Thursday, July 14, 2011

FEATURE PERJALANAN

MAKAM SANG PROKLAMATOR TAK PERNAH SEPI
Blitar, adalah kota kecil yang berada di provinsi Jawa Timur. Blitar ialah kota kecil yang dijuluki sebagai kota Perdamaian. Dipinggir jalan seluruh kota Blitar, ditanami pohon perdu, sehingga menambah kesejukan setiap orang yang berjalan menikmati keasrian kota Blitar.Meskipun kota kecil, namun Blitar juga menawarkan banyak tempat wisata, seperti : Makam Bung Karno, pemandian Sumber Udel, Candi Penataran, pemandian Penataran, pantai Tambakrejo, dan masih banyak yang lain.Setiap hari raya Idul Fitri, keluargaku yang tinggal di Semarang, selalu mengunjungi nenek di Blitar. Selain berkumpul dengan keluarga besar, kami juga menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat wisata di kota Perdamaian ini. Kali ini kami berkunjung ke Makam Bung Karno (MBK) pukul delapan pagi. Waktu yang kami tempuh untuk menginjak area MBK hanya tujuh menit dengan berjalan kaki dari rumah nenek.
Saat memasuki area luar makam, sudah banyak pengunjung dalam maupun luar negeri yang berdatangan. Apalagi semenjak makam ini direnovasi besar-besaran lima tahun lalu, makam tak pernah sepi meskipun bukan hari libur. Ada saja pengunjung yang berkunjung. Entah untuk berziarah, atau hanya sekedar jalan-jalan dengan keluarga.Pengunjung sebagian besar banyak yang datang dari luar kota. Bisa dilihat dari mobil yang terparkir, ber-plat H, B, L, AD, AE, dan sebagainya. Bahkan bis luar pulau juga terpakir di terminal mini khusus untuk Makam Bung Karno. Mereka berbondong-bondong masuk kearah gerbang utama makam, sekitar sepuluh meter ke utara. Sepanjang perjalanan ke gerbang makam, pengunjung disajikan deretan kios yang berjajar rapi dari utara hingga selatan area makam.Akhirnya kami sampai di gerbang makam setelah berjalan tiga menit. Masuk area makam, pengunjung diberikan dua pilihan. Jika ingin mengunjungi makam Baung Karno terlebih dahulu, kita harus menuju kesebelah kiri, memasukki gapura tinggi. Sedangkan jika kita ingin berjalan-jalan dahulu, kita menuju kekanan, menuruni tangga dengan pemandangan kolam di bawahnya.Kami memutuskan untuk pergi ke gazebo makam dahulu. Ibuku membeli bunga yang akan ditabur di makam dari teman sekolahnya yang sekarang berjualan dimakam. Di gazebo makam ini terdapat tiga makam. Makam samping kanan adalah makam ayahanda Bung Karno, Raden Soekemi Sosrodihardjo, makam tengah adalah makam Bung Karno, sedangkan makam samping kiri adalah makam ibunda Bung Karno, yaitu Ida Ayu Nyoman Rai. Gazebo makam nampak asri dengan pohon beringin besar di taman belakang gazebo.Karena gazebo penuh, maka hanya ibu dan ayahku yang menabur bunga diatas makam. Sedangkan kami menunggu mereka didepan gazebo, tepatnya didepan gapura tinggi, pembatas antara makam dan wisata makam. Sambil menunggu, adik ibuku yang menjadi juru foto di sana,  mengambil foto kami didepan gapura dan di depan gazebo. Disamping kiri gapura terdapat mushala kecil dan replika keseluruhan bangunan makam yang disimpan dalam meja kaca. Disamping kanan gapura terdapat dua kamar mandi kecil. Sepuluh menit menunggu, ayah dan ibu kembali ke rombongan, lalu kamipun bergegas melewati gapura untuk melanjutkan perjalanan ke area wisata makam. Arah perjalanan kami dari selatan ke utara. Keluar dari gapura, kami menuju ke tangga, dimana tangga tersebut yang menghubungkan antara area makam dengan area wisata yang berlokasi lebih landai.Setelah menuruni anak tangga, kami dan pengunjung yang masuk ke area wisata diharuskan melalui lajur samping kiri kolam. Sedangkan bagi wisatawan yang akan keluar makam, menggunakan lajur samping kanan kolam. Sepanjang menyusuri lajur kiri kolam yang panjangnya lima belas meter ini, pengunjung disediakan pahatan besi pengingat sejarah yang tertempel di sepanjang tembok lajur kiri kolam. Gambar pahatan tersebut beraneka macam, seperti pahatan gambar Bung Karno yang sedang sungkem kepada Ibunya, gambar Bung Karno yang membacakan proklamasi, gambar Bung Karno yang berteriak memperjuangkan semangat, dan bahkan gambar peta Indonesia yang lengkap. Setelah melalui pahatan tembok, dan setelah melalui ujung kolam, pengunjung diberikan pemandangan yang spektakuler, yaitu patung besar Bung Karno yang sedang duduk sambil memangku sebuah buku. Disamping kanan dan kiri patung terdapat dua gedung besar. Disamping kiri ada gedung perpustakaan dan disamping kanan ada museum sejarah.Karena perpustakaan libur dihari besar, maka kami hanya memasukki museum sejarah. Saat memasukki pintu kaca museum, pengunjung akan dikejutkan dengan lukisan setengah badan Bung Karno berukuran 1 x 2 meter yang bisa bernafas. Padahal, tidak ada AC, bahkan angin yang berada dibalik lukisan kanvas tersebut.Bagi kami yang berkali-kali datang, lukisan tersebut masih menjadi daya tarik tersendiri dan teka-teki. Meskipun pengunjung boleh memegang lukisan tersebut, namun tetap tidak ada yang berhasil menemukan angin atau trik apapun di balik perut lukisan tersebut. Karena banyaknya pengunjung yang ingin meneliti, maka kamipun melanjutkan berkeliling ke musem. Selain lukisan besar tersebut, ratusan lukisan Bung Karno saat perjuangan Indonesia, turut menjadi pajangan yang menggugah pengetahuan sejarah kita. Selain lukisan, terdapat juga seperangkat pakaian, mulai dari peci, tongkat, sepatu, serta seragam milik Bung Karno yang dikenakan saat mengumumkan proklamasi. Juga terdapat naskah proklamasi dan bendera jahitan Fatmawati. Akhir dari berkeliling museum, pengunjung diberikan kemegahan patung Garuda lengkap dengan simbol juga makna setiap simbolnya.  Setelah puas berkeliling museum, kami melanjutkan perjalanan ke utara lagi, tepatnya ke Gong Perdamaian Dunia, gong yang mengenalkan dunia pada kota Blitar. Gong ini memuat bendera diseluruh belahan dunia, dan tentu saja dengan bendera merah putih terletak di tengah atas dengan ukuran yang lebih besar daripada bendera-bendera lain. Selain bendera, gong ini juga memuat sembilan simbol agama. Selain terdapat di Blitar, gong ini juga diletakkan di Ambon.Karena lelah, kami melepas penat sejenak di rerumputan taman di sekitar Gong Perdamaian Dunia. Cukuplah sepuluh menit untuk beristirahat, kami melanjutkan perjalanan untuk membeli oleh-oleh. Untuk keluar dari area wisata menuju jalan raya depan makam, wisatawan dapat meneruskan perjalanan mereka hingga menemui ujung taman. Namun jika wisatawan ingin melewati gerbang utama, maka mereka harus kembali ke rute awal dengan melewati gong, museum, dan lajur kanan kolam, serta menaiki anak tangga.Kamipun memilih untuk keluar melalui ujung taman. Di ujung taman ini terdapat pos penjagaan dengan dua satpam ramah yang menyeberangkan kami keseberang jalan. Di seberang jalan inilah terdapat deretan kios yang mengantarkan kami pulang ke selatan. Namun jika wisatawan menggunakan bus, maka mereka harus berjalan ke arah barat, karena di sanalah terdapat terminal kecil khusus untuk pengunjung Makam Bung Karno.Hari semakin terik, tapi untung dengan adanya kios berderet sepanjang jalan, tempat jalan wisatawan menjadi teduh. Di tambah dengan pohon-pohon yang berjejer tak ada ujungnya. Namun, perjalanan kami ke selatan benar-benar menghabiskan uang, karena kios-kios itu gencar menawarkan dagangan mereka. Setelah sampai ditengah perjalanan pulang, tepatnya di seberang gerbang masuk makam, kami semakin terkejut, karena bukannya semakin siang semakin sedikit pengunjungnya, ini malah semakin banyak pengunjung yang baru saja datang dari arah selatan dan utara.Perjalanan kami diakhiri oleh kios makanan khas Blitar, juga di akhiri dengan kami membeli oleh-oleh murah di sana. Aku bangga dengan pemerintah Blitar berusaha membuat pengunjung nyaman. Selain merenovasi bangunan makam, dan memperluasnya hingga berhektar-hektar, pemerintah Blitar juga berbaik hati dengan tidak mengenakan biaya masuk ke objek wisata ini. Oleh karena itulah, setiap hari Makam Bung Karno tak pernah sepi pengunjung. Sehingga warga Blitar mendapatkan lapangan kerja di area Makam Bung Karno. Aku bangga menjadi anak Blitar.

No comments:

Post a Comment

thanks for reading (^o^)