Thursday, July 14, 2011

Makalah Teori Semiotik

Dari kodratnya, karya sastra merupakan refleksi pemikiran, perasaan, dan keinginan pengarang lewat bahasa. Bahasa itu akan membentuk sistem ketandaan yang akan dinamakan semiotik dan ilmu yang mempelajari masalah ini adalah semiologi. Semiologi juga sering dinamakan semiotik.
Strukturalisme semiotik adalah struturalisme yang dalam membuat analisis pemaknaan suatu karya sastra mengacu pada semiologi. Semiotik berasal dari kata yunani: semeion yang berarti tanda. Semiologi atau semiotik berarti ilmu tentang tanda-tanda dalam bahasa dan karya sastra.1.1 Zaman semiotik klasikMuncul sejak zaman Yunani. Plato(427-347 SM)  dianggap perintis awal bidang ilmu tanda seperti dalam bukunya Cratylus. Ini diikuti muridnya Aristotle  (394-322  SM) yang menggunakan istilah ‘significant’ dalam tulisannya On Interpretation. Apakah pemberian nama kepada benda berdasarkan pemberian sewenangnya atau atas perjanjian? Muridnya Aristotle menjawab bahwa nama itu ialah soal perjanjian atau konvensi. Soal jawab ini mencetuskan teori bahasa dan makna.
Golongan Stoa (Stoic) menyanggah teori ini. Sukar sekali dipertahankan keunggulannya lalu mengatakan tanda yang paling utama ialah tanda yang dikenali ‘medical symptom’ seperti panas badan menandakan demam. Pendekatan ini  tidak wajar dan sukar untuk dipertahankan keunggulanMelalui kajian Zeno(354-202SM), tokoh aliran Stoa memulakan penelitian tanda tangis dan tertawa.Terdapat perbedaan penanda dan petanda dalam memahami tanda. Tangis seseorang merupakan penanda kerana diamati melalui gerak ekspresi lahiriah, penampilan, nada tangisannya. Makna di sebaliknya  merupakan petanda. Melalui semiotik tangisan mempunyai dwimakna. Pertama, mungkin wujud daripada perasaan sedih  dan kedua kerana kegembiraan.  Ledakan emosi ini menyebabkan seseorang menangis.1.2 Zaman Semiotik Modern Pencetus teori semiotik modern adalah Ferdinand de Saussure (1857-1913) dari Eropa, bapak  ilmu bahasa modern dan Charles Sanders Peirce (1839-1914), ahli falsafah dan ahli logik dari Amerika. De Saussure menggunakan istilah semiologi, manakala Peirce menggunakan istilah semiotik Kedua-dua tokoh berasal dari benua berbeda, namun sama-sama mengemukakan sebuah teori yang secara  prinsipnya tidak berbeza. Jika model de Saussure bersifat semiotik structural (mengambangkan dasar-dasar teori linguistic umum), model Peirce bersifat semiotik analitis (bertumpu pada fungsinya tanda dengan).Ferdinand de SaussureMemperkenalkan  sistem diadik (dyadic), yaitu tanda terdiri daripada lambang (signifier) dan makna (signified), Sausure menyadari bahawa bahasa bukanlah satu-satunya tanda,  ada banyak tanda lain. Akhirnya dikembangkan pengertiannya menjadi ilmu pengetahuan yang meneliti pelbagai sistem tanda. Muncul semiologi yang tidak terbatas pada bahasa dan sastera, termasuk juga seni lukisan, antropologi budaya, falsafah dan psikologi sosial. Pengetahuan Saussure ini dikembangkan di Eropah  oleh Roland Barthes (1964), Ganette, Todorov, Jacques Derida (1968) dan Julia Kristeva (1971), Claude Levi Strauss, Christian Metz, Jean Baudrillard, Andre Martinet, Jeanne Martinet, Georges Mounin, Louis Hjelmslev, Luis Prieto dan Eric Buyssens.

Charles Sanders PeircePeirce (1839-1914) berbangsa USA dalam keluarga akademik dan lepasan Universiti Harvard. Memperkenalkan istilah semiotik dengan merujuk doktrin formal tentang tanda-tanda.- Memperkenalkan hubungan segi tiga triadik (triadic) iaitu tanda dipilih (representamen), makna tanda (interpretant) dan objek (object)- Pada tahap tanda ada tiga jenis, iaitu tanda kualiti (qualisign), tanda individu (sinsign) dan tanda konvensional (legisign)- Pada tahap objek, ada tiga jenis tanda iaitu ikon, indeks dan simbol- Pada tahap makna tanda, ada tiga jenis iaitu tanda berkemungkinan (rhyme), tanda wujud (disisign) dan tanda benar (argument)Doktrin semiotic tersebut dikembangkan oleh ahli falsafah Amerika seperti I.A. Richards, Thomas Sebeok, John Dewey, William James, Charles Morris, J.L. Austin, C.K. Odgen dan J.R.Searle.Louis HjelmslevLouis Hjelmslev seorang penganut Saussure berpandangan bahwa sebuah tanda tidak hanya mengandung hubungan internal antara aspek material (penanda) dan konsep mental (petanda), namun juga mengandung hubungan antara dirinya dan sebuah sistem yang lebih luas di luar dirinya. Bagi Hjelmslev, sebuah tanda lebih merupakan self-reflective dalam artian bahwa sebuah penanda dan sebuah petanda masing-masing harus secara berturut-turut menjadi kemampuan dari ekspresi dan persepsi. Louis Hjelmslev dikenal dengan teori metasemiotik (scientific semiotics).

Roland BarthesRoland Barthes pun merupakan pengikut Saussure yang berpandangan bahwa sebuah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu. Semiotik, atau dalam istilah Barthes semiologi, pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things). Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek-objek itu hendak dikomunikasikan, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda.Barthes menjelaskan signifikasi tahap pertama merupakan hubungan antara penanda dengan petanda di dalam sebuah tanda terhadap realitas eksternal. Barthes menyebutnya sebagai denotasi (sistem pemaknaan tingkat pertama), yaitu makna paling nyata dari tanda. Konotasi adalah istilah yang digunakan Barthes untuk menunjukkan signifikasi atau sistem pemaknaan tahap kedua. Hal ini menggambarkan interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai-nilai dari kebudayaannya. Konotasi mempunyai makna yang subjektif atau paling tidak intersbujektif.

No comments:

Post a Comment

thanks for reading (^o^)