Thursday, July 14, 2011

One Years Ago

“Huft…Akhirnya dua tiket Sang Pemimpi sudah berada ditangan.” aku lega karena sudah mendapatkan dua tiket untuk nonton bersama Tiko.
Dihari setahun jadian ini, tepat dihari valentine, aku nggak mau menyia-nyiakan waktu untuk bertemu cintaku. Kurelakan untuk nggak mengikuti khursus piano hari ini, padahal seminggu lagi aku akan konser di Malaysia.
Sudah aku edarkan pandangan mataku keseluruh penjuru Mall, tapi sama sekali tak kutemukan batang hidungnya Tiko yang mancung. Setengah jam aku mengitari Mall tanpa tujuan. Dua gelas teh segar telah kuhabiskan sembari aku berjalan berkeliling.

Perasaanku mulai tak karuan. Masalah terbesar saat ini yang muncul di otakku adalah bahwa Tiko tak akan datang siang ini karena Rena, temannya sejak kecil yang dirawat dirumah sakit karena kecelakaan. Kalupun Tiko datang, pasti pengen cepetan pulang dengan berbagai alasan.
Satu bulan ini sikap Tiko berubah drastis sama aku. Yang tadinya dia selalu nelpon duluan, sekarang kalo aku nggak nelpon, dia nggak bakalan menelponku. Yang dulunya sering mengucapkan cinta dengan tulus kepadaku, sekarang tak pernah mengucapkan cinta dengan tulus, bahkan jika aku tak memintanya, dia nggak akan say I love you.
Segera kutepis pikiran buruk itu jauh-jauh. Mungkin saja Tiko benar-benar sibuk, sehingga terlambat datang, satu jam!


Honey, aku tnggu km d kafe Melody.
Ak cpek nguin km.
Cpt dtg, y?
Luph u ^.^
Sending Msg…

“Huuh…” aku putuskan untuk menunggunya di Kafe Melody, tempat dimana aku dan Tiko sering makan.
Hiasan pernak-pernik serba merah dan pink memenuhi setiap sudut ruangan Kafe Melody. Pengunjung disini datang bersama pasangan, tak hanya pasangan kaula muda yang membuatku iri, tapi para keluarga yang harmonis juga membuatku kangen dengan Papa Mama yang sedang dinas.
Saat aku mengantri di kasir, ponselku menyanyikan lagu Jomblowati dari She, itu pertanda ada panggilan. Entah kenapa aku sangat suka lagunya She. Yah, walaupun nggak mencerminkan statusku, sih.
“Keyla, lihat ke belakang. Tuut…tuut…tuut..”
Mataku telah mengangkap sesosok yang telah aku tunggu sejam yang lalu. Tiko telah berada disudut meja pojok belakang.
“Malam, Mbak, mau pesan apa?” sapa pelayan dengan ramah.
“Ehm… Yakiniku dua, lemon tea dua, sama es krim dua.”
“Yakinikku dua, lemon tea dua, es krim dua.” kata Mbak KFC mengulangi pesananku untuk memastikan tak ada kesalahan. “Semuanya Rp. 60.000,00-“ lanjut Mbaknya.
“Ini, Mbak.” Aku menyodorkan selembar limapuluh ribuan dan sepuluh ribuan.
“Yakinikku dan dua es krim akan diantarkan lima menit lagi. Terimakasih.” tak lupa dengan senyuman yang ramah.
Dengan hati riang, aku menuju meja yang telah dipilih Tiko untuk kami berdua menikmati hari yang penting ini.
“Hai, sorry bikin kamu nunggu lama banget, Keyla.” tangannya merengkuh tanganku.
Wajahnya kali ini berbeda, penuh penyesalan dan terlihat gelisah. Nada bicaranya juga terbata-bata, seperti saat ia menembakku setahun dulu.
“Nggak pa-pa. tapi kenapa wajahmu gelisah? Apa ada masalah yang ingin kamu omongin sama aku?” tanyaku lembut sembari mengusap punggung tangannya yang kaku.
“Sorry, aku ingin kita…” wajahnya tertunduk.
“Jangan katakan hal yang menyakitkan itu dihari jadian kita. Aku mohon, please!” aku menarik tanganku.
Sorot matanya seakan menjawab ‘aku ingin kita putus’. Petir datang tiba-tiba disaat manusia sedang menikmati terbitnya matahari dengan sianrnya yang cerah.
“Aku mohon, mengertilah Key.” Aku tahu kalau matanya benar-benar memohon kepadaku.
“Sekarang, kamu pilih dia atau Aku?!” setetes air mata kananku tak kusangka akan menetes dan menghilang dengan cepatnya.
“Aku tak ingin memilih antara kamu dan Rena. Kamu begitu penting untukku.”
“Kalau begitu, pilih Aku!” tak ada jawaban dari mulutnya. “Aku kira aku bisa mempercayaimu, tapi nyatanya? Sekarang pergi dari hidupku!” sebisa mungkin kutekan emosiku.
“Maaf.” Tiko pergi meninggalkan aku yang termangu duduk tanpa tulang, lemas, tak berdaya untuk mencegahnya.
Hanya sepotong maaf yang disisakannya untukku, sedangkan potongan cintanya, telah berpindah haluan kepada Rena, sahabat kecilnya yang sekarang terkulai lemah tak berdaya di Rumah Sakit karena.
Aku tahu ini akan terjadi, Tiko akan lebih memilih Rena ketimbang aku, pacarnya. Rena memang lebih membutuhkan Tiko daripada aku. Lima belas menit aku duduk sendirian dengan porsi menu yang sudah terkuras habis.
Memang ini kebiasaanku untuk makan banyak ketika sedang bersedih. Aku memakan tulang paha ayam dengan kerasnya, sehingga suara yang dihasilkan karena retaknya tulang itu terdengar agak keras ketimbang omelanku kepada Tiko tadi.
“Egheem…kayaknya sendirian, nih?” seorang cowok menghampiriku.
“Eh, i….iya.” aku kagok setengah mati.
Bayangin aja, jari-jariku yang barusan di meni pedi minggu lalu, nggak kelihatan cantiknya karena belumuran saus dan sambal. Dan parahnya lagi, cowok itu melayangkan gugatan bersalaman denganku.
“Ups…” aku menunjukkan kesepuluh jariku yang kotor karena saus.
“Okeilah. By the way, senidirian kok makannya banyak, paha ayam, yakinikku, dua pepsi? Hati-hati nanti gendut, lho?” guraunya yang membuatku tersenyum kecil.
Aku nggak mau menunjukkan deretan gigi-gigiku yang belum jelas kuketahui gimana nasibnya setelah makan beraneka ragam makanan. Jangan-jangan ada sayuran hijau yang nyelip digigi, atau tulang ayam yang nancep di gigi taring, seperti vampire. Hii…
Tanpa minta persetujuan darinya, aku ngacir ke toilet untuk cuci tangan dan memastikan nggak ada sesuatu yang nyelip digigi.
“Emang aku pengen gendut, biar nggak ada cowok yang suka sama aku, terus aku nggak bakal dikecewain lagi.” kataku saat duduk dimejaku kembali sambil mencomot es krim waffle sunday, pencuci mulut.
“Ooh…ceritanya barusan patah hati, nih?” ia menggodaku, mencondongkan wajahnya kearah es krim yang tersisa satu.
Melihat wajahnnya yang semanis es krim ini, aku tak tega memakan es krim lezat ini sendirian.
“Makan aja kalo mau, dari pada nanti air liurmu membanjiri kafe ini? Haha…” aku tertawa. “Aku tertawa? Kamu percaya nggak, padahal tadi aku hampir menangis sendirian, Aku nggak yangka aku bisa tertawa, bersamamu.”
Dia terus mencomot es krimnya, nggak dengerin perkataanku. Tapi aku bersyukur dia nggak dengar omonganku tadi. Nanti apa pikirnya kalo seorang cewek bisa cepet berpindah hati, padahal barusan putus. Tengsin, donk.
“Sorry, Lo tadi ngomong apa? Ehm, gue Nendra.” setelah memperkenalkan dirinya, Nendra sibuk kembali menghabiskan sisa-sisa es krimnya.
“Dasar!”
“Yaah, udah habis. Ehm, jalan, yuk?” Nendra menarik tanganku dengan lembut.
***
TIIN…TIIN… Klakson mobil Nendra berteriak didepan rumahku. Aku segera bergegas turun menemuinya.
“Cantik.” Mendengar pujian tulusnya, aku merasa grogi.
Padahal aku hanya memakai kaos abu-abu lengan panjang, jeans hitam dan dipadukan dengan kalung berliontin cincin, hadiah dari Nendra saat ia menembakku setahun yang lalu.

No comments:

Post a Comment

thanks for reading (^o^)