Thursday, July 14, 2011

Andai Saja...

Andai saja aku bisa mengatakan semua yang ada dipikiranku sedetik lebih cepat tanpa malu. Andai saja aku bisa membicarakan hal yang aku suka maupun hal yang tak kusuka tanpa malu. Andai saja semua yang aku pikirkan tentangmu dapat terucap dengan lancar dari mulutku yang ini, tanpa malu.
ANDAI SAJA…
###

Aku menyesal mengapa mengikuti nasihatmu untuk bergabung dalam kelompok bedah katak, sehingga aku harus mencari katak di danau belakang sekolah. Aku tak pernah berharap mendengar percakapanmu dengan Mario, sahabatmu. Aku juga tak pernah berharap ada aku dalam percakapan kalian.“Dion, lo tuh bodoh apa telmi, sih? Cewek secantik Clara rela lo tolak demi Dian yang nggak tahu apakah dia juga cinta mati sama elo! Lo gila, man!” Mario melemparkan katak kearahmu.
“Habis bagaimana lagi, sob, gue cinta mati sama si Dian. Nggak peduli apapun caranya, gue harus dapet hati bekunya.” kau mengacungkan jaring kecil keatas, sehingga air yang tersisa di jaring, terciprat kearahmu.
Dengan cermat dan tepat, otakku merekam kejadian konyol itu. Konyol bagi teman-teman yang lain, termasuk Mario yang melemparimu dua katak sekaligus tepat ke mukamu. Namun kekonyolan itu menjadi obat mujarab untuk menghalau rinduku padamu.
Yaah…bisa dibilang saat ini aku juga sedang merindukanmu. Padahal, baru satu jam yang lalu kita berbalas pesan. Apa kau sadar, inbox-ku penuh dengan semua pesanmu, dan sent item-ku juga penuh jawaban dariku untukmu. Hihi… apa kau juga sadar betapa penuhnya pesan di ponselmu?
Jika kau tak percaya, kau bisa mengecek ponselku. Pesan pertama yang kau kirimkan minggu lalu, masih ada di baris akhir. Seperti ini pesan pertamamu.

‘Malam Dian, gue Dion. Save nomor gue, ya?
Nomor ini yang tau cuma elo.
Dan gue minta,lo nggak boleh kasih nomor gue ke siapapun, termasuk Mario.
Oke?’
Kau salah. Aku tak perlu menyimpan nomormu di kontak. Aku hanya butuh sepuluh detik untuk menghafal duabelas digit nomor spesialmu. Selain pesan basa-basi yang kau kirim, kau juga sering mengirim puisi, atau kata-kata manis pengantar tidur. Seperti ini,
‘Jangan pernah lelah untuk tersenyum,
Karena kau tak pernah tahu siapa yang akan selalu
Menunggu senyumanmu.’
Semua pesan darimu begitu terang-terangan mewakili isi hatimu. Bukannya aku naïf, sok, jaim, atau apa sejenisnya, tapi aku tak tahu apa yang membuatku tak bebas berbicara denganmu. Membalas pertanyaanmu secara langsung tanpa lewat pesan, belum pernah kulakukan. Apalagi menyapamu.
Satu tahun telah berlalu. Namun sepatah katapun, aku belum menyapamu. Bahkan ujung matakupun tak bisa melihatmu kala kau juga menatapku lekat. Aku benci pandanganmu yang membuatku merasa bersalah telah menelantarkanmu.
Benar kata Mario, kau bodoh! Mengapa kau tak lari saja dariku, mengapa kau tak berpaling pada Clara yang setia mencintaimu seperti aku mencintaimu. Eh, tapi tentunya lebih besar cintaku padamu. Mengapa juga kau selalu menyapaku? Mengapa kau selalu rela mengantarku pulang dengan desak-desakkan naik metro mini?
Dan yang paling membuatku jatuh cinta padamu, mengapa kau selalu ada, disaat teman-teman yang lain menghina kelemahanku? Kekurangan yang bahkan membuatku ilfil dengan diriku sendiri. Bahkan kau rela beradu fisik dengan Mario karena ia menuduhku menggunakan ilmu pelet untuk memikatmu.
“Lo sinting, Yon! Lo lebih milih cewek norak kayak Dian daripada gue, sahabat lo!”
“Lo emang sahabat gue, sahabat terbaik malah. Tapi gue lebih milih Dian, daripada elo. Sorry, Yo!” ucapmu lembut pada Mario seusai kau menjungkalkan tubuhnya kedepan kelas.
Karena pertengkaran itulah, aku semakin bingung dengan sikapmu yang tak mau menyerah. Harus dengan cara apalagi melarikanku dari perhatianmu? Dari mulai ijin sakit dua hari, hingga secepat kilat menghilang dari pandanganmu, tak sekalipun membuatmu jengah menanyakan kabarku. Meskipun lewat pesan. Dan... bodohnya aku, kenapa harus aku balas?!
Pesan. Ya, pesan! Mungkin dengan tak membalas pesanmu lagi, kau akan menjauhiku, menganggapku sudah tak peduli denganmu. Meski aku akan merasa kehilangan perhatianmu. Tapi apapun akan kulakukan agar kau menjauhiku. Menjauhkan kau dari kesialanku.
Selama liburan semester, aku tak pernah membalas ratusan pesanmu, tak kuangkat ratusan miscall-mu. Sebenarnya, aku bisa saja mematikan ponselku. Tapi, aku tak sepertimu yang menggunakan nomor khusus untuk ber-sms-an denganmu. Bodohnya diriku.
Liburan sisa dua minggu lagi. Aku harus memikirkan cara yang lebih ekstra agar kau menjauh dariku. Agar kau mencintai Clara, gadis cantik yang dengar-dengar memang dijodohkan oleh orang tuamu, namun gagal. Tanpa kau memberitahuku apa yang membuat perjodohanmu dengan Clara gagal, aku juga sudah mengerti. Pasti karena aku.
Rasa bersalahku semakin membuncah ketika kemarin kudengar kabar dari Via, sahabatku, bahwa kau kabur dari rumah semenjak liburan semester. Semua bodyguard keluargamu telah dikerahkan. Tak mau ketinggalan, aku juga mengirimimu pesan agar kau kembali kerumah.
Tak ada balasan darimu, kucoba menelponmu. Ini kali pertama aku meneleponmu. Namun, kau me-rejectku. Reject, itu artinya kau tahu bahwa aku menghubungimu, namun dengan sengaja kau mematikan panggilanku. Dan itu artinya, ia tahu bahwa aku peduli padanya. Dan itu sama saja dengan rencanaku menghindar darimu...gatot, alias gagal total!
Seminggu telah berlalu. Kini kau yang membuatku Pusing. Membuatku gemes menunggu balasan dari ratusan pesan yang telah kulayangkan untukmu. Aku tahu kau membaca semua pesanku. Tapi apa yang kau lakukan, kau tak membalas satu pesanpun dariku. Huft…
Tuhan, beginikah rasanya menunggu balasan dari orang yang dicintai? Apakah ini karma bagiku karena telah membiarkannya tersiksa dengan perhatiannya sendiri? Tapi apakah salah jika aku tak mau menjalin hubungan dengannya karena aku tak mau dia terluka nantinya?
Tuhan, aku rela kau tak memberiku jodoh, namun pastikan, dia mendapatkan wanita yang mencintainya lebih dari aku mencintainya. AMIN.
Messege has been sent...
Begitulah isi pesan terakhirku untukmu. Jelas sekali kau merespon pesan terakhirku itu. Dan aku senang kau membalas pesan terakhirku itu. Begini balasanmu,
Tuhan, jika kau tak menjodohkanku dengannya, jangan Kau beri aku jodoh yang lain lagi. Aku rela menjadi perjaka ting-ting jika ia bukan jodohku. AMIN :D

Ketika masuk sekolah, aku senang kau juga masuk sekolah. Dengar-dengar dari gosip yang beredar, kau menghabiskan liburan ke luar negeri tanpa memberitahu keluargamu. Aku tertawa sendiri membayangkan betapa bodohnya aku terlalu khawatir padamu, seorang anak konglongmerat, yang bisa pergi kemana saja hanya dengan menggesek kartu plastik.
“Hei, Dian! Ngelamun aja, lo! Kesambet setan cupid baru tahu rasa, lho! Haha...” Via tertawa lebar didepan mukaku.
“Ssst...” kutempelkan telunjuk ke ujung bibirku. Menandakan agar dia diam, karena Pak Kerta sudah memasukki kelas.
Bel istirahatpun berdering. Seperti biasa, kau datang ke kelasku. Kedatanganmu yang selalu dengan senyum, membuatku fresh dari jenuhnya pelajaran.
“Yuuk...udah laper, nih!” kau elus memutar perutmu itu.
“...” seperti biasa juga, aku hanya menganggukkan kepala.
Ya, sejak pertama masuk bulan lalu, kau semakin sering berada disisiku. Pagi hari kau menjemputku dengan vespamu, karena kau bilang kau tak betah naik angkot. Siang hari kau mengajakku makan di kantin, dan tak lupa juga kau mengantarku pulang dengan selamat. Kadang jika pulang lebih awal, kau mengajakku jalan-jalan.
Aku semakin heran denganmu. Mengapa kau betah sekali denganku. Padahal aku hanya tersenyum, menganggukkan kepala jika setuju, menggelengkan kepala tanda tidak setuju. Paling sering, aku hanya tertawa.
Kau mengajakku makan malam di Lesehan Racik Desa. Dan kau bertanya dengan muka serius.
“Sejujurnya, apa kau senang, setiap pergi makan, aku selalu mengajakmu ke restaurant favoritku ini?” kau bertanya agak kikuk. Seolah menjaga kalimatmu agar tak menyinggung perasaanku.
Orang buta saja bisa merasakan betapa nyamannya restaurant ini. Berada di tengah kota, tapi memiliki suasana desa yang alami. Maka dari itu, pertanyaanmu tak menyinggungku sama sekali. Justru aku yang sering menyinggungmu. Contohnya saat ini. Saat kau tanya panjang lebar seperti itu, aku hanya menjawab,
“E-e” disertai gelengan kepala.
“Okey kalo begitu. Jika kamu bersedia menjadi pacarku, aku akan mengajakmu ketempat seperti ini setiap hari...” wajahmu agak tertegun sembari melihatku. Kau lanjutkan lagi kalimat panjangmu yang belum tuntas, “...maksudku, jikalau kamu tidak menerimaku sebagai pacarmu, aku akan tetap mengajakmu ketempat seperti ini, sebagai sahabat tentunya.” Kau akhiri kalimatmu dengan senyuman.
Melihatku tersenyum, kau pun mengelus dada. Kan, sudah kubilang, aku tak mudah tersinggung. Lalu kita menyantap makanan yang baru saja datang. Nasi Pecel dan es jeruk, menu favoritmu yang kutahu sejak aku mengenalmu. Soto ayam dan es lemon tea, menu favoritku yang sudah kau pesan tanpa menanyakan padaku.
“Eh, kamu kenal Seno anak IPA nggak? Masa tadi dia masuk ruang BK dengan baju yang acakadul. Pastinya dia langsung kena semprot Bu Halia, dong! Haha...” kau menceritakan kejadian lucu lagi. Kali ini tentang Seno, kakak kelas kita yang urakan.
Setiap kita pergi, kau selalu bercerita tentang sesuatu atau seseorang yang lucu. Aku tahu kau bercerita agar tak ada kekosongan komunikasi diantara kita. Namun aku tetap merasa ada sesuatu yang mengganjal pita suaraku sehingga menyebabkan kepincangan pembicaraan diantara kita. Orang buta saja dapat merasakan keanehan dalam percakapan kita.
Dan itu terbukti ketika kita akan meninggalkan tempat nyaman itu, kedua penjaga pintu mengucapkan ‘selamat berkunjung kembali’ dengan ramah dan senyuman. Namun saat kau meninggalkanku di teras restaurant untuk mengambil vespa, mereka menggunjing kita. Eghm, lebih tepatnya, mereka menggunjingku. Sebagai manusia yang peka pendengaran –alhamdulillah– aku mendengar jelas percakapan mereka.
“Idih, masa cowok ganteng kayak Mas Dion, mau-maunya jalan sama tuh cewek norak!” kata mbak disebelah kiri.
“Bener banget, tuh! Eh, tadi waktu mereka makan, yang ngomong Mas Dion mulu! Tuh cewek norak cuma geleng ato ngangguk, doang! Dasar sok alim!” jawab mbak sebelah kanan dengan mulutnya yang compang-camping seperti dukun baca mantra.
Tanpa mendengar lanjutan gosip mereka, aku segera naik ke vespamu dan menarik jaketmu, menandakan aku ingin segera pergi. Tentu saja kau langsung mengegas vespamu dan meninggalkan asap di teras restaurant, yang membuat kedua penggosip itu terbatuk.
‘Hi, dah tidr lom?’
‘Blm. Ad pa?’
‘Uhm, Q sk m U. U muw jd pcrku?’
‘Ga tau.’
‘Kok ga tau? Cma ngmong sk ato ga aja!’
‘Bsk d sklah aj, y?’
‘Ak mau tau skrg. Plis jwb skrg.’
‘Bsk aj.’
‘Ok, bsk ak bwa mwar putih. Kalo u nerima ak, u ambil, kalo u tolak ak, u buang.’
‘Hve a nice dream.’
Kuakhiri sms-anku denganmu. Sebenarnya aku masih menunggu kau akan membalas terus menerus sampai aku menjawabmu malam ini juga. Tapi ternyata kau tidak membalasku. Aku jadi menyesal mengucapkan ‘have a nice dream’ lebih awal dari biasanya.
Lihat dong, Dian! Ini masih pukul delapan. Biasanya kalian sma-an sampai jam sepuluh malam. Dasar Dian bego! Rutukku dalam hati sambil memukul jidat.
Pagi ini tidak seperti pagi sebelumnya. Sebelum aku berangkat sekolah, aku menyempatkan mampir ke makam Ibu yang sejurus dengan jalan ke sekolah. Entah mengapa aku rindu sekali dengan Ibu. Semenjak beliau pergi dua tahun yang lalu, aku menjadi seperti ini, tidak terlalu banyak bicara, pemalu, dan penyendiri. Bahkan kata dokter... ah, sudahlah!
Kuletakkan bunga mawar putih − kesukan kami berdua − diatas makam Ibu. Kuceritakan tentangmu, tentang semua perhatian yang kau tujukan untukku. Dan mengakhiri cerita dengan meminta doa restu untuk kita. Karena hari ini, aku harus menjawab dengan suaraku sendiri. Aku janji akan menjawab bahwa aku juga cinta padamu dengan suaraku sendiri. Hihi...
Sesampainya disekolah, aku merasakan ada sesuatu yang aneh. Ambulan terparkir di tengah halaman sekolah. Seluruh guru dan siswa berkumpul mengelilingi ambulan dengan tangisan yang menderu.
Via! Dimana Via?! Aku panik mencari sahabatku itu. Aku tidak mau Via meninggalkanku. Aku tak menemukan Via di sekeliling sekolah. Aku terus mencari. Sampai kutemukan Via didalam ambulan. Ia duduk pilu menemani Mario yang berteriak histeris.
Aku bertanya-tanya siapa yang ada dibalik selimut itu. Saat Mario dan Via melihat kedatanganku, mereka bergegas keluar. Mataku bertanya pada Via apa yang terjadi. Siapa yang ada didalam mobil terkutuk itu.
Namun sebelum aku memperoleh jawaban, Via dan Mario membawaku pergi dari ambulan yang juga bersiap pergi.
“Dion, yang ada didalam situ.” Bisik Via pelan disertai isakan, sesaat setelah ambulan keluar dari gerbang sekolah.
“Dion kecelakaan motor tadi pagi. Menurut saksi mata, Dion berusaha menghindari kucing yang menyebrang. Namun na’as, ia malah terpelanting ke jalan. Dan ini ditemukan polisi di genggaman tangannya!” Mario menyerahkan setangkai mawar putih yang terbercak darah kepadaku, lalu pergi berlari.
“Ng...nggak mung...mungkin it...itu Dion! T...tadi malem Di...Dion mas...masih es... es em esan sam...sama ak...aku...! it...itu p..pas...ti b...bukan Di...Dion!!!” teriakku histeris dalam pelukan Via.
Ini adalah kali pertama aku berbicara panjang dan keras semenjak kepergian Ibu. Memang, semenjak kepergian Ibu, aku difonis dokter menderita shock berat yang mengakibatkanku gagap. Sejak saat itu, aku jarang beribicara, bahkan sudah dianggap bisu oleh sekitarku.
Via yang melihatku histeris dan terpukul, berusaha menenangkanku. Meski ia tahu, aku tak akan pernah tenang lagi. Dulu Ibu, sekarang kamu. Namun sekerasapapun aku berteriak, sekencang apapun aku meronta, seteguh apapun keyakinanku bahwa dirimu masih hidup, tetap saja tidak bisa mengubah kenyataan yang sebenarnya.
Andai saja aku bisa mengatakan semua yang ada dipikiranku sedetik lebih cepat tanpa malu. Andai saja aku bisa membicarakan hal yang aku suka maupun hal yang tak kusuka tanpa malu. Andai saja semua yang aku pikirkan tentangmu dapat terucap dengan lancar dari mulutku yang ini, tanpa malu.
ANDAI SAJA…

No comments:

Post a Comment

thanks for reading (^o^)