Thursday, July 14, 2011

I Have A Heart

“Apa, sih?!”“Ini mbak, di olesin lipstick dikit lagi.”“Lipstak lipstick. Dari tadi tambah-tambah mulu, bisa tebel bibir gue dong!”“Tapi bibir mbak udah mulai pucat. Dikit aja mbak?”“Nggak-nggak. Ayo mulai lagi!”Satu…dua…tiga… JEPREET…
Reza sedang duduk melamun didepan studio photo Jankish. Entah apa yang dipikirkan Reza, pemuda asli Bandung yang merantau di Jakarta sedirian. Dua hari yang lalu, ia berhasil diterima di studio di Jakarta ini.

Walaupun hanya sebagai Office Boy.“Reza! Ngelamun aja, nih gula, bawa ke pantry.” seorang wanita muda cantik turun dari mobilnya.“Iya, mbak Citra.” Reza mengangguk pelan kepada manager cantik yang membuatnya diterima bekerja disini.Dua menit waktu yang dibutuhkan Reza untuk mencari pantry yang sebetulnya mudah dicari. Tapi berhubung Reza adalah OB baru di studio photo Jankish ini, Reza baru bisa menemukan pantry dengan bertanya kepada dua orang yang bertemu dengannya.“Nah, ini dia gulanya baru datang.” lelaki setengah baya itu menyindir Reza dengan candaan.“Iya nih, Pak Burhan. Saya lupa-lupa ingat terus.” jawab Reza sekenanya.“Saya maklum, sih. Dulu saya juga baru inget seluruh studio tiga hari setelah masuk kerja.” jelas lelaki yang dipanggil Pak Burhan itu.Dengan sangat terampil dan cekatan, Pak Burhan mencampur gula bersama chocolate bubuk disebuah cangkir ungu yang lucu.“Cangkir siapa, Pak? Kok, kayaknya khusus?” tanya Reza penasaran melihat cangkir ungu dengan hiasan gambar kalajengking yang melambangkan scorpio.“O, ini cangkir Mbak Reina. Oya Za, kalau kamu disuruh bikin coklat panas buat mbak Reina, jangan pake cangkir yang lain, pakenya khusus yang ini.” Pak Burhan menunjuk cangkir yang sekarang berisi coklat panas lezat.“Mana coklatnya, udah ditungguin Reina. Cepetan!” Citra mengingatkan reza.
Reza dan Pak Burhan mengangguk bersamaan. Dan secangkir coklat panas telah siap disajikan.“OB kok kerjanya disuruh-suruh doang. Nggak ada kerjaan yang lain?” kata Pak Burhan sedikit mengeluh.“Namanya juga OB, pasti disuruh-suruh, Pak. Bukan OB namanya kalo kerjaannya nyiramin bunga didepan studio.”Pak Burhan tertawa mendengar seselan Reza yang emang lucu plus aneh. Reza membawakan secangkir coklat panas kesukaan Mbak Reina. Kali ini Reza hanya bertanya pada Budi, temen sesama OB.Pertama kali menginjakkan kaki kedalam studio photo Jankish, Reza langsung terkesima melihat model cantik yang sedang bergaya centil dengan gaun merahnya yang terkibaskan angin dari kipas angin didekat photographer.Selama limabelas tahun, Reza masih tak bisa melupakan teman masa kecilnya itu. Yap, bener banget, Reina, model top of the year yang sedang bergaya didepan kamera itu. Melihat Reina yang tersenyum, mengingatkan senyuman pertama Reina untuk Reza saat umur mereka sepuluh tahun.Kala itu Reina dan keluarganya sedang liburan di puncak, Bandung. Reina yang memang ceria dan ramah, mudah bergaul dengan anak sebayanya, termasuk dengan Reza. Setiap hari Reina mengajak Reza berkeliling menyusuri aliran sungai yang tenang. Dengan berfoto dan bergaya se-lucu mungkin, mereka selalu mengabadikan momen-momen penting ditempat yang berhasil mereka kunjungi.“Ini adalah tempat yang nggak akan pernah Reina lupain. Apalagi ada Reza disini. Kalo udah gede, Reina mau menikah sama Reza. Reza juga mau, kan?”Kata-kata itu terus menjadi motivasi Reza untuk mencari Reina. Hanya untuk memastikan janjinya akan Reina, Reza rela menolak puluhan gadis yang menyukainya. Bahkan putrinya pak Kepala Desapun ditolak hanya karena Reina.Selama hampir sebulan penuh mereka menjadi sahabat sejati. Pada suatu sore, Ayah dan Ibu Reina hendak turun ke kota untuk membeli tiket pesawat pulang ke Jakarta. Namun na’as hari itu, hujan lebat membuat mobil Ayah dan Ibu Reina tergelincir saat menuruni bukit.Dihari itulah Reza pertama kali melihat mata Reina berubah kosong, tak bersemangat seperti biasanya. Dan dihari itulah Reza tak sempat mengucapkan salam perpisahan ketika Reina dijemput sanak saudaranya.Reza tak perlu memasang poster Reina seperti teman-teman kampungnya yang lain hanya untuk mengingat wajahnya. Cukup dengan memory otaknya, Reza berhasil merekam setiap detil keceriaan Reina.Sebulan yang lalu, Reza telah berhasil mebgumpulkan informasi tentang Reina melalui internet. Dan sekarang Reza berhasil menembus dinding kehidupan Reina, walaupun hanya secuil dari kehidupannya sekarang.“Istirahat dulu, ah!” Reina beranjak dari tempatnya berdiri tanpa menunggu persetujuan dari semua kru yang ikut andil dalam sesi pemotretannya.Menyadari kalo Reina menuju kearahnya, kaki Reza serasa kaku, tak bisa digerakkan. Nampan yang berisi secangkir coklat panas bergetar. Saat Reina semakin mendekat, tangan Reza semakin bergetar hebat dan membuat coklat panasnya mulai bergoyang sedikit tumpah.“Eh, kalo bawa minuman tuh yang bener, dong! Masa bawa minuman kayak gini aja nggak bisa?! Lo biss kerja nggak, sih? Gue pecat, lo!” teriaknya kearah Reza yang tertegun melihat tingkah Reina yang berubah seraatus delapan puluh derajat.Semua mata di dalam studio berpura-pura buta akan kejadian itu. Bagi mereka, kejadian seperti tadi itu sudah biasa. Malahan menurut mereka, aneh kalo kesalahan sekecil apapun, walaupun tidak disengaja, Reina nggak ngomel.Senja mulai merambat diiringi segurat cahaya oranye dilangit. Reza berniat pulang saat Pak Burhan menyuruhnya pulang lebih awal, agar besok datang lebih pagi. Soalnya, tadi pagi Reza terlambat masuk kerja karena terhambat kemacetan waktu naik angkot.Ditaman depan studio, Reza melihat seorang reporter dan seorang kamerawan sedang mewawancarai Reina.“Reza, sini!” Citra memanggil Reza.“Ada apa, Mbak?” tanya Reza.“Jangan panggil Mbak dong, panggil aja gue Citra, kita kan, sebaya.” Citra menyikut lengan Reza. “Lo belum pernah liat orang diwawancara, kan? Liat sini aja, siapa tahu nanti lo kena shoot.” Citra merapikan rambut Reza yang berantakan.Reza hanya bisa cengar-cengir. Memang ini kali pertama melihat model diwawancarai secara Live, apalagi model itu Reina, model yang hanya ia lihat di televise dan ia simpan dalam hati.Didalam kos-kosan yang sempit, Reza berpikir keras. Kejadian tadi siang dan barusan membuat Reza sedikit kecewa terhadap sikap Reina. Namun segera ditepisnya jauh-jauh pikiran negative itu.Sedikit rasa sesal telah menggumpal dihatinya karena meninggalkan Ayah dan Ibunya di Bandung hanya demi Reina. Memandang Reina merupakan kesenangan tersendiri bagi Reza. Apalagi senyumnya.
Sebulan Reza bekerja giat di studio Jankish. Para kru yang terlibat didalam studio Jankish, termasuk para OB, sudah menganggap Reza sebagai saudara, kecuali Reina yang tetap saja jutek dan sinis padanya.Setiap hari saat berpapasan dengannya, Reina selalu marah-marah nggak jelas. Entah karena gaya rambut Reza yang jadul, pakaian Reza yang amburadul, atau sepatu Reza yang kumel. “Tenang aja, Za, Mbak Reina itu sama semua orang memang jutek gitu. Sama Mbak Citra aja suka marah-marah, apalagi sama OB kayak kita-kita?” jelas Budi saat Reza selesai curhat tentang Reina yang jutek dan selalu marah-marah sama semua orang.Siang ini Reza mencari sosok Reina yang tak ditemuinya sejak pagi. Reza begitu khawatir, hatinya begitu tak menentu. Semua orang sudah ia tanyai, termasuk Citra, managernya. Tapi tetap saja tak satupun informasi berguna baginya.Dibawanya perasaan khawatir itu hingga ke kos-kosan. Reza berniat menghubungi nomor Reina yang ia minta dengan paksa dari Citra. Setengah jam Reza berkutat dengan pikirannya, telepon atau tidak.Akhirnya Reza memencet nomor Reina. Tuut…Tuut…“Halo? Tolong! Tolong!... Tuuuuuuuuttttttt….”Telepon tiba-tiba terputus. Perasaan Reza semakin tak karuan. Reza yang memang sudah mengetahui dimana rumah Reina, segera melajukan motornya. Perjalanan yang sebenarnya limabelas menit, ditempuh Reza lima menit.Sampai didepan kompleks perumahan Reina, ia melihat semburan api yang membumbung di udara. Reza semakin gusar ketika melihat rumah Reina yang terlalap api.Tanpa pikir panjang, Reza menjatuhkan motornya dan segera berlari menerobos kerumunan orang. Dua unit Pemadam kebakaran sedang berusaha menyemburkan air kedalam rumah.Sementara Reza, nekat menjeburkan diri kelautan api yang telah menghanguskan sebagian rumah besar itu setelah mendengar desas-desus warga, kalau penghuni rumah masih terjebak didalam.Reza menerobos api yang agak sepi di pintu belakang. Dengan sekuat pita suaranya, Reza memanggil Reina yang sekarang entah berada dimana. Dengan keterampilan matanya yang terbiasa mencari katak dimalam hari, Reza berhasil mendapati tubuh Rena yang setengah sadar terkulai di dapur.Dalam kesadaran yang tak penuh, Reina masih bias mengetahui siapa pahlawan yang telah menyelamatkannya itu, Reza, ya, OB yang selalu ia marahi. Dalam gendongan Reza, Reina sempat berpikir akan melakukan apapun untuk membalas jasa Reza sebelum akhirnya ia pingsan dalam dekapan pahlawannya.
Seminggu sejak kejadian itu, sikap Reina berubah seratus delapan puluh derajat. Reina tersenyum pada semua orang. Keramahan Reina pada semua kru, tak terkecuali OB, membuat studio Jankish menjadi hangat dan bersahabat.Pada saat kebakaran, mata Reza terkena percikan bara api, dan kepalanya tertimpa lemari yang roboh. Beruntung tepat pada saat itu, petugas pemadam kebakaran menemukan Reza bercucuran darah dan hampir jatuh pingsan namun Reina masih tak bisa dilepaskan dari gendongannya.Hari ini Reza pulang dari rumah sakit setelah dirawat seminggu. Semua kru sudah mengetahui kondisi Reza saat ini, yaitu Reza mengalami kebutaan. Sejak pagi, Reina dan para kru Jankish bersiap mengadakan pesta penyambutan untuk Reza. Reina adalah orang yang paling sibuk diantara mereka semua. Mengerjakan ini itu dengan riang.“Hemh, leganya semua udah selesai.” Kata Reina saat di pantry, ditemani Budi dn secangkir coklat hangat.“Iya, Mbak. Eh, Reina. Sekarang jam 6 kurang, berarti, satu jam lagi Reza datang.” Melihat wajah tersenyumnya Reina, Budi jadi teringat cerita Reza sehari sebelum kejadian itu terjadi. “Kalo Reza bisa lihat senyummu ini, pasti dia bakal menemukan cinta sejatinya saat kecil dulu.” Dengan santainya Budi meneguk teh hangat.Mendengar perkataan Budi, Reina masih tak mengerti. “Maksud, lo?”“Iya, Rei. Waktu kecil, kata Reza, kamu sama dia itu temen baik. Ehm…kalo nggak salah, waktu kamu liburan ke Bandung. Kata Reza, saking sukanya kamu sama dia, kamu sampai berjanji akan menikah dengannya kalau sudah besar. Pasti kamu lupa, kan? Ya tentu saja. Wong sekarang kamu udah terkenal kayak gini, mana kenal sama Reza.” jelas Budi panjang kali lebar.Dari sini Reina mulai paham kenapa akhir-akhir ini ia bermimpi tiga kali berturut-turut tentang janjinya waktu kecil bersama seseorang yang ia lupakan.“Jadi, Reza waktu kecil itu Reza ini? Reza yang setiap hari gue marahin, Reza yang setiap hari gue omelin? Reza yang nyelametin gue? Oh My God?” seketika kepala Reina pening.Dengan lunglai, ia berjalan ke parkiran mobil. Dilihatnya jam ditangan kirinya. Satu jam lagi Reza akan datang. Apakah gue mampu melihat matanya yang buta gara-gara gue? Apa gue sanggup membiarkan pahlawan sekaligus cinta pertama gue menderita karena ke-egoisan gue? Ya, Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Pikirnya dalam hati.Dipencetnya sebuah nomor di ponselnya.“Halo, Om Surya. Om, temen Reina ada yang buta karena retinanya terkena percikan api, bisa disembuhin nggak, Om?” Reina berharap jawaban ‘ya’ dari Om Surya, dokter mata.“Bisa, kok. Tapi harus ada pendonor retinanya. Kamu udah nemuin pendonornya belum?” jawaban Om Surya membuat hati Reina merasa tenang.“Udah, Om.”“Siapa?”“…”
Welcome Back Reza!!! Semua para kru Jankish menyambut gembira kedatangan Reza, kecuali Reina. Walaupun Reza tak bisa melihat, ia tahu bahwa Reina tak ada disekitar mereka. Pesta tetap berlangsung tanpa seorangpun tahu dimana Reina.“Halo?” Citra berusaha mendengarkan siapa yang meneleponnya. “Ssst… diem bentar!” perintah Citra kepada semua orang yang ada disana.“Benar, pak?! Serius?! Terimakasih, pak. Besok kami segera kesana!” Citra loncat-loncat kegirangan, sedangkan semua yang ada disana tak tahu apa yang terjadi.“ADA PENDONOR BUAT MATA REZA!!!! BESOK BISA DIOPERASI!”“Yeaaahhhhh…!”Sorak sorai suara kegembiaraan di studio Jankish tidak sesuai dengan senyuman kegelisahan Reza. Perasaan gelisah ini dua kali ia rasakan.
Welcome Back Again Reza!!! Semua para kru Jankish menyambut gembira kedatangan Reza sekali lagi. Kali ini Reza kembali normal dengan retina barunya.Dengan retina barunya juga, Reza melihat sosok cantik Reina ditengah para kru Jankish dengan senyuman yang mengembang dibibirnya.“Selamat datang Reza. Sorry, selama ini gue selalu jahat sama, lo.”Mendengar Reina berbicara, semua kru Jankish diam tanpa kata. Mereka semua menatap sedih wajah cerianya Reina. Namun bagi Reza, saat ini adalah saat terindah karena Reza telah berhasil melihat senyumnya setelah selama ini ia berjuang mendapatkan senyuman Reina.
Saat Reina akan mendekati Reza, Reina tak tahu ada sofa didepannya, sehingga Reina tersandung. Citra yang berada disamping Reina dengan sigap menangkap tubuh Reina yang hampir jatuh. Reina berdiri dan mendekati Reza dengan tangan meraba-raba keadaan sekitar, masih tetap dengan senyum cerianya. Kejadian itu membuat Reza tersadar bahwa Reina, buta. Kenyataan yang menusuk hatinya, juga para kru lain, yang sejak tadi terus berdiam diri melihat senyuman Reina, model top of the year, yang buta.---“Halo, Om Surya. Om, temen Reina ada yang buta karena retinanya terkena percikan api, bisa disembuhin nggak, Om?” Reina berharap jawaban ‘ya’ dari Om Surya, dokter mata.“Bisa, kok. Tapi harus ada pendonor retinanya. Kamu udah nemuin pendonornya belum?”“Udah, Om.”“Siapa?”“SAYA.”

No comments:

Post a Comment

thanks for reading (^o^)