ubah tersebut bertujuan agar pambaca dapat lebih merasakan situasi maupun batin semua tokoh. Sehingga pembaca tidak hanya memahami satu tokoh utama pada bab tertentu, namun juga pembaca dapat lebih menyeluruh memahami kondisi semua tokoh melalui sudut pandang tersebut.

E. AlurMenurut Stanton, alur adalah cerita yang berisi urutan kejadian, yang dihubungkan secara sebab-akibat, pristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan peristiwa yang lain. Dalam rangkaian peristiwa tersebut terdapat tahapan-tahapan cerita yang saling berhubungan. Tahapan alur cerita pada umumnya adalah sebagai berikut :Tahap pengenalan : pengenalan tokoh dalam cerita Tahap pertentangan / eksposisi : pertentangan konflik yang terjadi antar tokoh Tahap penanjakan : konflik mulai menaik Tahap klimaks : konflik berada di puncaknya Tahap penyelesaian : terselesainya konflik Namun pada novel Rumah Maya, sesuai alur campuran yang diterapkan oleh Tan, tahapan alur ceritanya ada enam, yaitu :Tahap penyelesaian Tahap perkenalan Tahap pertentangan Tahap penanjakan Klimaks Tahap penyelesaian
Kelihaian Tan dalam novel Rumah Maya ini tak hanya ada di gaya penceritaan dan sudut pandang saja, tapi juga alur. Tan mempergunakan alur campuran, alur yang menceritakan banyak tokoh utama, sehingga cerita yang satu belum selesai, kembali ke awal untuk menceritakan tokoh lain. Tan memainkan alur untuk pengganti keterangan waktu. Tidak seperti novel pada umumnya yang jika ingin melihat ke masa lalu akan terjadi retrospeksi pada saat itu juga. Dalam novel ini, Tan tidak memberikan kejadian retrospeksi pada tokoh, ia lebih memilih mengganti bab sekaligus mengganti alur, entah ke masa lalu, atau masa sekarang.
1. Tahap penyelesaianPada bab pertama, Tan memulai dari tahap penyelesaian, dimana konflik atau masalah sudah selesai. Pembaca masih belum paham apa yang akan disampaikan Tan jika hanya membaca bab pertama. Seperti kutipan berikut :Genggaman tangan mayat itu terbuka, menguraikan gumpalan kertas yang sudah sangat usang… tetua berharap, dia akan memperoleh jawaban atas petanyaan yang beberapa hari ini menghantuinya. Ke mana selama ini lelaki itu menghilang? Apa yang terjadi padanya? (RM, 14)Karena pada tahap penyelesaian di bab pertama ini belum seutuhnya menjelaskan apa yang terjadi, Tan menambahkan tahap penyelesaian di akhir cerita. Sehingga dalam tahapan alur ada dua tahap penyelesaian. Yaitu saat awal cerita dan saat akhir cerita. Tan berniat untuk memulai dan mengakhiri cerita dengan satu kejadian, yakni saat kepalan tangan mayat lelaki gila terbuka dan menemukan secarik kertas ditangannya. Dari surat itulah Tetua mengetahui segala yang terjadi kepada lelaki gila dan yang lainnya.
2. Tahap PengenalanPada bab kedua dan selanjutnya, Tan memundurkan waktu jauh sebelum kejadian pada bab pertama. Dalam memperkenalkan tokoh, Tan mendeskripsikan tokoh-tokohnya dalam bab yang berbeda-beda. Pada bab kedua, Tan memperkenalkan Saski, Randi, Suli dan Kunti.Aku, Randi, Suli, dan Bunda telah siap memulai liburan. Segala sesuatu telah dipersiapkan, pasti akan menjadi liburan yang sempurna. (RM, 15)Bab ketiga , Tan memperkenalkan Pandu dan Kanjeng Ibu.Pandu berlari menuju pantai, menepuk airnya sambil berkata, “Permisi Kanjeng Ibu, maafkan saya, saya baru bisa datang siang ini.” (RM, 26)Bab ketiga, Tan memperkenalkan Yudhis sebagai pemilik rumah pantai.“Aku Yudhis. Yudhistira Putra Pandu lengkapnya. Aku tuan rumah disini.” Tiba-tiba pemuda itu keluar dari pintu utama. (RM, 45)
3. Tahap pertentanganTerjadi ketika kematian Pandu yang disembunyikan Kunti dari Saski. Kemarahan Saski akan sikap Kunti membuat Saski mendiamkan Kunti. Tahap pertentangan ini terjadi pada bab tujuh hingga enambelas, dengan masih disisipi loncatan alur pada bab dua belas dan bab lima belas yang tidak menceritakan tentang pertentangan dan situasi Saski atas kematian Pandu. Kemarahan Saski terlihat pada ucapan Saski yang ketus pada Kunti.“Kejutan apalagi, Bunda? Kejutan terakhir yang Bunda berikan kepada Saski membuat Saski kehilangan kepercayaan pada Bunda. Saski tidak mua. Perasaan sayang Saski pada Bunda juga hilang.”
4.      Tahap PenanjakanSedangkan penanjakan konflik sedikit terlihat pada bab dua puluh hingga dua puluh dua. Saat kedua perempuan berbaju hijau memergoki Saski dan Suli sedang bermesraan di kamar, dan itu merupakan kesalahan besar yang berakibat fatal bagi hidup mereka. Sejak itu, Saski merasa ada sesuatu yang mengganjal setiap hari. Setiap bangun dari tidurnya, Saski merasa ada ingatan yang hilang dari dirinya. Saski sama sekali lupa dengan keberadaan Randi. Dan pada bab dua puluh tiga, penanjakan konflik benar-benar terjadi, ketika Kunti akan membongkar rahasia tentang Kanjeng Ibu yang mengendalikan hidup keluarga mereka.“Mereka tahu, Saski! Mereka tahu aku akan buka mulut. Lihat! Mereka datang. Mereka hendak mencegah aku bicara!”Dalam kutipan Kunti diatas, terlihat bahwa penanjakan konflik terjadi karena Kanjeng Ibu marah kepada Kunti yang akan membocorkan rahasia sebelum waktunya. Selain itu, Kanjeng Ibu juga marah karena Pandu dan Kunti tidak bisa menjaga kesucian Saski, sehingga Kanjeng Ibu akan membunuh Kunti.
5. KlimaksDalam Rumah Maya, klimaks terjadi saat bab ke dua puluh enam, saat Saski menemukan surat dari Kunti. Namun sebelum membacanya, Saski diseret Yudhis menuju patai, sehingga surat itu terjatuh dikamar Saski. Lalu, tabirpun terkuak melalui perkataan Yudhis yang terlampau emosi. Ia meminta agar Kanjeng Ibu mempercepat pernikahannya dengan Saski agar lekas keluar dari dunia maya ini. Namun Kanjeng Ibu mengingkari janjinya dan mengurung mereka semua di rumah maya itu.
6. Tahap penyelesaianSebenarnya dalam tahap penyelesaian sudah setengahnya disinggung oleh Tan diawal novel, tepatnya pada bab pertama. Namun pembaca tak bisa langsung mengerti apa yang dimaksudkan Tan, sehingga ia menambahkan penyelesaian di akhir cerita, pada bab dua puluh tujuh dan bab dua puluh delapan. Tan pintar sakali menyembunyikan jati diri lelaki gila yang hanya muncul pada bab pertama. Ia berhasil membuat pembaca penasaran siapa sebenarnya lelaki gila itu. Dan di bab akhir, bab dua puluh delapan, Tan mengungkapkan jati diri lelaki gila itu, yang ternyata adalah Randi.Si tetua bangkit, pergi ke jalan-jalan desa. Di tangannya terdapat bunga tiga warna. Langkahnya pasti menuju sebuah makam desa. Pada salah satu nisan dia berhenti. Ditaburkannya bunga yang dibawanya di atas makam yang masih baru itu.Randi Wijaya KusumaLahir…Mati… (RM, 283)Tahap penyelesaian baru dimengerti pembaca setelah membaca akhir dari tulisan Tan yang menerangkan bahwa lelaki gila itu adalah Randi, teman Saski yang berhasil lolos. Ia bersembunyi lama di atas mercusuar, satu-satunya tempat yang tidak bisa dijangkau pengikut Kanjeng Ibu. Itu yang ia ketahui setelah menemukan surat Kunti dari kamar Saski.Dan surat itulah yang selalu berada digenggaman tangannya hingga akhir hayatnya. Dalam akhir tulisannya, Tan tidak menggambarkan atau menjelaskan bagaimana kehidupan tokoh-tokoh Rumah Maya. Apakah mereka dibunuh Kanjeng Ibu, atau mereka masih terkungkung di rumah maya itu.



Bab VSimpulan
Dalam novel Rumah Maya karya Tan Swat San, terdapat unsur mistis dan magis yang menjadi dasar dari novel tersebut. Terlihat dari hubungan tokoh-tokohnya dengan makhluk lain yang disebut, Kanjeng Ibu, ratu penguasa laut selatan.Kelihaian seorang Tan dalam menuangkan gagasannya untuk memperindah cerita sangat terlihat pada gaya penceritaan yang puitis dan terkesan menghayati tokoh. Watak tokoh juga tergambar jelas, entah langsung maupun tidak langsung. Latar tempat yang digunakan Tan kebanyakan berada di pantai Pandan Sigegek, rumah Saski dan rumah pantai. Latar suasana banyak yang tergambarkan melalui penjelasan Tan yang puitis. Namun Tan tidak banyak menggunakan kalimat sebagai penunjuk pergantian waktu, ia lebih dominan mengganti alur jika ingin mengganti waktu ke masa lalu atau masa sekarang.Sudut pandang yang digunakan Tan memang seperti sudut pandang pada umumnya, sudut pandang pertama, dan ketiga. Namun dengan sudut pandang yang berbeda pada setiap bab, pembaca dapat memahami situasi dan kondisi semua tokoh. Dilengkapi dengan alur yang meloncat-loncat karena alur ceritanya dibuat sesuai keinginan Tan sendiri, sehingga pembaca dapat merasa penasaran ketika membaca novel Rumah Maya yang syarat akan kesan misteri dan mistis.



DAFTAR PUSTAKA
http://guru-umarbakri.blogspot.com/
http://endless722.wordpress.com/            
Ratna, Nyoman Kutha. 2009. beberapa Teori Sastra, Metode Kritik dan Penerapannya. Pustaka Pelajar : Yogyakarta.

No comments:

Post a Comment

thanks for reading (^o^)