Thursday, July 14, 2011

PROPOSAL PROSES MORFOLOGIS DALAM WACANA GEMINI


PROPOSALPROSES MORFOLOGISDALAM WACANA GEMINIDisusun Guna Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah Metodologi Penelitian LinguistikDosen Pengampu Tommi Yuniawan, S.Pd.,M.A.
OlehNovi Fransiska 2111409001Sastra Indonesia

FAKULTAS BAHASA DAN SENIUNIVERSITAS NEGERI SEMARANG2011BAB IPENDAHULUAN
A.  Latar BelakangLinguistik adalah ilmu bahasa. Kata linguistik berasal dari bahasa Latin lingua. Ilmu linguistik juga sering disebut dengan ilmu linguisik umum, yang artinya linguistik tidak hanya meneliti salah satu bahasa tertentu, melainkan menyangkut bahasa pada umumnya. Linguistik menjadikan bahasa sebagai pusat perhatiannya. Bahasa merupakan alat yang digunakan manusia untuk berkomunikasi satu dengan yang lain. Baik dalam bentuk lisan maupun bentuk tertulis, diperlukan bahasa sebagai alat penyampaiannya.Bahasa mempunyai satuan-satuan bahasa yang terdiri dari fonem, morfem, kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana.
Dalam ini akan menggunakan satuan bahasa morfem untuk kajian penelitiannya. Morfem adalah satuan gramatikal terkecil yang memiliki makna. Sehingga bidang linguistik yang digunakan adalah morfologi, cabang linguistik yang mengidentifikasikan satuan-satuan bahasa sebagai satuan gramatikal.Morfem dibedakan menjadi dua. Pertama morfem bebas, yaitu morfem yang dapat berdiri sendiri tanpa melekat pada morfem lain, seperti bentuk jalan. Yang kedua morfem terikat, yaitu morfem yang  tidak dapat berdiri sendiri, dan selalu melekat pada morfem bebas, seperti mem- dan per-. Oleh karena itu morfem dapat berupa kata, dan sebuah kata dapat terdiri dari satu morfem atau lebih.Dalam meneliti bidang morfologi, terdapat proses morfologis yang merupakan proses penggabungan morfem-morfem menjadi kata, atau cara pembentukan kata-kata dengan menghubungkan morfem satu dengan morfem lain. Sehingga melalui proses morfologis, dapat diketahui bagaimana pembentukan suatu morfem dalam wacana Gemini. B.  Rumusan MasalahBerdasarkan latar belakang di atas, maka akan diteliti penggunaan proses morfologis yang terdapat dalam wacana Gemini.C.  TujuanSesuai dengan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti dan memaparkan proses morfologis yang terdapat dalam wacana Gemini.D.  ManfaatManfaat dari penelitian ini adalah mengetahui proses morfologis apa saja yang terdapat di dalam wacana Gemini.

BAB IILANDASAN TEORI
1.    MorfologiMorfologi, cabang linguistik yang mengidentifikasikan satuan-satuan bahasa sebagai satuan gramatikal. Morfologi disebut juga ilmu bahasa yang mempelajari seluk beluk kata. Verhaar (1984 : 52) berpendapt bahwa morfologi adalah bidang linguistik yang mempelajari susunan bagian kata secara gramatikal. Menurut Kridalaksana (1984 : 129) morfologi, yaitu bidang linguistik yang mempelajari morfem dan kombinasi-kombinasinya, bagian dari struktur bahasa yang mencakup kata dan bagian-bagian kata, yakni morfem.Berdasarkan pendapat ahlibahsa di atas, dapat disimpulkan bahwa morfologi adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari hubungan antara morfem yang satu dengan morfem yang lain untuk membentuk sebuah kata. Morfem itu sendiri adalah bentuk bahasa terkecil yang memiliki makna dan tidak dapat dibagi menjadi beberapa bentuk. Badudu (1985 : 66) mengatakan bahwa morfem adalah satuan bahasa terkecil yang tidak dapat dibagi lagi dan mempunyai makna gramatikal dan makna leksikal. Morfem terbagi atas beberapa klasifikasi morfem, yaitu sebagai berikut :

1.1    Morfem Bebas dan Morfem TerikatMorfem bebas adalah morfem yang bermakna tanpa melekat pada morfem lain. Misalnya : minum, tidur, bicara. Sedangkan morfem terikat adalah morfem yang bermakna jika melekat pada morfem lain, dan jika tidak melekat pada morfem lain, tidak akan bermakna. Semua afiks dalam bahasa Indonesia adalah morfem terikat.Dalam morfem bebas dan morfem terikat ini terdapat bentuk prakategorial, yaitu bentuk morfem terikat yang membutuhkan proses morfologis sebelum menjadi sebuah kata. Seperti bentuk juang, gaul, dan baur.Dalam morfem juga terdapat klitika. Klitik adalah morfem bentuk singkat yang sulit ditentukan status morfemnya, bebas atau terikat. Kemunculan klitik selalu melekat pada bentuk lain, tetapi dapat dipisahkan. Misalnya klitik –lah dalam bahasa Indonesia.Morfem klitik juga dibagi menjadi dua, yaitu proklitik dan enklitik. Proklitik adalah klitik yang berposisi di awal kata yang diikuti. Seperti proklitik ku-. Sedangkan enklitik adalah klitik yang berada di akhir kata yang diikutinya.seperti enklitik –ku, -lah, -nya.
1.2    Morfem Utuh dan Morfem TerbagiUntuk membedakan morfem utuh dan mrfem terbagi, dapat dilihat melalui bentuk morfemnya, merupakan satu kesatuan utuh atau merupakan dua bagian yang terpisah karena disisipi morfem lain. Semua morfem bebas adalah morfem utuh, seperti {buku}, {karpet}, dan {bumi}. Sedangkan untuk morfem terikat, mrupakan morfem yang terdiri atas dua bagian yang terpisah. Perlu diingat bahwa semua afiks konfiks merupakan morfem terikat. Seperti pada kata membawakan terdapat kesatuan utuh atau morfem utuh {bawa} dan satu morfem terbagi, yakni {mem-/-kan}.1.3    Morfem Segmental dan SuprasegmentalMorfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental, seperti morfem {jalan}, {pun}, dan {ke}. Semua morfem yang berwujud bunyi merupakan morfem segmental. Sedangkan morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur suprasegmental, seperti intonasi, nada, tekanan dan sebagainya. Morfem suprasegmental biasanya dipakai dalam penggunaan bahasa yang memiliki tekanan, seperti bahasa Madura, Batak, maupun Medan.1.4    Morfem Beralomorf ZeroMorfem beralomorf zero atau nol, merupakan morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud segmental maupun suprasegmental. Melainkan berupa kekosongan.1.5    Morfem Bermakna Leksial dan Tidak Bermakna LeksikalMorfem bermakna leksikal adalah morfem yang telah memiliki makna secara intern tanpa perlu berproses dengan morfem lain. Misalnya {ayam}, {meja}. Dan morfem bermakna leksikal dapat digunakan secara bebas dala pertuturan.Sebaliknya morfem tidak bermakna leksikal tidak mempunyai makna secara intern. Morfem ini baru bermakna jika sudah berproses dengan morfem lain melalui proses morfologi. Morfem-morfem afiks merupakan morfem tak bermakna leksikal, sepertin{ber-}, (men-}.
Istilah morfem ternyata dikenal dengan istilah kata oleh para tata bahasawan tradisional. Menurut mereka, kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian. Mereka juga menyebutkan bahwa kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasi, dan mempunyai satu arti. Para tata bahasawan struktural, terutama aliran Bloomfield, mengganti istilah kata dengan istilah morfem, karena mereka menganggap bahwa hierarki kebahasaan adalah : fonem, morfem, dan kalimat. Berbeda dengan bahasawan tradisional yang menganggap hierarki kebahasaan adalah : fonem, kata, dan kalimat.

2.        Proses MorfologisOleh karena itu, untuk dapat menggunakan morfem atau kata dalam kalimat atau pertuturan tertentu, setiap bentuk dasar harus dibentuk dahulu melalui proses morfologis. Proses morfologis yang dimaksud adalah sebagai berikut :2.1 AfiksasiProses afiksasi adalah proses pembubuhan afiks dalam pada sebuah bentuk dasar. Menurut Samuri (1985 : 190) afiksasi adalah penggabungan akar kata atau pokok dengan afiks. Morfem biasanya berupa afiks, atau morfem terikat yang dibubuhkan pada bentuk dasar sesuai dengan sifat kata yang dibentuknya. Dalam proses afiksasi terdapat proses pembentukan kata, yaitu :2.1.1 PrefiksProses pembentukan kata dengan prefiks atau awalan.·      Prefiks be(R)-, bervariasi menjadi be- dan bel-.·      Prefiks me(N)-, bervariasi menjadi mem-, men-, meny-, meng-, menge-, dan me-.·      Prefiks pe(R)-, bervariasi menjadi pe- dan pel-.·      Prefiks te(R)-, bervariasi menjadi ter-, dan tel-.
2.1.2 InfiksProses pembentukan kata dengan infiks atau sisipan. Afiks ini penggunaannya kurang produkif, sehingga masih jarang ditemukan kata ber-infiks.·      Infiks -el-, misalnya gelegar.·      Infiks -el-, misalnya gerigi.·      Infiks -em-, misalnya gemetar.2.1.3 SufiksProses pembentukan kata dengan sufiks atau akhiran. Pembubuhan afiks di akhir bentuk dasar, seperti –an, -kan, dan lainnya.·      Sufiks –an, misalnya minuman.·      Sufiks –i, misalnya jalani.·      Sufiks –kan, misalnya periksakan.·      Sufiks –nya, misalnya sulitnya.2.1.4 KonfiksProses gabungan antara prefiks dan sufiks. Menurut Keraf (1984 : 115), konfiks adalah gabungan afikd yang berupa prefiks (awalan) dan sufiks (akhiran) yang merupakan satu afiks yang tidak terpisah-pisah. Artinya, afiks gabungan itu muncul secara serempak pada morfem dasar dan bersama-sama membentuk satu makna gramatikal pada kata bentukan itu. Berikut macam-macam konfiks  :·      Konfiks pe(R)-an, misalnya perusahaan.·      Konfiks pe(N)-an, misalnya penitipan.·      Konfiks ke-an, misalnya keberanian.·      Konfiks be(R)-an, misalnya bersamaan.
2.2  ReduplikasiReduplikasi adalah proses mengulang bentuk dasar, baik secara sebagian, maupun keseluruhan, atau bahkan perulangan dengan perubahan bunyi. Reduplikasi terbagi atas :·      Pengulangan seluruhAdalah perulangan bentuk dasar menyeluruh tanpa merubah fonem dan tidak dengan proses afiksasi. Misalnya : makan-makan, jalan-jalan.·      Pengulangan sebagianAdalah pengulangan sebagian morfem dasar, entah bagian awal atau bagian akhir. Misalnya : beberapa.
·      Pengulangan dengan perubahan morfemAdalah perubahan morfem dasar yang diulang mengalami perubahan fonem. Misalnya : lauk-pauk, gerak-gerik, bolak-balik.·      Pengulangan berimbuhanAdalah pengulangan bentuk dasar yang diulang secara keseluruhan dan mengalami proses afiksasi. Misalnya : tolong-menolong, kekuning-kuningan.·      Pengulangan gabungan kataAdalah proses reduplikasi yang mungkin harus berupa reduplikasi penuh dan reduplikasi parsial. Misalnya untuk reduplikasi penuh dengan bentuk dasar ayam itik dan sawah ladang, menjadi ayam itik-ayam itik, sawah ladang-sawah ladang. Sedangkan untuk reduplikasi parsial dengan bentuk dasar majalah harian dan rumah sakit, menjadi majalah-majalah harian dan rumah-rumah sakit.·      Pengulangan derivasionalSelain reduplikasi bersifat pragmatis, reduplikasi juga bersifat derivasional. Oleh karena itu munculnya bentuk-bentuk seperti kamu-kamu, dia-dia, tidak menyalahi kaidah bahasa.·      Pengulangan semantisPengulangan semantis yakni pengulangan dua buah kata yang maknanya bersinonim membentuk satu kesatuan gramatikal. Misalnya, luluh lantah, kering kerontang, dan ilmu pengetahuan.2.3  Perubahan InternProses morfologis dengan perubahan intern adalah proses morfologis yang menyebabkan perubahan-perubahan bentuk morfem yang terdapat dalam morfem itu sendiri. Hanya sebagian bahasa yang memiliki perubahan intern, seperti dalam contoh yang menggunakan bahasa Inggris.Terdapat bentuk mouse dalam bentuk tunggal, namun dalam bentuk jamak menjadi mice. Terdapat bentuk drink pada waktu kini, namun pada waktu lampau menjadi drank. Perubahan bentuk itulah yang menandakan adanya proses morfologis perubahan intern. 2.4  SuplisiYang dimaksud dengan suplisi adalah proses morfologis yang menyebabkan adanya bentuk baru. Proses morfologis suplisi sering terjadi dalam bahasa asing. Sebagai contoh akan digunakan dalam bahasa Inggris. Pada makna bahasa Indonesia ‘mengeringkan’ dalam bahasa Inggris waktu kini bermakna dry, namun dalam waktu lampau menjadi dried. Juga pada kata eat pada waktu kini, berubah menjadi ate pada waktu lampau. Perubahan yang menyebabkan bentuk baru seperti pada kata drydried, dan eatate itulah yang dinamakan proses morfologis suplisi. 2.5  Modifikasi KosongBerbeda dengan proses morfologis suplisi yang menghasilkan bentuk yang sama sekali baru, proses morfologis modifikasi kosong tidak menghasilkan bentu baru, melainkan hanya berubah konsepnya saja. Dalam bahasa Inggris akan dapat dilihat dengan jelas proses morfologsnya, sebagai berikut :Dalam bentuk tunggal bahasa Inggris terdapat bentuk /put/ yang berarti meletakkan. Dalam bentuk jamak juga masih berbentuk /put/. Pada waktu kini maupun waktu lampau, bentuk /put/ masih berbentuk /put/ tidak mengalami perubahan bentuk.
3.        Produktivitas Proses MorfologisPada proses morfologis ada proses morfologis yang produktif, semi produktif, dan tak produktif. Proses morfologi yang produktif masih memiliki daya pembangkit atau daya generatif yang dapat menghasilkan kategori morfologis yang jumlah katanya banyak, bahkan tak terbatas. Misalnya pada proses reduplikasi yang selalu menghasilkan bentuk-bentuk baru, seperti motor-motoran, baju-bajuan, rumah-rumahan, dan sebagainya.Untuk semi produktivitas, kata bentukannya terbatas. Misalnya afiksasi –(n)isasi menghasilkan kata seperti kuningisasi, lelenisasi, turinisasi. Sedangkan untuk proses morfologis yang tak produktif, tidak memiliki daya bangkit, sehingga tidak ada bentukan kata baru. Maka kategori morfologis terbatas pada kata-kata yang sudah ada, tidak pernah bertambah. Misalnya pada infiksasi –er-, dan –el-, yang terbatas pada kata gerigi dan geligi.

BAB III 
METODE PENELITIAN
Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa dalam proses morfologis terdapat proses afiksasi, proses reduplikasi atau pengulangan kata, proses morfologis dengan perubahan intern, proses morfologis suplisi, dan proses morfologis dengan modifikasi kosong. Untuk penelitian proses morfologis, akan digunakan wacana Gemini yang diambil dari majalah Story edisi 22. Pada wacana Gemini akan diteliti menggunakan proses morfologis seperti yang dijelaskan di atas. Sebelum meneliti proses pembentukan morfem apa saja yang terdapat didalam wacana Gemini, haruslah ditentukan dulu morfem-morfem apa saja yang terdapat didalam cerpen wacana Gemini. Berikut data morfem-morfem yang terdapat dalam wacana Gemini : -          kecerdasan-          sifatnya-          menghadapi-          dirinya-          mempunyai-          kemampuan-          beradaptasi-          tetapi-          dibalik-          seorang-          terpengaruh-          terjadi-          ditentukan-          keragaman-          kehidupan-          terhadap-          memberikan-          tersendiri-          seringkali-          membuat-          memikirkan-          daripada-          pemikirannya-          ditempatkan-          pekerjaan-          dikenal-          spontanitasnya-          berbicara-          memilih-          pasangannya-          menyukai-          menggambar-          olahraga
Dari data morfem di atas, dapat diketahui bahwa wacana Gemini menggunakan banyak proses morfologis yang bervariasi, entah afiksasi, reduplikasi, perubahan intern, suplisi, atau modifikasi kosong.Data dari proses morfologis wacana Gemini di atas masih acak dan perlu untuk diklasifikasikan menurut proses morfologis yang sesuai. Oleh karena itu pada bab selanjutnya akan diklasifikasikan data morfem wacana Gemini kedalam proses-proses morfologis yang sesuai dengan proses morfologis masing-masing morfem.

BAB VI 
DAFTAR PUSTAKA RUJUKAN
ü  Baehaqie, Imam. 2009. Metodologi Penelitian Linguistik. Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.ü  Bakti, Hari. 2002. Paparan Perkuliahan Mahasiswa. Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.ü  Djadjasudarma, Fatimah. 1993. Metodologi Linguistik, Ancangan Metode Penelitian dan Kajian. Bandung : PT. Eresco.ü  Morfologi. Prof. Dr. B. Karno Ekowardono FBS Univ. Negeri Semarang.ü  Samsuri. 1935. Analisis Bahasa, Memahami Bahasa Secara Ilimiah. Jakarta : Erlangga.ü  Story Teenlit Magazine Edisi 23 / Th. II / 25 Juni - 24 Juli 2011.ü  Suprapti. 2009. Silabus, Handout, dan Media Pembelajaran Teori Linguistik. Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.

No comments:

Post a Comment

thanks for reading (^o^)