Thursday, July 14, 2011

Deskripsi

Aku ingat tahun pertama itu aku melihatnya, Via kecil, manis. Dengan rambut bob berponi Via memasuki kehidupan Sekolah Dasar untuk yang pertama kali. Tak ada Mama yang menunggunya sampai Via pulang. Via begitu iri pada teman-temannya yang selalu ditemani Mama mereka. Sedangkan Mamanya hanya datang mengantar dan datang menjemput.Dirumah, hanya aku yang dekat dan mengerti Via. Aku selalu mendampinginya. Bahkan saat teman-teman menjauhinya karena dilarang oleh Mama mereka. Aku juga tahu gossip yang menyebar diantara kumpulan ‘nyonya-nyonya’ yang sedang menunggu anak manja mereka bubaran sekolah.Pernah kudengar Via bercerita saat nyonya-nyonya itu mendekap anak mereka agar menjauh dari Via yang sedang berjalan sendiri menuju gerbang sekolah. Ingin sekali aku merobek mulut mereka. Tapi, apa dayalah aku. Tapi aku masih bisa melindunginya dari pedih kenyataan, dengan garis bibirku yang selalu menyunggingkan senyum, dan mataku yang selalu berbinar lebar.

Suatu siang, Via pulang dengan muka yang lelah. Mungkin Mamanya lupa untuk menjemput. Menangis lagi. Pulang sekolah selalu menangis. Rutinitas yang pahit. Aku tahu, pasti teman-temannya mengejek dengan sebutan itu lagi. Setiap hari begitu. Selalu begitu.Bila malam menjelang, kegiatan itu yang paling kusuka. Ia berdendang untukku hingga aku terlelap, meskipun aku tak pernah benar-benar terlelap. Didekapkannya selimut tebal ke tubuh kami. Hangat. Malam seharusnya malam, tapi malam bagi Mamanya adalah pagi. Jatah orang mencari nafkah. Via terbangun ditengah malam karena mendengar deru mesin mobil Mamanya meninggalkan pekarangan.Dijendela lantai dua itu ia menatap. Menatap kenyataan yang pedih dan menatap langit kelam. Hanya dunia penuh bintang dan cahaya rembulan yang mendamaikan hatinya.Pasti badannya tinggi gagah seperti Papa teman-temanku. Kumisnya juga pasti seperti kumis Pak Raden. Kulitnya seperti kulitku. Itu yang selalu Via deskripsikan padaku tentang papanya. Pendiskripsian itu begitu sempurna, padahal Via tak pernah bertemu papanya hingga saat ini.Via menelusup lagi kedalam hangatnya selimut. Matanya mulai tertutup. Masa bodoh dengan kegiatan Mamanya diluar sana.Pagi seharusnya pagi. Namun pagi bagi Mamanya adalah malam. Waktu untuk tidur mendengkur. Menghela nafas karena bosan, itu yang dilakukan Via saat sarapan dengan masakan restoran yang pasti lezat, namun tanpa teman ataupun candaan. Putih biru seragamnya sekarang. Namun apalah arti seragam. Seragam hanya benda mati penunjuk profesi. Hanya melihat seragam putih birunya saja, orang-orang sudah tahu bahwa Via seorang pelajar SMP, yang kutahu manis, sopan, itu yang kutahu. Hanya itu yang kutahu. Tak lebih dari itu yang sanggup kuketahui.Seragam Mamanya juga sama. Tak jarang aku melihat Mamanya masuk kekamar Via saat ia bersekolah, memakai rok selutut Via yang berubah menjadi sepaha dikaki Mamanya.Itu yang membuat teman-teman Via mengejek profesi Mamanya. Via tak berani menyangkal, juga tak mau mengakui. Diam, bungkam. Teman-teman hanya mendengarkan deskripsi dari teman-teman lain. Ditambah sedikit bumbu pahit, hingga terciptalah deskripsi sesuai keinginan mereka masing-masing. Itu yang Via katakan padaku ketika air matanya tertahan, tak bersuara, tak berekspresi.Hanya pelukan sedih kepada diriku yang kumengerti. Mataku selalu terbuka, walaupun dia menyuruhku untuk tidur dan memberiku selimut, tapi aku tak bisa membiarkannya merasa sendiri.Putih biru telah berganti putih abu-abu, membuatnya semakin menjadi gadis dewasa. Rambutnya dibiarkan jatuh lurus dengan poni lurus menutupi alis matanya. Bibir yang dulu alami merahnya, sekarang lebih merah lagi karena tambahan pemerah yang mengkilat.Aku senang. Selama Via menjalani hari-hari di SMAnya, Via tidak melupakanku. Tetap seperti dulu. Sarapan bersama denganku, aku menunggunya pulang dari sekolah. pulang sekolah Via tetap menangis, mengadu semua kejadian disekolah kepadaku. Tetap seperti dulu. Juga saat Via terbangun saat mamanya meninggalkan pekarangan.Tapi malam ini beda. Via terbangun dan membuka selimut yang menutupinya. Selimutku ia biarkan masih menyelimuti seluruh bedanku. Mungkin Via membiarkanku tetap dalam kehangatan. Aku menunggu lama. Terus menunggu lama hingga aku tidur dalam jiwa yang sadar. Akhirnya aku merasakan aroma masuk dibalik selimut. Aroma terbusuk yang pernah aku cium selama aku hidup. Sampai pagi, aku berusaha tetap hidup dibau yang menyengat ini. Parfum murahan yang menusuk! Via, bebaskan aku dari perempuan asing ini!Sinar pagi yang menyelip diantara korden membuat perempuan asing ini terbangun. Perempuan asing itu masuk kekamar mandi. Lima belas menit kemudian bukan perempuan asing itu yang keluar, tapi Via. Aku bingung, kemana perempuan asing itu pergi.Putih abu-abu dikenakan lagi. Kemeja kecil lagi. Bawahan pendek lagi. Pemerah bibir lagi. Namun kali ini tak ada kecupan selamat pagi untukku. Sarapanpun aku tak diajak seperti dulu lagi. Mungkin Via lupa sesaat.Aku menunggu sore. Sore datang, Ia belum pulang. Malam menjelang, Ia pulang. Belum sempat memelukku, bahkan hanya sekedar menyapaku, Via menyalakan radio dengan volume tinggi. Sambil joget-joget. Loncat-loncat diatas tempat tidur. Dia menarikku, mengayunkanku, memutar-mutar tubuhku. Pusiiing…Ponsel berdering, tapi Via masih belum sadar akan suara ponselnya. Sengaja kuhempaskan tubuhku disamping ponsel agar Ia menyadarinya. Dia melihat. Diangkat ponselnya dan mulai berbicara dengan nada yang bisa dibilang…manja.Iya, Om…Ok!Kata Via mengakhiri pembicaraan dengan seseorang disebrang sana, yang pasti suara lelaki, karena samar-samar masih terdengar ketika Ia mengecilkan volume radio. Tak penah kubayangkan tingkahnya seperti ini. Buru-buru Via masuk kedalam kamar mandi. Lima belas menit kemudian Via keluar. Bukan, bukan Via yang keluar dari kamar mandi! Tapi perempuan asing itu lagi.Parfum itu, pemerah bibir itu, baju itu, geraian rambut itu, suara itu, semua milik Via. Apakah perempuan asing itu Via? Atau hanya perempuan asing meminjam jiwa Via?Hatiku menumpuk kata ‘mengapa’. Aku tak tahu dirinya diluar sana, dan ingin sekali aku tahu bagaimana Via diluar sana.Tiba-tiba Via menarikku. Tak tahu setan apa yang membisikkannya kebaikan untuk mengajakku berjalan-jalan keluar dari kamar. Sudah lama aku tak keluar kamar. Tidak apa dia seperti perempuan asing, yang penting, dia akan mengajakku berjalan-jalan.Aku tak tahu kalau Via punya mobil sporty merah. Dan aku tak tahu kemana Via akan membawaku. Mungkin ia mau mengajakku keliling kota Jakarta malam yang penuh dengan sejenisnya yang lain. Kulihat sesosok perempuan cantik yang tak lain adalah Mamanya, sedang menunggunya didepan pintu masuk suatu tempat. Dan aku juga tak tahu kalau yang ditujunya adalah tempat kerja Mamanya, yang selama ini sangat Via benci. Itu yang kutahu. Dulu.Via lupa membawaku keluar dari dalam mobil. Tapi mungkin ini lebih baik didalam mobil daripada diluar sana yang kelam penuh gemerlap aksesoris yang bergemerincing. Aku hanya dapat dan harus merenungi diri, bahwa Via telah lupa padaku. Dan aku harus mengakui bahwa Via telah … berubah.Ia masuk kedalam neraka dunia sana. Dan Mamanya menuju kemari. Kau cantik, Kata Mamanya kepadaku. Aku tak tahu apa maksudnya itu.Mamanya membawaku keluar dari mobil, dan mengajakku jauh dari parkir mobil, tempat Via meninggalkanku. Mamanya memajangku disuatu tempat yang hanya berbatasan dengan kaca. Orang modern biasa menyebutnya ‘etalase’.Teriakku itu tak berguna saat Mama pergi tanpa membawaku. Dan aku melihat kumpulan sejenisku yang terbuang sedang tersenyum manis padaku, lalu mereka menghadap kedepan. Memandangi jalanan malam yang kelam.#Hanya itu memory yang sanggup aku ingat sesaat sebelum aku tidur pulas karena kelelahan raga yang amat mendalam, setelah aku dibawa seorang lelaki gembul dan memasukkanku kedalam mobilnya yang sangat mewah.Aku sadar, aku disini. Dikamar yang cantik nan lucu. Banyak sejenisku yang lain bertengger penuh kebahagiaan didepan dan sampingku.“Pagi semuaaa…..Hari ini Nina mau sekolah dulu,ya. Kalian semua baik-baik disini sama Putri.”Aku melihatnya pertama kali, Nina. Rambut kucir dua yang manis. Nina memelukku untuk yang pertama kalinya. Dia mengenalkanku pada sejenisku yang lain. Dan dia memberiku sebuah nama, Putri. Nama yang bagus untuk seonggok aku. Aku hanya diam. Tak berbicara padanya, aku juga takkan bicara lagi padamu. Aku tak bisa berdiskripsi yang lain selain Via. Via yang selalu menyayangiku. Menyayangiku yang hanya sebuah boneka.

No comments:

Post a Comment

thanks for reading (^o^)