Thursday, July 14, 2011

Contoh Puisi Lama

MANTRAHai si jambu rakai
Sambutlah
Pekiriman putri
Runduk  di  gunung
Ledang
Embacang masak sebiji bulat
Penyikat tujuh penyikat
Pengarang tujuh pengarang
Diorak dikembang jangan
Kalau kau sambut
Dua hari jalan ketiga
Ke darat kau dapat makan
Ke laut kau dapat aku

SYAIRPada zaman dahulu kala (a)
Tersebutlah sebuah cerita (a)
Sebuah negeri yang aman sentosa (a)
Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)
GURINDAMKurang pikir kurang siasat (a)
Tentu dirimu akan tersesat (a)
Barang siapa tinggalkan sembahyang ( b )
Bagai rumah tiada bertiang ( b )
Jika suami tiada berhati lurus ( c )
Istri pun kelak menjadi kurus ( c )
PANTUNKalau ada jarum patah
Jangan dimasukkan ke dalam peti
Kalau ada kataku yang salah
Jangan dimasukan ke dalam hati
TALIBUNKalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak pun beli sampiran
Ikan panjang beli dahuluKalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanak pun cari isi
Induk semang cari dahulu
KARMINASudah gaharu cendana pulaSudah tahu masih bertanya pulaDahulu perang, sekarang besiDahulu sayang, sekarang bencI
SELOKALurus jalan ke Payakumbuh,
Kayu jati bertimbal jalan
Di mana hati tak kan rusuh,
Ibu mati bapak berjalan
DISTIKONBaju berpuput alun digulungBanyu direbus buih di bubungSelat Malaka ombaknya memecahPukul memukul belah-membelahBahtera ditepuk buritan dilandaPenjajah diantuk haluan diundaCamar terbang riuh suaraAlkamar hilang menyelam segaraArmada peringgi lari bersusunMalaka negeri hendak diruntunGalyas dan pusta tinggi dan kukuhPantas dan angkara ranggi dan angkuh( Amir Hamzah )
TERZINABAGAIMANAKadang-kadang aku benciBahkan sampai aku maki……………… diriku sendiriSeperti akuMenjadi seteru……………….diriku sendiriWaktu ituAku ……………………..Seperti seorang lain dari dirikuAku tak puasSebab itu aku menjadi buasMenjadi buas dan panas( Or. Mandank )
KuatrinNGARAI SIANOKBerat himpitan gunung SinggalangAtas daratan di bawahnyaHingga tengkah tak alang-alangNgarai lebar dengan dalangnyaBumi runtuh-runtuh jugaSeperti beradab-adab yang lepasDebumnya hirap dalam angkasaDerumnya lenyap di sawah luasDua penduduk di dalam ngaraiMencangkul lading satu-satuMenyabit di sawah bersorak soraiRamai kerja sejak dahuluBumi runtuh-runtuh juaMereka hidup bergiat terusSeperti si Anok dengan rumahnyaDiam-diam mengalir terus( Rifai Ali )
KUINTHANYA KEPADA TUANSatu-satu perasaanYang saya rasakanHanya dapat saya katakanaYang pernah merasakanSatu-satu kegelisahanYang saya rasakanHanya dapat saya kisahkanKepada TuanYang pernah di resah gelisahkanSatu-satu desiranYang saya dengarkanHanya dapat saya syairkanKepada TuanYang pernah mendengarkan desiranSatu-satu kenyataanYang saya didustakanHanya dapat saya nyatakanKepada TuanYang enggan merasakan( Or. Mandank )
SEKTETBUNDA DAN ANAKMasak jambakBuah sebuahDiperam alam di ujung dahanMerahBeuris-urisBendera masak bagi seleraLembut umbutDisantap sayapKereak pipi mengobat luasSemarak jambakDi bawah pohon terjatuh ranumLalu ibuDi pokok pohonTertarung hidup, terjauh mataPada palaTinggal sepenggalTerpercik liur di bawah lidah
SEPTINAAPI UNGGUNDiam tenang kami memandangApi unggun menyala riangMenjilat meloncat menari riangBerkilat-kilat bersinar terangNyala api nampaknya curiaHanya satu cita digapaiAlam nan tinggi, sunyi, sepi(Intojo)
STANZAPERTANYAAN ANAK KECILHai kayu-kayu dan daun-daunanMengapakah kamu bersenang-senang?Tertawa-tawa bersuka-sukaan?Oleh angin dan tenang, serang?Adakah angin tertawa dengan kami?Bercerita bagus menyenangkan kami?Aku tidakmengerti kesukaan kamu!Mengapa kamu tertawa-tawa?Hai kumbang bernyanyi-nyanyi!Apakah yang kamu nyanyi-nyanyikan?Bunga-bungaan kau penuhkan bunyi!Apakah yang kamu bunyi-bunyikan?Bungakah itu atau madukah?Apakah? Mengapakah? Bagaimanakah?Mengapakah kamu tertawa-tawa?(Mr. Dajoh
ODEMenara Saktiberkelip-kelip pelita menara
jauh ditangan segera biru
dipulau batu tempat berdirix
pemberi isyarat kapal lalu
alangkah besarx guna menara
selama kapal lalu lintas
sejahterah biduk sentosa bahtera
dalam melayani lautan lepas
HIMNEHabis kikis
Segera cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahuluKaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu


SATIREMarhaen…Kalau engkau sesungguhnya adaO… Dewata, mengapa kiranyaKami diikat dalam, dalam penjara     Biarpun kami tak berdosa
BALADAKRISTUS DI MEDAN PERANGIa menyeret diri dalam lumpur
mengutuk dan melihat langit gugur
Jenderal pemberontak segala zaman,
Kuasa mutlak terbayang di angan!Tapi langit ditinggalkan merah,
pedang patah di sisi berdarah,
Tapi mimpi selalu menghadang,
Akan sampai di ujung: Menang!Sekeliling hanya reruntuhan.
Jauh manusia serta ratapan,
Dan di hati tersimpan dalam:
Sekali 'kan dapat balas dendam!Saat bumi olehnya diadili,
dirombak dan dihanguskan,
Seperti Cartago, habis dihancurkan,
dibajak lalu tandus digarami.Tumpasnya hukum lama,
Menjelmanya hukum Baru,
Ia, yang takkan kenal ampun,
Penegak Kuasa seribu tahun!Kristus di Medan Perang, karya Situr Situmorang
SEKTET
Sepoi berhembus angin menyejuk diri
Kelana termenung merenung air
lincah bermain ditimpa sinar
Hanya sebuah bintang
kelap kemilau
tercampak di langit tidak berteman
Hatiku-hatiku
belum juga sejuk dibuai bayu
girang beriak mencontoh air
Atau laksana bintang biarpun sunyi
tetap bpetunjuk nelayan di samudera lautan ersinar berbinar-binarKehilangan Mestika, karya A. Kartahadimadja

No comments:

Post a Comment

thanks for reading (^o^)