Sunday, July 17, 2011

Kajian Filologi Terhadap Hikayat Si Miskin


Ini... aku perlihatkan pada kalian...!!!
Ini adalah hasil dari kerja kerasku. Akhirnya selesai juga. Terimkasih Tuhan, dan semuanya.
Ini aku perlihatkan pada kalian sebelum dosenku sendiri yang melihatnya...
Jreeng...jerejeeeeennnggg.....

A.  Latar Belakang
Filologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu philos yang berarti cinta dan logos yang berarti kata. Arti ini kemudian berkembang menjadi senang hati, senang kesastraan, senang bertutur. dan senang belajar. Dengan objek kajian filologi adalah naskah atau teks Nusntara, filologi digunakan untuk mengkaji teks-teks atau naskah-naskah lama.
Salah satu naskah lama ialah hikayat, yang mengisahkan cerita kerajaan atau dongeng tentang kehebatan, kesaktian, keajaiban yang dialami tokoh dalam hidupnya. Pada jamannya, hikayat disebarkan secara lisan.
Hikayat dibacakan sebagai sarana pelipur lara, hiburan atau untuk membangkitkan semangat, dan berisi petuah, nasihat, juga pesan moral. Seiring perkembangan jaman, hikayat banyak tersebar dalam bentuk naskah, atau lebih dikenal dengan naskah kuno.
Salah satu hikayat naskah kuno adalah Hikayat Si Miskin. Hikayat yang ditulis dengan menggunakan huruf pegon, atau yang lebih dikenal dengan huruf arab melayu ini, berkisah tentang kehidupan seputar kerajaan dan kepemimpinan. Oleh karena masih menggunakan huruf pegon, maka naskah tersebut perlu dialih bahasakan dan disunting untuk memahami isi kisahnya.

B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1.      Diperlukannya transliterasi terhadap naskah arab melayu Hikayat Si Miskin.
2.      Diperlukannya penyuntingan terhadap naskah arab melayu Hikayat Si Miskin.


C.      Tujuan Penelitian
Dengan penelitian berdasarkan rumusan masalah bertujuan untuk :
1.      Transliterasi bertujuan untuk mengalihkan huruf arab-melayu ke huruf latin.
2.    Penyuntingan bertujuan untuk membenarkan tata letak, tata tulis, dan tanda baca.


D.  Manfaat Penelitian
Berdasarkan penjelasan di atas, penelitian ini memiliki manfaat agar :
1.      Agar diketahui cerita asli dari naskah Hikayat Si Miskin sebelum disunting.
2.      Agar diketahui cerita Hikayat Si Miskin setelah disunting.









BAB II
PEMBAHASAN

A.      Filologi
Filologi digunakan untuk mengkaji teks-teks atau naskah-naskah lama. Oleh karena itu objek kajian filologi adalah tulisan tangan yang disebut naskah atau handscrift. Sebelum masuknya kertas ke Indonesia, menurut Zoetmulder, bahan naskah untuk Jawa Kuno adalah karas, sejenis papan atau batu tulis, an disebut sebagai prasasti. Sedangkan menurut Robson, bahan yang digunakan dapat berupa lontar, atau daun tal, atau daun siwalan, dan disebut naskah. Ada juga bahan yang digunakan lainnya, seperti, kulit kayu, rotan, dan bambu. Seiring perkembangan jaman dan masukknya kertas ke Indonesia yang berasal dari Eropa pada abad ke-18, naskah kuno mulai ditulis dalam kertas.
Dalam penggunaan kertas dan prasasti, terdapat perbedaan diantara keduanya, yaitu menurut isi, bahan, keterangan, dan jumlah. Jika dalam naskah, tulisan tangan dituliskan pada bahan lembaran-lembaran, seperti daun lontar, daun siwalan, kulit kayu dan sebagainya. Sedangkan untuk prasasti, tulisan tangan dituliskan pada bahan keras, seperti batu, batu bata, batu marmer, logam, dan sebagainya.
Naskah memuat isi lebih lengkap, lebih panjang daripada prasasti yang tempatnya terbatas. Namun naskah biasanya tidak diberikan angka tahun pembuatan, dan tidak disertakan nama pengarangnya. Sedangkan dalam prasasti diberikan tanggal dan nama pengarangnya. Dari segi jumlah, naskah lebih menguntungkan karena jumlahnya dapat diperbanyak sesuai kebutuhan. Namun tidak untuk prasasti yang terdapat di batu, sehingga jumlahnya tetap, tidak bisa bertambah.

B.  Hikayat Si Miskin
Naskah yang sudah dituliskan di kertas, salah satunya adalah Hikayat Si Miskin atau juga dikenal dengan Hikayat Maharaja Marakarma ini, adalah salah satu kesasteraan bahasa Melayu yang ditulis pada masa dahulu sekitar tahun 1844 atau 1848. Hikayat Si Miskin ini memiliki 93,724 perkataan, dan sudah diperbanyak. Salah satu manuskrip - manuskrip C 1967 terdapat di Saint- Petersburg Branch of the Institute of Oriental Studies, Russian Academy of Sciences.
Untuk mengerti isi dari naskah kuno yang menggunakan tulisan Arab-Melayu, pegon, diperlukan pengalihan huruf kedalam huruf latin. Pengalihan huruf tersebut dinamakan transliterasi. Namun tidak cukup hanya dengan cara transliterasi saja, karena proses tersebut tidak mengubah bahasa, melainkan hanya mengalih hurufkan. Untuk itu, perlu juga melakukan proses penyuntingan. Dengan penyuntingan, didapatkan pemahaman yang lebih lengkap daripada transliterasi, karena penyuntingan mengkoreksi tata tulis, ejaan, dan tanda baca. Dalam Hikayat Si Miskin ini tidak perlu diterjemahkan untuk memahami cerita, karena bahasa yang digunakan dalam hikayat tersebut menggunakan bahasa Melayu, yang seperti bahasa Indonesia.
Penelitiain naskah Hikayat Si Miskin akan diteliti oleh lima orang, dengan setiap orang meneliti enam halaman naskah. Peneliti pertama meneliti naskah dari halaman satu sampai halaman enam, peneliti kedua akan meneliti naskah dari halaman tujuh hingga dua belas, peneliti ketiga akan meneliti naskah dari halaman tiga belas sampai delapan belas, peneliti keempat akan meneliti naskah dari halaman sembilan belas hingga dua puluh empat, sedangkan peneliti kelima akan meneliti askah dari halaman dua puuh lima hingga halaman tiga puluh.
C.      Transliterasi Naskah Hikayat Si Miskin
Oleh karena penelitian ini merupakan penelitian ketiga, maka pada penelitian ini dimulai pada halaman sembilan belas hingga halaman dua puluh empat. pada tahapan transliterasi, akan dialih hurufkan huruf pegon Arab-Melayu dari naskah tersebut, kedalam huruf latin. Pada tahap ini tidak diperkenankan merubah, menambah, mengurangi, atau bahkan mengatur tata letak dari hasil transliterasi naskah asli.
Halaman 19.
...puteri nila kesuma itu karena diberikannya kepada adikknya pagi sebelah dan petang sebelah setelah habis ketupat itu maka tuan putri nila kesuma itupun menangis pula hendak makan maka diambil oleh marakarmah segala taruk kayu dan umbut2 dan buah2an kayu didalam hutan itu yang patut dimakannya maka diberikannya kepada saudaranya itu dan barang dimana ia bertemu dengan air maka dimandikannyalah akan saudaranya syahdan beberapa lamanya ia berjalan itu maka beberapa bertemu dengan gunung yang tinggi2 dan padang yang luas2 dan tasik yang berombak seperti laut tempat segala dewa2 dan peri mambang indera cendera ijin maka raja2 jin disanalah tempat bermain2 lancang berlomba2 disanalah banyak ia beroleh kesaktian diberi oleh segala anak raja2 itu diangkat saudara oleh mereka itu sehingga dia dan beberapa ia bertemu dengan binatang yang buas2 seperti ular naga buta raksasa sekaliannya mereka itu diberi kesempatan kepada marakarmah syahdan beberapa ia melihat kekuatan allah subhanahu wataala berbagi2 dan yang ajaib2 maka bertemulah ia dengan bukit berjenter tempat segala raja2 dan dewa bertapa itu disanalah tempatnya adapun marakarmah itu apabila ia bertemu dengan segala raja2 itu maka tuan putri nila kesuma itu pun disembunyikannya dan jika ia bertemu dengan segala binatang yang buas2 maka didukungnyalah akan saudaranya itu tiada diberinya lepas dari pada tubuhnya hata dengan demikian maka iapun sampailah kepada sepohon kayu beringin terlalu amat besar
Halaman 20.
dan adalah ia air turun dari atas gunung itu maka disanalah ia berhenti dan memandikan saudaranya maka tiba2 melilinglah seekor burung dari atas kepalanya maka tuan putri nila kesuma pun menangis minta ditangkapkan burung yang terbang itu maka marakarmahpun melompat lalu disambarnya burung2 itu dapat datang ditangkapnya lalu diberikannya kepada saudaranya maka suka hati saudaranya itu sambil katanya bakarlah kakanda burung ini kita makan maka kata marakarmah sabarlah dahulu tuan maka kedengaranlah bunyi ayam berkokok sayup2 karena hutan itu dekat dengan dusun orang negeri palinggam cahaya maka kata marakarmah kepada saudaranya itu tinggalah tuan disini dahulu barulah kakanda pergi menari api akan membakar burung adinda itu maka sehati tuan putri itu biarkanlah kakanda pergi jangan lama2 kakana pergi itu maka dipeluknya dan diciumnya akan saudaranya itu seraya katanya janganlah tuan berjalan2 kesana sini sepeninggal kakanda ini kalau2 tuan sesat kelak tiada bertemu dengan kakanda lagi maka sahutnya tiada hamba pergi kakanda maka marakarmahpun baru jalanlah menuju bunyi ayam berkokok itu tetapi hati marakarmah itu tiada sedap berdebar2 rasanya setelah sampailah ia kepada dusun orang itu terlalu banyak jadi tanam2an seperti oni keladi dan tebu pisang kacang dan jagung maka iapun berjalanlah berkeliling perginya itu menanti orang yang empunya kebun itu ia hendak meminta api setelah dilihat oleh orang yang empunya kebun itu anak si pencuri demikianlah
Halaman 21.
Sehari2 perbuatanmu menuri segala tanam2manku ini sehinga habislah jagung pisangku tadi berketahuan engkaulah yang mencuri maka sekarang ini hendak kemana engkau melarikan nyawamu itu daripada tanganku sekarang sedanglah lamanya aku menantikan engkau tiada juga apat beroleh sekarang aku bertemu dengan engkau maka ia berkata2 itu sambil berlari menangkap tangan marakarmah itu maka kata marakarmah tiada aku lari karena aku tiada berdusta kepadamu bukan aku orang pencuri aku ini orang sesat datangku dari negeri asing hendak meminta api kepadamu maka ditamparinyalah dan dikacuhknnya akan marakarmah ini seraya katanya bohonglah engkau ini maka kamala yang dikandang oleh marakarmah yang diberi oleh bundanya itupun jatuhlah dari pegangannya setelah dilihat oleh orang dusun itu maka diambilnyalah seraya katanya inilah kemalaku engkau curi maka kata marakarmah itunya telah engkau berbuat aniaya kepadaku maka iapun terkenanglah akan saudaranya yang tinggal didalam hutan seorang diri itu maka katanya dalam hatinya wahai adinda tuan betapa gerangan hal tuan sepeninggal kakanda ini kelak karena di aniaya oleh orang matilah kakanda tiada bertemu dengan tuan lagi maka iapun menangis terlalu sangat lalu rubuh pingsan tiada jeburkannya maka kata orang dusun itu apa yang engkau tangiskan sebab salahmu itulah balasannya engkau makan jagung maka dilihatnya segala tubuh marakarmah itu habis banyak2 dan berlumur dengan darah dan tiadalah ia bergerak lagi maka pada sangka orang dusun itu sudahlah mati rupanya maka diangkatlah dengan tali dari
Halaman 22.
Bahunya sampai kepada kakinya seperti orang mengikat lepet demikanlah lakunya ia mengikat marakarmah itu setelah sudah diikatnya maka di seretlah dibawanya ke tepi laut lalu dibuangkannya kedalam laut itu maka iapun kembalilah kerumahnya syahdan tersebutlah perkataan raja didalam negeri pelinggam cahaya itu bernama raja puspa indra maka bagida itu ada berputa seorang laki2 terlalu baik parasnya bernama raja mangindera sari dan bundanya bernama tuan putri mandaratna terlalu besar kerajaan baginda itu syahdan beberapa direngguknya oleh baginda akan ananda baginda itu hendak diberinya beristri tiada hauk ia mau maka pada suatu hari raja mengindera sari itupun pergi memohonkan kepada ayahanda bunda baginda itu hendak pergi berburu maka sambil raja mengindera saripada esok hari tuanku hamba hendak pergi berburu maka bagindapun mengerahkan segala raja2 dan menteri hulubalang rakyat sekalian serta berlengkap alat perburuan setelah dini hari bintangpun belum padam cahayanya maka gong pengaruh pun berbunyilah maka segala menteri hulubalang rakyat sekalian yang muda2 itupun mengenakan pakaian masing2 dengan selengkapnya mak raja menindera saripun bermohonlah kepada ayahanda bunda baginda lalu ia berjalan diiringkan oleh segala raja2 dan menteri hulubalang rakyat sekalian itu masuk kedalam hutan tempat perburuan itu dari pagi2 hari jangakan beroleh kijang menjangan lalat lagi pun tiada melintas maka raja mengindera saripun dahagalah sangat hendak minum air maka orangpun pergilah mencarikan air adapun akan tuan putri
Halaman 23.
nila kesuma itupun duduk dibuah pohon beringin menantikan kakanda itu tiada juga datang sampai tengah hari maka iapun menangis terlalu sangat seraya katanya aduhai kakanda sampai hati kakanda meninggalkan adinda didalam hutan rimba belantara ini matilah adinda dimakan oelh binatang yang ada didalam hutan ini maka burung itupun dipegangilah juga sambil menangis itu maka orang yang disuruh mencari air itupun sampailah kepohon beringin itu maka dilihatnya ada seseorang kanak2 menangis memegang seekor burung terlalu baik parasnya maka iapun segeralah mengambil air  itu lalu ia kembali mendapatkan raja engindera sari itu maka kata baginda lamanya engkau pergi mengambil air ini maka iapun persembahkan seperti penglihatannya dari hal kanak2 itu kepada baginda entah anak bidadari gerangan entah anak indera gerangan tuanku terlalu amat baik parasnyaia memegang seekor burung tuanku maka baginda itupun berangkatlah pergi melihat kanak2 itu setelah sampai ia kepada pohon kayu beringin itu maka dilihatnya sungguh ada kanak2 itu menangis ia memegang seekor burung terlalu amat baik parasnya seperti anak2an kencana rupanya maka kata raja mengindera sari kepada perdana menterinya hanya meminda ambilah kanak2 itu kita bawa pulang kerumah kita karena haripun telah petang seekor binatang tiada kita peroleh perburuan baik kita kembali maka sehati perdana menteri aiklah tuanku maka diambil oleh perdana menteri kanak2 itu didukungnya seraya katanya janganlah tan menangis diamlah tuan mari kita pulang kerumah kita maka raja mengindera saripun berangkatlah
Halaman 24.
kembali diiringkan oleh segala raja2 menteri hulubalang rakyat sekalian itu setelah sampai ke pasar aka orang pasarpun gemparlah mengatakan raja mengindera sari mendapat kanak2 didalam hutan terlalu baik parasnya maka masing2 ditanya melihat kanak2 itu setelah sampai ke istananya itu maka baginda dewa lagi istripun keluarlah melihat ananda beginda itu datanglah maka kanak2 yang didapatnya oleh raja mengindera saripun disuruh oleh baginda dudukpun dikata istrinya seraya katanya anak siapa gerangan ini terlalu amat baik parasnya beruntung juga ananda beroleh anak perempuan yang baik parasnya peliharalah baik2 oleh adinda maka disuruh oleh tuan putri mandiratna mandikan kepada dayang2nya itu masing2 dengan jawatannya ada yang membawa bedak ada yang membawa limu ada yang membawa kain maka dibedakkannyalah oleh segala dayang2 itu dan dilanggarinyalah dan dimandikannya setelah sudah mandi itu maka lalu dipakaikannya maka didukungnyalah lalu dibawa kehadapan baginda lagi istri maka disuruh baginda ambilkan gelang dan subang dan cincin dan rantai emas dengan selengkapannya seperti pakaian anak raja2 maka demikianlah dipakaikan akan kanak2 itu setelah  sudah dipakaikan itu maka makanlah bertambah2 elok parasnya seperti anak2kan emas yang sudah tersepuh demikianlah rupanya maka terlalu sakit hati baginda lagi istri melihat rupany itu maka lalu dinamai oleh baginda akan kanak2 itu tuan putri mayang mengurai maka titah baginda kepada segala inang pengasuhnya banyak2lah engkau sekalian memeliharakan akan anakku janganlah
Dari hasil tahapan di atas dapat diketahui bahwa pada tahapan di atas tidak terjadi perubahan, penambahan, dan pengurangan, meskipun sudah di alih hurufkan.





D.      Penyuntingan Naskah Transliterasi Hikayat Si Miskin
Jika dalam tahap transliterasi tidak diperbolehkan merubah apapun, dalam tahap penyuntingan diperkenankan untuk merubah, menambah, dan mengurangi apapun yang berhubungan dengan tata tulis, tata letak, dan tanda baca. Untuk menyunting naskah Hikayat Si Miskin, terdapat kode penyuntingan yang akan digunakan pada penyuntingan tersebut. Kode penyuntingannya adalah sebagai berikut :
//          = dipakai sebagai tanda awal paragraf
{ }       = menghilangkan kata
[  ]        = menambah kata
“ “        = mengapit kalimat percakapan
.           = memberi tanda baca titik
,           = memberi tanda baca koma
Untuk huruf kapital, langsung diganti dengan huruf kapital pada huruf yang seharusnya ber-kapital.
Berikut hasil penyuntingan dari translitertasi naskah Hikayat Si Miskin.
Halaman 19.
... puteri Nila Kesuma itu karena diberikannya kepada adikknya pagi sebelah, dan petang sebelah. Setelah habis ketupat itu, maka tuan putri nila kesuma itupun menangis pula hendak makan. Maka diambil oleh Marakarmah segala taruk kayu dan umbut-umbut dan buah-buahan kayu didalam hutan itu yang patut dimakannya.
//Maka diberikannya kepada saudaranya itu, dan barang dimana ia bertemu dengan air. Maka dimandikannyalah akan saudaranya. Syahdan beberapa lamanya ia berjalan itu, maka {beberapa} bertemu dengan gunung yang tinggi-tinggi dan padang yang luas-luas dan tasik yang berombak, seperti laut. Tempat segala dewa-dewa dan peri mambang indera cendera ijin. Maka raja-raja jin disanalah tempat bermain-main lancang berlomba-lomba. Disanalah banyak ia beroleh kesaktian [yang] diberi oleh segala anak raja-raja itu [yang] diangkat saudara oleh mereka itu. Sehingga dia dan beberapa ia bertemu dengan binatang yang buas-buas, seperti ular, naga, buta raksasa. Sekaliannya mereka itu diberi kesempatan kepada Marakarmah.
//Syahdan beberapa ia melihat kekuatan Allah Subhanahuwata,ala berbagi-bagi dan yang ajaib-ajaib maka bertemulah ia dengan bukit berjenter tempat segala raja-raja dan dewa bertapa itu disanalah tempatnya. Adapun Marakarmah {itu} apabila ia bertemu dengan segala raja-raja itu, maka tuan putri Nila Kesuma itu pun disembunyikannya, dan jika ia bertemu dengan segala binatang yang buas2 maka didukungnyalah akan saudaranya itu. Tiada diberinya lepas dari pada tubuhnya.
//Hatta dengan demikian maka iapun sampailah kepada sepohon kayu beringin terlalu amat besar .
Halaman 20.
dan adalah ia air turun dari atas gunung itu. Maka disanalah ia berhenti dan memandikan saudaranya. Maka tiba-tiba melilinglah seekor burung dari atas kepalanya. Maka tuan putri Nila Kesuma pun menangis minta ditangkapkan burung yang terbang itu. Maka Marakarmahpun melompat lalu disambarnya burung-burung, itu dapat datang ditangkapnya lalu diberikannya kepada saudaranya. Maka suka hati saudaranya itu, sambil katanya,
//“Bakarlah kakanda, burung ini kita makan.”
//Maka kata Marakarmah, “Sabarlah dahulu tuan.”
//Maka kedengaranlah bunyi ayam berkokok sayup-sayup, karena hutan itu dekat dengan dusun orang negeri Palinggam Cahaya. Maka kata marakarmah kepada saudaranya itu,
//“Tinggalah tuan disini dahulu, barulah kakanda pergi mencari api, akan membakar burung adinda itu.”
//Maka sahut tuan putri itu, “Biarkanlah kakanda pergi, jangan lama-lama kakanda pergi itu.”
//Maka dipeluknya dan diciumnya akan saudaranya itu, seraya katanya, “Janganlah tuan berjalan-jalan kesana sini sepeninggal kakanda ini, kalau-kalau tuan sesat, kelak tiada bertemu dengan kakanda lagi.”
//Maka sahutnya, “Tiada hamba pergi kakanda.”
//Maka Marakarmahpun baru jalanlah menuju bunyi ayam berkokok itu. Tetapi hati Marakarmah itu tiada sedap berdebar-debar rasanya. Setelah sampailah ia kepada dusun orang itu, terlalu banyak jadi tanam-tanaman, seperti oni keladi, dan tebu, pisang, kacang, dan jagung. Maka iapun berjalanlah berkeliling perginya itu menanti orang yang empunya kebun itu ia hendak meminta api.
//Setelah dilihat oleh orang yang empunya kebun itu, “Anak si pencuri! Demikianlah
Halaman 21.
Sehari-hari perbuatanmu. Mencuri segala tanam-tanamanku ini, sehinga habislah jagung, pisangku. Tadi berketahuan engkaulah yang mencuri, maka sekarang ini hendak kemana engkau melarikan nyawamu itu daripada tanganku? Sekarang sedanglah lamanya aku menantikan engkau, tiada juga dapat beroleh. Sekarang aku bertemu dengan engkau!” Maka ia berkata2 itu sambil berlari menangkap tangan Marakarmah itu.
//Maka kata Marakarmah, “Tiada aku lari, karena aku tiada berdusta kepadamu. Bukan aku orang pencuri, aku ini orang sesat, datangku dari negeri asing hendak meiminta api kepadamu.”
//Maka ditamparinyalah dan dikucahkannya akan Marakarmah ini seraya katanya “Bohonglah engkau ini.”
//Maka kemala yang dikandang oleh Marakarmah yang diberi oleh bundanya itupun jatuhlah dari pegangannya. Setelah dilihat oleh orang dusun itu maka diambilnyalah seraya katanya, “Inilah kemalaku engkau curi!”
//Maka kata Marakarmah itu, “Nyatalah engkau berbuat aniaya kepadaku.” Maka iapun terkenanglah akan saudaranya yang tinggal didalam hutan seorang diri itu. Maka katanya dalam hatinya, “Wahai adinda tuan, betapa gerangan hal tuan sepeninggal kakanda ini kelak. Karena di aniaya oleh orang, matilah kakanda tiada bertemu dengan tuan lagi.” Maka iapun menangis terlalu sangat, lalu rubuh pingsan tiada jeburkannya.
//Maka kata orang dusun itu, “Apa yang engkau tangiskan? Sebab salahmu itulah balasannya! Engkau makan jagung!”
//Maka dilihatnya segala tubuh Marakarmah itu habis banyak-banyak dan berlumur dengan darah, dan tiadalah ia bergerak lagi. Maka pada sangka orang dusun itu, sudahlah mati rupanya. Maka diangkatlah dengan tali dari
Halaman 22.
bahunya sampai kepada kakinya, seperti orang mengikat lepet. Demikanlah lakunya ia mengikat Marakarmah itu. Setelah sudah diikatnya, maka di seretlah, dibawanya ke tepi laut, lalu dibuangkannya kedalam laut itu. Maka iapun kembalilah kerumahnya.
//Syahdan, tersebutlah perkataan raja didalam negeri Pelinggam Cahaya itu bernama raja Puspa Indra. Maka bagida itu ada berputra seorang laki-laki, terlalu baik parasnya, bernama raja Mangindera Sari, dan bundanya bernama tuan putri Mandaratna. Terlalu besar kerajaan baginda itu.
//Syahdan, beberapa direngguknya oleh baginda, akan ananda baginda itu hendak diberinya beristri tiada di huwa ia mau. Maka pada suatu hari raja Mengindera Sari itupun pergi memohonkan kepada ayahanda bunda baginda itu, hendak pergi berburu. Maka sambil raja Mengindera Sari, “Pada esok hari tuanku, hamba hendak pergi berburu.”
//Maka bagindapun mengerahkan segala raja-raja dan menteri hulubalang rakyat sekalian serta berlengkap alat perburuan. Setelah dini hari, bintangpun belum padam cahayanya, maka gong pengaruh pun berbunyilah. Maka segala menteri hulubalang rakyat sekalian yang muda-muda itupun mengenakan pakaian masing-masing dengan selengkapnya. Maka raja Mengindera Saripun bermohonlah kepada ayahanda bunda baginda, lalu ia berjalan diiringkan oleh segala raja-raja dan menteri hulubalang rakyat sekalian itu, masuk kedalam hutan tempat perburuan itu.
//Dari pagi-pagi hari, jangankan beroleh kijang menjangan lalat lagi pun tiada melintas. Maka raja Mengindera Saripun dahagalah sangat, hendak minum air. Maka orangpun pergilah mencarikan air.
//Adapun akan tuan putri
Halaman 23.
Nila Kesuma itupun duduk dibuah pohon beringin menantikan kakanda itu tiada juga datang sampai tengah hari. Maka iapun menangis terlalu sangat, seraya katanya, “Aduhai kakanda, sampai hati kakanda meninggalkan adinda didalam hutan rimba belantara ini. Matilah adinda dimakan oleh binatang yang ada didalam hutan ini.” maka burung itupun dipegangilah juga sambil menangis itu.
//Maka orang yang disuruh mencari air itupun sampailah kepohon beringin itu. Maka dilihatnya ada seseorang kanak-kanak menangis, memegang seekor burung. Terlalu baik parasnya, maka iapun segeralah mengambil air  itu, lalu ia kembali mendapatkan raja Mengindera Sari itu.
//Maka kata baginda, “Lamanya engkau pergi mengambil air ini?”
//Maka iapun persembahkan seperti penglihatannya dari hal kanak-kanak itu kepada baginda, “Entah anak bidadari gerangan entah anak indera gerangan tuanku, terlalu amat baik parasnya. Ia memegang seekor burung tuanku.
//Maka baginda itupun berangkatlah pergi melihat kanak-kanak itu. Setelah sampai ia kepada pohon kayu beringin itu, maka dilihatnya sungguh ada kanak-kanak itu menangis. Ia memegang seekor burung. Terlalu amat baik parasnya, seperti anak-anakan kencana rupanya. Maka kata raja Mengindera Sari kepada perdana menterinya hanya memandu, “Ambilah kanak-kanak itu, kita bawa pulang kerumah kita. Karena haripun telah petang, seekor binatang tiada kita peroleh, perburuan baik kita kembali.”
//Maka sahut perdana menteri, “Baiklah tuanku!” Maka diambil oleh perdana menteri kanak-kanak itu didukungnya seraya katanya, “Janganlah tuan menangis, diamlah tuan mari kita pulang kerumah kita.” Maka raja Mengindera Saripun berangkatlah
Halaman 24.
kembali diiringkan oleh segala raja-raja [dan] menteri hulubalang rakyat sekalian itu. Setelah sampai ke pasar, maka orang pasarpun gemparlah. Mengatakan raja Mengindera Sari mendapat kanak-kanak didalam hutan, terlalu baik parasnya, maka masing-masing ditanya melihat kanak-kanak itu.
//Setelah sampai ke istananya itu, maka baginda dewa lagi istripun keluarlah melihat ananda baginda itu datanglah. Maka kanak-kanak yang didapatnya oleh raja Mengindera Saripun disuruh oleh baginda dudukkan. Dikata istrinya seraya katanya, “Anak siapa gerangan ini? Terlalu amat baik parasnya. Beruntung juga ananda beroleh anak perempuan yang baik parasnya. Peliharalah baik-baik oleh adinda.” Maka disuruh oleh tuan putri Mandiratna mandikan kepada dayang-dayangnya itu masing-masing dengan jawatannya.
//Ada yang membawa bedak, ada yang membawa limu, [dan] ada yang membawa kain. Maka dibedakkannyalah oleh segala dayang-dayang itu, dan dilanggarinyalah, dan dimandikannya. Setelah sudah mandi itu, {maka} lalu dipakaikannya. Maka didukungnyalah itu, lalu dibawa kehadapan baginda lagi istri. Maka disuruh baginda ambilkan gelang dan subang dan cincin dan rantai emas dengan selengkapannya, seperti pakaian anak raja-raja. Maka demikianlah dipakaikan akan kanak-kanak itu. Setelah  sudah dipakaikan itu, maka makanlah, bertambah-tambah elok parasnya seperti anak-anakan emas yang sudah tersepuh.
//Demikianlah rupanya, maka terlalu sakit hati baginda lagi istri melihat rupanya itu. Maka lalu dinamai oleh baginda akan kanak-kanak itu, tuan putri Mayang Mengurai. Maka titah baginda kepada segala inang pengasuhnya banyak2lah engkau sekalian memeliharakan akan anakku janganlah ...






BAB V
SIMPULAN
Agar dapat memahami isi cerita, setiap naskah kuno atau naskah lama, harus melalui tahap translitersi, tahap penyuntingan dan tahap terjemahan. Tahap transliterasi adalah tahap pengalihaan huruf, tahap penyuntingan adalah tahap pengaturan, dan tahap terjemahan adalah tahap pengalihan bahasa.
Pada penelitian Hikayat Si Miskin yang menggunakan huruf Arab-Melyu pegon, diperlukan tahap transliterasi dari huruf pegon ke huruf latin, dan tahap penyuntingan untuk mengtur tata letak, tata bahasa, dan tanda baca. Untuk meneliti Hikayat Si Miskin ini tidak diperlukan tahap terjemahan karena naskah tersebut sudah merupakan bahasa Melayu, yang sama seperti bahasa Indonesia.
Setelah dilakukan penyuntingan terhadap naskah tersebut, diketahuilah inti dari cerita Hikayat Si Miskin halaman sembilan belas hingga hingga puluh empat adalah ketika Marakarmah dan Nila Kesuma berada di hutan. Mereka kelapran, dan menangkap burung hendak dibakar. Oleh karena itu Marakarmah pergi kesuatu desa untuk meminta api. Saat tiba disuatu kebun, Marakarmah malah dituduh mencuri oleh pemilik kebun, sehingga ia dibuang kelaut. Sementara itu, Nila Kesuma ditemu oleh Mangindera Sari didalam hutan dan di bawa ke istana Pelinggam Cahaya.
Karena penelitian ini hanya meneliti enam lembar dari halaman sembilan belas hingga dua puluh empat, maka tidak seluruhnya isi hikayat dipahami. Oleh karena itu akan dihadirkan sinopsis dari cerita Hikayat Si Miskin. Sinopsisnya sebagai berikut :

Hikayat Si Miskin

Akibat kutukan Batara Indra, raja Keindraan jatuh miskin beserta istrinya. Mereka hidup miskin dan terlunta-lunta di kerajaan Antah Berantah yng dipimpin oleh raja Maharaja Indra Dewa. Semua orang menghina dan melempari pasangan si Miskin itu, sehingga si Miskin tidak berani masuk ke kampung.

Ketika mengandung 3 bulan, istrinya mengidamkan buah mempelam (sejenis mangga) yang tumbuh di halaman istana raja. Dimintanya agar suaminya (si Miskin) meminta buah mempelam itu kepada raja. Mendekat kampung saja suaminya tidak berani, apalagi hendak menghadap raja minta buah mempelam itu. Dengan sedih dan meratap istrinya memohon supaya suaminya mau meminta mempelam raja itu. Karena kasihan kepada istrinya si Miskin mencoba meminta mempelam itu.

Tiada disangka-sangka, raja sangat bermurah hati dan memberikan mempelam yang diminta si Miskin. Buah lain seperti nangka pun diberi raja. Penduduk kampung yang melihatnya jatuh kasihan dan bermurah hati memberi si Miskin kue dan juadah. Mungkin berkat tuah anak yang dikandung istrinya juga hal yang demikian itu terjadi. Pada hari baik, setelah cukup bulannya, istri si Miskin melahirkan seorang putra yang sangat elok parasnya. Anak itu diberi nama Marakermah yang artinya anak dalam penderitaan.

Ketika si Miskin menggali tanah untuk memancangkan tiang atap tempat berteduh, tergali olehnya taju (topi mahkota) yang penuh berhias emas. Dengan kehendak Yang Mahakuasa, terjadilah sebuah kerajaan lengkap dengan alat, pegawai, pengawal, dan sebagainya di tempat itu. Si Miskin menjadi rajanya dengan nama Maharaja Indra Angkasa dan istrinya menjadi permaisuri dengan nama Ratna Dewi. Kerajaan itu mereka namakan Puspa Sari.

Kerajaah Puspa Sari terkenal ke mana-mana. Pemerintahannya baik, rakyatnya aman, damai, makmur, dan sentosa. Tiada lama kemudian lahirlah pula adik Marakermah yang diberi nama Nila Kesuma. Bertambah mahsurlah kerajaan Puspa Sari dan bertambah pula iri hati Maharaja Entah Berantah.

Kemudian tersiar kabar, bahwa Maharaja Indra Angkasa mencari ahli nujum untuk mengetahui peruntungan kedua anaknya kelak. Kesempatan ini dipergunakan Maharaja Indra Dewa. Semua ahli nujum dikumpulkannya dan dihasutnya supaya mengatakan kepada Indra Angkasa bahwa Marakermah dan Nila Kesuma akan mendatangkan mala petaka dan akan menghancurkan kerajaan Puspa Sari. Semua ahli nujum mengatakan seperti yang dihasutkan oleh Maharaja Indra Dewa.

Mendengar kata-kata ahli nujum itu sangatlah murka Maharaja Indra Angkasa. Marakermah dan adiknya hendak dibunuhnya. Permaisuri Ratna Dewi menangis tersedu-sedu, memelas dan memohon kepada suaminya supaya kedua putranya jangan dibunuh. Ia tak tahan hati melihat kedua anaknya diperlakukan demikian. Dimohonnya kepada suaminya supaya dibiarkan saja kemana perginya mereka. Sambil disepak dan diterjang, pergilah kedua anak itu mengembara tanpa tujuan. Sesaat setelah mereka pergi, kerajaan Puspa Sari terbakar habis, semuanya musnah.

Sampai di kaki bukit, berteduhlah Marakermah dengan adiknya, Nila Kesuma, di bawah sebatang pohon dalam keadaan lapar. Tertangkaplah oleh Marakermah seekor burung yang sedang hinggap di dekatnya. Karena lapar, mereka hendak memakan burung itu, dan berusaha hendak memasaknya lebih dahulu. Datanglah mereka ke pondok seorang petani hendak minta api untuk membakar burung itu. Tiba-tiba mereka ditangkap petani karena dituduh hendak mencuri. Keduanya dilemparkan ke laut dan diterjang ombak ke sana kemari. Nila Kesuma akhirnya terdampar di pantai dan ditemukan oleh Raja Mengindra Sari, putra mahkota kerajaan Palinggam Cahaya. Nila Kesuma dibawa ke istana, kemudian dipersunting raja Mangindra Sari, menjadi permaisurinya dengan gelar Putri Mayang Mengurai.

Marakermah dibawa arus dan terdampar di pangkalan (tempat mandi di pantai) nenek gergasi (raksasa tua). Kemudian ia diambil dan dimasukkan dalam kurungan di rumahnya. Kebetulan di situ telah dikurung pula Putri Raja Cina bernama Cahaya Khairani yang tertangkap lebih dahulu. Mereka ini akan dijadikan santapan sang gergasi.

Sebuah kapal besar menghampiri perahu mereka dan mereka ditangkap lalu dimasukkan ke kapal. Nahkoda kapal jatuh cinta kepada Cahaya Khairani. Cahaya Khairani dipaksa masuk ke kamar nakhoda dan Marakermah dilemparkan ke laut. Kapal meneruskan pelayarannya.

Dalam keadaan terapung-apung, setelah kapal berlayar jauh Marakermah ditelan seekor ikan nun (ikan yang sangat besar). Ikan itu terdampar di pangkan Nenek Kebayan. Seekor burung rajawali terbang di atas pondok Nenek Kebayan dan memberitahukan supaya perut ikan nun yang terdampar di pantai itu ditoreh (dibuka) hati-hati, karena di dalamnya ada seorang anak raja. Petunjuk burung itu diikuti Nenek Kebayan dan setelah perut ikan nun ditoreh, keluarlah Marakermah dari dalamnya. Mereka sama-sama senang dan gembira. Lebih-lebih Nenek Kebayan yang mendapatkan seorang putra yang baik budi.

Marakermah tinggal di rumah Nenek Kebayan dan sehari-hari turut membantu membuat karangan bunga untuk dijual dan dikirim ke negeri lain. Dan cerita Nenek Kebayan tahulah Marakermah, bahwa permaisuri kerajaan tempat tinggal mereka bernama Mayang Mengurai yang tidak lain daripada seorang putri yang dibuang ke laut oleh seorang petani ketika hendak mencari api untuk membakar seekor burung bersama kakaknya. Yakinlah Marakermah bahwa putri itu sesungguhnya adiknya sendiri.

Kebetulan Cahaya Khairani maupun Mayang Mengurai sangat menyukai karangan bunga Nenek Kebayan yang sebenarnya Marakermahlah yang merangkainya. Pada suatu ketika dicantumkannya namanya dalam karangan bunga itu. Dari nama itu Cahaya Khairani dan Nila Kesuma mengetahui bahwa Marakermah masih hidup. Bertambah dalam cinta Cahaya Khairani kepada kekasihnya. Demikian juga Nila Kesuma bersama suaminya, berkemauan keras untuk segera mencari kakaknya, Marakermah, ke rumah Nenek Kebayan itu.

Betapa gembira mereka atas pertemuan itu tak dapat dibayangkan. Dengan mudah pula Marakermah bersama iparnya, Raja Palinggam Cahaya, dapat menemukan tempat Cahaya Khairani disembunyikan oleh nakhoda kapal. Setelah Cahaya Khairani ditemukan, dan ternyata ia belum ternoda oleh sang nakhoda, maka dilangsungkanlah acara pernikahan antara Marakermah dengan Cahaya Khairani, dan nakhoda yang menggoda Cahaya Khairani dibunuh di Kerajaan Palinggam Cahaya. Marakermah bersama Cahaya Khairani kemudian pergi ke tempat ayah-bundanya yang telah jatuh miskin di Puspa Sari. Dengan kesaktiannya, Puspa Sari yang telah lenyap itu diciptakannya kembali menjadi kerajaan yang lengkap dengan isinya di daratan Tinjau Maya, yaitu Mercu Indra. Kemudian ia dinobatkan di sana menggantikan mertuanya.

BAB VI
DAFTAR PUSTAKA RUJUKAN

ü  Naskah Arab Melayu asli Hikayat Si Miskin






















LAMPIRAN : Naskah Asli Cerpen hikayat SI MISKIN

1 comment:

  1. Perkenalkan nama Dadang suhaya
    Menerima amanat walisongo mewakili batu batu kuno ditemukan para pekerja proyek sekitar wilayah Sumedang 2014 lalu

    Mau tanya alamat lengkap diBandung Balai /litbang pengkajian batu, kulit bertuliskan arab pegon untuk diungkap sejarah dan nilai budayanya

    ReplyDelete

thanks for reading (^o^)