Thursday, July 14, 2011

Makalah Filologi

BAB 1
Filologi sudah dipakai sejak abad ke-3 SM oleh sekelompok ahli dari Aleksanderia yang kemudian dikenal sebagai ahli filologi. Yang memakai pertama adalah Erastothenes.Filologi berasal dari kata Yunani philos ‘cinta’ dan logos ‘kata’, yang dapat berarti ‘cinta kata’ atau ‘senang bertutur’. Arti ini kemudian berkembang menjadi ‘senang belajar’, ‘senang ilmu’, dan ‘senang kesastraan’ atau ‘senang kebudayaan’.
- Pada abad ke-3 SM mereka hanya berusaha mengkaji teks-teks lama. Karena luasnya jangkauan teks klasik maka filologi juga berarti ilmu tentang segala sesuatu yang pernah diketahui oleh orang (August Boekh dalam Rene Wellek, 1956). Filologi dipandang sebagai pintu gerbang yang menyingkap khazanah masa lampau. - Filologi pernah dipandang sebagai sastra secara ilmiah. Teks-teks yang dikaji bernilai sastra tinggi ialah karya Humeros. Keadaan tersebut membawa filologi pada suatu arti yang memperhatikan segi kesastraannya (Wagentvoort, 1947).- Filologi dipakai juga sebagai istilah untuk menyebut studi bahasa atau ilmu bahasa (linguistik). Kahian utama filologi adalah bahasa, terutama bahasa teks-teks lama. Bidang bahasa yang ditelaah adalah bidang yang beraspek masa lampau.- Suatu naskah dipandang sebagai suatu penciptaan baru yang mencerminkan perhatian aktif dari pembacanya. Sebagai kegiatan yang kreatif untuk memahami teks, menafsirkan, membetulkan dan mengkaitkannya dengan ilmu bahasa, sastra, budaya, keagamaan dan tata politik  yang ada pada zamannya. Filologi pada aspek ini disebut  filologi modern
- Objek kajian Filologi sendiri adalah naskah dan teks. Yang dibicarakan ialah hal mengenai seluk-beluk naskah, teks, dan tempat menyimpan naskah. Naskah Nusantara mengemban aneka ragam aspek kehidupan sosial, ekonomi, politik, agama, kebudayaan, bahasa dan sastra. Naskah disimpan di perpustakaan-perpustakaan  dan 26 museum di berbagai Negara. Sebagian naskah masih ada yang disimpan perseorangan, misalnya naskah Aceh, Melayu, dan Jawa.
Tujuan umum filologi  :memahami kebudayaan suatu bangsa melalui hasil sastranya. mengerti makna dan fungsi teks bagi masyarakat penciptanya. mengungkap nilai-nilai budaya lama. melestarikan kebudayaan. Tujuan khusus filologi :menyunting teks yang dinilai dekat dengan teks aslinya. mengungkap sejarah dan perkembangan teks. mengungkap resepsi pembaca pada setiap kurun penerimanya.
BAB IIKEDUDUKAN FILOLOGI DIANTARA ILMU LAIN
Filologi memandang ilmu-ilmu lain sebagai ilmu bantuya, sebaliknya, ilmu-ilmu lain menganggap filologi sebagai ilmu bantunya. Maka dari sinilah akan tampak adanya hubungan timbal balik dan saling membutuhkan antara filologi dengan ilmu-ilmu lainnya.Mengingat objek kajian filologi adalah bahasa, filologi memerlukan ilmu Bantu yang erat hubungannya dengan bahasa, masyarakat dan budaya yang melahirkan naskah tersebut. Ilmu yang membutuhkan filologi dan Ilmu yang dibutuhkan filologi antara lain :1.      LinguistikCabang linguistik yang dapat membantu filologi antara lain :-   Etimologi, ilmu yang mempelajari asal-usul dan sejarah kata.- Fonologi, morfologi, dan semantik, mempelajari bunyi bahasa, pembentukan kata dan makna kata.- Sosiolinguistik, mempelajari hubungan dan pengaruh antara perilaku bahasa dan perilaku masyarakat untuk membantu pengungkapan keadaan sosial budayanya yang terkandung dalam naskah.- Stalistika, menyelidiki bahasa sastra, khususnya gaya bahasa, dalam pencarian teks asli dan dalam penentuan usia teks.
Ahli linguistik mempercayakan pembacaan teks-teks lama kepada para ahli filologi dan ahli epigram. Ahli linguistic menggali dan menganalisis seluk-beluk bahasa tulis yang umumnya berbeda dengan bahsa sehari-hari.2.      Pengetahuan bahasa yang mempengaruhi teks- Bahasa Sansekerta, digunakan untuk pengkajian naskah-naskah Jawa, khususnya Jawa Kuna.- Bahasa Arab, diperlukan untuk pengkajian naskah-naskah yang terkena pengaruh Islam, khususnya yang berisi ajaraan Islam dan tasawuf atau suluk.- Bahasa Daerah Nusantara, diperlukan untuk penggarapan naskah Nusantara yang erat kaitannya dengan bahasa naskah.3.      Ilmu SastraIlmu sastra telah dipelajari sejak zaman Aristoteles, Buku Poetika, hasil karya sastra Aristoteles yang sangat terkenal adalah tentang teori  sastra yang paling awal (Sutrisno, 1981 : 6).Berdasarkan cara menerangkan dan menilai karya sastra, Abrams membedakan tipe-tipe pendekatan menjadi empat, pendekatan mimetik, pendekatan pragmatik, pendekatan ekspresif, pendekatan objektif.Bantuan filologi kepada ilmu sastra berupa penyuntingan naskah lama dan hasil pembahasan teks yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan penyusun sejarah sastra ataupun teori sastra.Hasil kajian terhadap teks-teks sastra lama akan sangat berguna untuk penyusunan teori-teori ilmu sastra yang betul-betul bersifat umum.4.      Agama Hindu, Budha dan IslamDiperlukan sebagai bekal penanganan sebagian besar naskah-naskah Nusantara, terutama naskah yang berisi keagamaan yang biasa disebut sastra kitab.Suntingan naskah, terutama naskah yang mengandung teks keagamaan / sastra kitab, hasil kandungannya menjadi bahan perkembangan penulisan yang berguna. Penanganan naskah sastra kitab secara filologis akan sangat bermanfaat bagi ilmu sejarah perkembangan agama.5.      Sejarah kebudayan dan Adat IstiadatMelalui sejarah kebudayaan akan diketahui pertumbuhan dan perkembangan unsur-unsur budaya suatu bangsa, adat istiadat,  kepercayaan, kesenian, dan lain-lain. Karena itu, pendekatan historis berunsur sistem kemasyarakatan, kesenian, ilmu pengetahuan dan agama. Filologi banyak mengungkap khazanah ruhaniah warisan nenek moyang, misalnya kepercayaan, adapt istiadat, kesenian, dan lainnya.Banyak naskah nusantara yang merekam adat istiadat. Dalam khazanah sastrra Nusantara terdapat teks sebagai hukum Melayu disebut dengan ‘undang-undang’, dalam Jawa disebut ‘angger-angger’.
6.      AntropologiAhli filologi dapat memanfaatan hasil kajian atau metode antropologi sebagai suatu ilmu yang berobjek penyelidikan manusia dari segi fisiknya, masyarakatnya, dan kebudayaannya.7.      FolklorUnsur-unsur budaya folklore digolongkan menjadi dua, yaitu :1.      Golongan unsur budaya bersifat lisan. Seperti, mitologi, legenda, cerita asal-usul sesuatu, cerita pelipurlara, dongeng, mantera, tahyul, teka-teki, peribahasa, drama tradisional.2.      Golongan unsur budaya berupa upacara-upacara. Upacara yang mengiringi kelahiran, perkawinan, dan kematian.
Penggarapan naskah-naskah lama Nusantara memerlukan bekal teori dan pengetahuan bahasa, sastra, agama, dan sosial budaya bangsa yang melahirkannya.8.      Ilmu SejarahMelalui proses pengkajian filologis, naskah dimanfaatkan sebagai sumber sejarah yang bersifat histories dan melukiskan peristiwa-peristiwa yang sezaman dengan penulisnya.Naskah-naskah Nusantara dipandang berisi banyak sejarah yang cukup banyak. Misalnya, Negarakertagama, Pararaton (Jawa Kuno), Babad Tanah Jawi, Babad Dipanegara (Jawa Baru), Sejarah Melayu, Hikayat Raja-raja Pasai, Hikayat Aceh, dan Hikayat Banjar (Melayu), batu nisan Sultan Malikus Salih (Aceh)9.      Ilmu FilsafatKehidupan masyarakat tradisional Nusantara tampak didominasi oleh nilai-nilai seni dan agama.Pemikiran rasional yang disebut ‘filsafat’ baru muncul setelah mendapat pengaruh islam. Sumbangan utama filologi kepada filsafat adalah berupa suntingan naskah disertai dengan transliterasi dan terjemahan dalam bahasa nasional.BAB IIISejarah Perkembangan Filologi
1.      Filologi di Eropa Daratan- Ilmu filologi berkembang di kawasan Yunani di kota Iskandariyah, benuda Afrika. Pada abad ke-3 SM, bangsa ini berhasil membaca naskah Yunani Lama yang ditulis pada abad ke-8 SM dengan huruf bangsa Funisia dan ditulis dari bahan  daun papyrus pada satu sisi dengan benda runcing.Sejak terjadinya Kristenisasi di benua Eropa, kegiatan di Romawi Barat dilakukan untuk menelaah naskah keagamaan oleh pendeta. Sejak abad ke-4, teks mulai diulis dalam bentuk buku yang disebut codex, berbahan dari kulit binatang (domba), dikenal dengan naam perkamen (Belanda perkament dan Inggris perchament).- Telaah teks Yunani di Romawi Barat mulai kendur, maka di Romawi Timur mulai muncul pusat-pusat studi teks Yunani, yang masing-masing merupakan pusat studi dalam bidang tertentu, misalnya Iskandariyah menjadi pusat studi bidang filsafat., Beirut pada bidang hukum.Untuk mendapatkan tenaga filologi muncullah mimbar-mimbar kuliah filologi diberbagai perguruan tinggi.- Peralihan zaman Pertengahan ke zaman Baru dikenal dengan istilah Renaisans. Pada zaman Renaisans ini, telaah teks lama timbul kembali. Penemuan mesin cetak oleh Gutenberg dari Jerman pada abad ke-15 menyebabkan perkembangan baru pada dunia filologi. Terbitan dengan mesin cetak menjadi lebih banyak dan kesalahan cetak juga diperkecil.- Negara Timur Tengah mendapat ide filsapati dan ilmu eksakta dari bangsa Yunani Lama. Akhir abad ke-18, di Paris didirikan pusat studi kebudayaan ketimuran oleh Silvester de Sacy dengan naam ‘Ecole des Langues’De Sacy dipandang sebagai Bapak para orientalis di Eropa, karena dari Ecole de Langues, lahir banyak orientalis Eropa dalam bidang telaah karya tulis kawasan Timur Tengah.
2.      Filologi di Asia IndiaStudi filologi terhadap naskah-naskah telah berhasil membuktikan khazanah kebudayaan Asia serta kebudayaannya dan membuka hubungannya dengan kawasan di luar Asia.Keluhuran budaya India telah terungkap dengan berbagai penelitian dokumen tulis, seperti prasasti serta naskah kuno. Naskah India yang tertua berupa kesastraan Weda, kitab suci agama Hindu yang mengandung 4 bagian (Regweda, Samaweda, Yajurweda, dan Atarwaweda).Selain naskah yang berisi keagamaan, naskah India juga berisi wiracarita, misalnya Mahabarata dan Ramayana.
3.      Filologi di Kawasan Nusantara- Nusantara adalah kawasan yang termasuk Asia Tenggara. Para pedagang menilai naskah-naskah lama itu sebagai barang dagangan yang menguntungkan. Para pedagang mengumpulkan naskah-naskah itu dari perorangan atau tempat yang memiliki koleksi naskah, kemudian dibawa ke Eropa dan dijual kepada perseorangan ataupun kelompok.- Seorang penginjil terkenal yang menaruh minat kepada naskah-naskah Melayu adalah Dr. Melchior Leijdecker (1645-1701). Setelah ia meninggal, terjemahan Beibel baru diterbitkan, karena diperlukan penyempurnaan dan revisi yang cukup.Penginjil lain yang akrab dengan bahasa dan sastra Melayu adalah G. H. Werndly. Dia menyusun daftar naskah-naskah Melayu 69 naskah dan memberi diskripsi pendek.Penginjil di kirimkan ke daerah berbahasa Jawa, Melayu, Dayak (Kalimantan), Batak (Sumatera), Bugis dan Makasar, daerah Sunda, kepulauan Nias, tidak hanya untuk menelaah filologi, tetapi juga menerjemahkan naskah itu  ke dalam bahasa asing.- kegiatan filologi terhadap naskah Nusantara telah mendorong berbagai kegiatan ilmiah yang hasilnya dimanfaatkan sebagai disiplin  humaniora dan disiplin ilmu sosial. Semua kegiatan itu telah memenuhi tujuan filologi, melalui telaah dapat membuka kebudayaan bangsa dan mengangkat nilai luhur didalamnya.BAB IVTeori Filologi dan Penerapannya
1. Naskah dan Teks- Objek filologi adalah tulisan tangan yang disebut naskah atau handscrift. Menurut Zoetmulder, bahan naskah untuk karya Jawa Kuna adalah karas, semacam papan atau batu tulis. Sedangkan menurut Robson mbahan yang digunakan adalah lontar (ron tal ‘daun tal’ atau ‘daun siwalan’), dan dluwange, kertas Jawa dari kulit kayu.Naskah Bali dan Lombok memakai lontar, naskah Batak memakai kulit kayu, bamboo, rotan. Kertas Eropa yang kualitasnya lebih baik didatangkan ke Indonesia pada abad ke-18.Perbedaan Naskah dan Prsasti No Perbedaan Naskah Prasasti 1 Bahan Berupa tulisan tangan pada lembaran (daun lontar, kulit kayu, dluwange) Berupa tulisan tangan pada batu.(andesit, berporus, batu putih, marmer, batu bata, logam, dan lainnya) 2 Isi Panjang, karena memuat cerita lengkap. Pendek, karena memuat persoalan yang ringkas. Misalnya, pendirian bangunan suci, asal-usul raja, dll. 3 Keterangan Anonim, tidak berangka tahun. Menyebutkan nama penulisnya dan memuat angka tahun. 4 Jumlah Karena banyak disalin, maka jumlahnya terus bertambah. Tidak disalin, sehingga jumlahnya tidak bertambah, kurang lebih 500 buah.
- Kodikologi adalah ilmu kodeks (bahan tulisan tangan, gulungan atau buku tulisan tangan). Namun setelah seni cetak mulai ditemukan, kodeks berubah arti menjadi buku tertulis. Teks bersih yang ditulis pengarang disebut atograf, sedang salinan oleh orang lain disebut apograf.
- Tekstologi adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk teks. Karena orang ingin memiliki teks sendiri, maka naskah asli diperbanyak, sehingga tak menutup kemungkinan timbulnya berbagai kesalahan atau perubahan. Karena itu jarang ada teks yang bentuk aslinya jelas tersedia.Disinilah tugas filologi untuk memurnikan teks dengan mengadakan kritik terhadap teks. Tujuan kritk teks itu untuk menghasilkan suatu teks yang paling mendekati aslinya.- Untuk mengetahui umur naskah hanya berdasarkan keterangan dari dalam dan luar teks. Biasanya penyalin memberi catatan di akhir teks tentang kapan dan dimana teks itu selesai disalin (kolofon).
2. Kritik Teks- penurunan naskah dilakukan untuk menyelamatkan sekaligus merusk teks asli. Maka para filolog melalui kritik teks akan berusaha mengembalikan teks kebentuk aslinya sesuai norma-norma karya sastra.- Paleografi adalah ilmu macam-macam tulisan kuno atas batu, logam, atau bahan lainnya. Tujuan paleografi adalah untuk menjabarkan tulisan kuna yang sangat sulit dibaca. Selain itu untuk menentukan waktu, tempat, dan bagaimana teks itu dibuat.- Transliterasi artinya mengganti jenis tulisan huruf demi huruf dari abjad satu ke abjad yang lain. Transliterasi harus mempertahankan cirri-ciri teks asli sepanjang hal itu dapat dilaksanakan. Dalam menerjemahkan dapat memakai metode harfiah dan metode bebas agar kemurnian tetap mejaga kemurnian segala lapisan penciptaan teks dalam bahasa asalnya.
3. Metode Penelitian- Dalam meneliti teks, dibutuhkan langkah atau metode untuk meneliti teks,.a. Pencatatan dan Pengumpulan naskah.Pengumpulan naskah dan ulasan-ulasan mengenai naskah yang akan diteliti dapt dicari dari perseorangan atau dari perpustakaan-perpustakaan. Setelah menganalisis berbagai naskah dengan judul yang sama dengan yang aslinya, pembetulan dan mengembalikan teks kepada bentuk yang dipandang asli akan sering dilakukan dengan kritik teks.b. Metode Kritik teks,· Metode Intuitif, mengambil naskah yang dianggap sama dengan yang aslinya, kemudian meneliti kesalahan yang ada dan melakukan oembetulan pada naskah tersebut.· Metode Obyektif, apabila naskah beberapa naskah terdapat kesalahan yang sama, maka naskah-naskah tersebut berasal dari sumber yang sama.· Metode Gabungan, dipakai bila nilai naskah semuanya hampir sama menurut tafsiran filologi. Meskipun terdapat perbedaan antar naskah, perbedaan itu tidak besar.· Metode Landasan, di pakai apabila terdapat satu atau segolongan naskah yang lebih unggul (sudut bahasa, kesastraan, sejarah, dan lain-lain) dibandingkan dengan naskah lain.· Metode Edisi Naskah Tunggal, apabila hanya ada satu naskah / tunggal dalam suatu tradaisi dan tidak mungkin dilakukan perbandingan.c.       Susunan Stema.Contoh Stema :Otograf (teks asli pengarang)

[Image]  
[Image][Image]Arketip (nenek moyang naskah yang tersimpan)
                              Hiparketip (kepala keluarga naskah)  Hiparketip                                          (Alpha)                                                  (Beta)




[Image]
[Image]  
                                          X                                             Y                                     A      B                                     C       D
Ket : Bagan Stema diatas menggambarkan garis keturunan dari atas nenek moyang naskah, sampai kepada naskah penerusnya.4 Rekontruksi TeksTeks direkonstruksi secara bertahap sambil melakukan emendasi (pembetulan) setelah tersusunnya stema. Teks yang telah dikonstruksi dipandang paling dekat dengan teks yang ditulis pengarang.
4. Teori Filologi pada karya sastra lama NusantaraBeberapa pendekatan filologi tradisional diteliti lebih lanjut mengenai struktur versi-versi yang menyimpang serta fungsi cerita itu dalam masyarakat, dan fungsi itu akan memenuhi strukturnya. Ras dan Brakel yang pertama menerangkan fungsi teks.Ras menyimpulkan fungsi teks Hikayat Bandjar untuk mengesahkan sultan yang memerintah, sedangkan Brakel menilai fungsi Hikayat Hanaffiyah untuk menjunjung tinggi martabat Muhammad Hanafiyyah yang mendapatkan penghormatan kerajaan.
BAB VStudi Filologi Bagi Pengembangan Kebudayaan
1.      Filologi dan KebudayaanFilologi adalah suatu pengetahuan luas tentang sastra dalam arti luas. Kebudayaan adalah kelompok adapt kebiasaan, pikiran, kepercayaan, dan nilai turun temurun yang dipakai sekelompok masyarakat pada waktu tertentu.
2.      Filologi dan Kebudayaan NusantaraKebudayaan pada zaman dahulu berada dalam kondisi dan posisi yang belum mapan sehingga mudah menerima pengaruh dari luar. Solidaritas kebudayaan Nusantara waktu itu hanya pada proses memberi dan menerima.Kebudayaan asli Nusantara sebelum kedatangan kebudayaan Hindu, dikuasai oleh nilai-nilai agama, nilai solidaritas, dan nilai seni. Dalam kebudayaan ini, berkuasa pula kerja sama dan tanggung jawab bersama dalam masyrakat kecil. Kepercayan animisme dan dinamisme sangat kental dalam masyarakat.Agama Islam datang di bawa oleh pedagang-pedagang pada abad ke-13. kedatangan islam merupakan ciri zaman baru yang tegas membawa rasionalisme dan pengetahuan.Mempelajari sastra lama tidak saja dekat hubungannya dengan mempelajari sejarah peradaban bangsa pemilik sastra itu, tetapi kita juga bisa merasakan perkembangan kejiwaannya, perasaan, pikiran dan gagasan masyarakat melalui pengarangnya.
3. Filologi Alat Evakuasi dan Sumber Inspirasi Pengembangan KebudayaanUnsur kebudayaan universal adalah sistem teknologi, sistem mata pencaharian, sisem kemasyrakatan, bahasa, sistem pengetahuan, religi dan kesenian. Untuk memahami hasil sastra, khususnya sastra lama, pengetahuan yang memadahi tentang latar belakang penciptaan dan sosiokultural.Mempelajari sejarah memilikiarti yang sangat penting. Ada tiga manfaat dalam mempelajari sejarah (Nugroho Notosusanto, 1964 : 61), yaitu :· memberikan pendidikan· memberi ilham dan inspirasi·memberi kesenangan atau pleasurePedoman memerintah diuraikan berdasarkan sejarah Islam dalam bentuk Hikayat yang disana-sini disertai dalil –dalil kutipan dari Quran dan Hadist, dapat dikaji di Tajussalatin dan Bustanussalatin. Kedua karya itu memberi pelajaran tentang kewajiban memerintah.

No comments:

Post a Comment

thanks for reading (^o^)