Thursday, July 14, 2011

SIMBOLISASI PARODI SOSIAL ORDE BARU KAJIAN SEMIOTIK : TERHADAP BUKU KUMPULAN KOLOM CUCU WISNUSARMAN KARYA PARAKITRI T. SIMBOLON

 PROPOSAL SKRIPSISIMBOLISASI PARODI SOSIAL ORDE BARUKAJIAN SEMIOTIK : TERHADAP BUKU KUMPULAN KOLOMCUCU WISNUSARMAN KARYA PARAKITRI T. SIMBOLON
Disusun Guna Memenuhi Mata Kuliah Metodologi Penelitian SastraDosen Pengampu Suseno, S.Pd.

Oleh :Novi Fransiska2111409001Sastra Indonesia
FAKULTAS BAHASA DAN SENIUNIVERSITAS NEGERI SEMARANG2011
BAB IPENDAHULUAN
A.      Latar Belakang MasalahEpisode sejarah Orde Baru menimbulkan banyak sekali presepsi yang berbeda dari masyarakat. Dalam masa Orde Baru yang serba tertutup, Parakitri Tahi Simbolon hadir dengan tulisan kolomnya di harian Kompas tahun 1979 – 1984 yang bertemakan Cucu Wisnusarman. Setiap cerita Cucu Wisnusarman pada kolom Kompas mengandung peristiwa dan masalah ekonomi, sosial, budaya, juga hukum. Semua peristiwa dituliskan secara aktual pada saat itu juga sesuai dengan argumen Parakitri dan pandangannya tentang peristiwa dan masalah di Indonesia.Pada  jaman Orde Baru yang serba tertutup, masyarakat tidak bisa menuangkan kebebasan beragumen. Seperti halnya dalam kolom tulisan Cucu Wisnuasrman, Parakitri tidak mengungkapkan argumennya tentang situasi ekonomi, sosial, politik pada saat itu dengan bahasa yang langsung, melainkan Parakitri membuat perlambangan situasi Indonesia melalui tokoh-tokoh dalam cerita Cucu Wisnusarman. “Latar belakang sosial dan budaya masyarakat mempengaruhi bentuk pemikiran dan ekspresi sastrawan” (Jakob Sumardjo, 1991:1). Oleh karena itu perlambangan atau tanda atau semiotik yang dipergunakan Parakitri dalam Cucu Wisnusarman, mencerminkan kehidupan aktual Orde Baru pada waktu itu, dan bermakna kritikan maupun sindiran kepada permasalahan yang tidak kunjung selesai.
Cerita dalam buku kumpulan kolom Cucu Wisnusarman menggambarkan tentang keadaan pada jaman tersebut, yaitu pada jaman Orde Baru. Ke-59 cerita pendek yang ada didalamnya memiliki cerita yang berbeda-beda sesuai dengan aktualnya peristiwa. Akan tetapi sesuai dengan judulnya, yang menjadi tokoh utama pada setiap cerita yaitu selalu Cucu Wisnusarman. Pada setiap cerita, Cucu Wisnusarman tidak menjadi tokoh yang memiliki watak, karakter, keadaan ekonomi, atau keadaan sosial yang sama.Selain  Cucu Wisnusarman, juga terdapat tokoh lain yang sering muncul, yaitu Wisnusarman dan Laotan. Sama halnya dengan Cucu Wisnusarman, kedua tokoh tersebut juga tidak memiliki watak, karakter, keadaan ekonomi, dan keadaan sosial yang sama pada setiap cerita. Namun Parakitri menjadikan Wisnusarman dan Laotan sebagai simbol. Wisnusarman digunakan sebagai simbol kehidupan sosial, sedangkan Laotan menjadi simbol tingkah laku alam.Oleh karena banyaknya tanda yang tersembunyi dalam buku kumpulan kolom Cucu Wisnusarman 1979 – 1982, maka akan diadakan penelitian mengenai tanda dalam buku kumpulan kolom CucuWisnusarman dengan menggunakan teori semiotik.B.       Rumusan MasalahBerdasarkan judul dan latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :1.      Pemaknaan perlambangan dari bentuk fisik buku kumpulan kolom Cucu Wisnusarman.2.      Makna perlambangan dari segi isi buku kumpulan kolom Cucu Wisnusarman.
C.      Tujuan PenelitianSesuai dengan perumusan masalah di atas, dapat dijelaskan bahwa tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :1.      Menemukan dan  mendeskripikan makna yang tersembunyi dibalik fisik buku dalam tinjauan semiotik.2.      Menemukan dan  mendeskripikan makna yang tersembunyi dibalik isi buku dalam tinjauan semiotik.

D.      Manfaat PenelitianPenelitian ini memiliki manfaat baik dari segi teoritis maupun dari segi praktis. Dari segi teoritis, penelitian ini memiliki manfaat sebagai berikut :1.      Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian sastra di Indonesia, terutama dalam pendekatan semiotik.2.      Penelitian ini diharapkan dijadikan pelajaran bahwa mengkritik sesuatu bisa menggunakan perlambangan tanpa menyakiti siapapun.Manfaat praktis dalam penelitian ini ialah sebagai berikut :1.      Penelitian ini dapat menambah wawasan tentang era Orde Baru yang serba tertutup.2.      Penelitian ini dapat menambah wawasan mengeni keadaan masyarakat di jaman Orde Baru.

BAB IIKAJIAN PUSTAKA TEORI
1.        Pengertian SemiotikaSecara definitif, menurut Paul Cobley dan Litza Jans (2002 : 4) semiotika berasal dari kata seme bahasa Yunani, yang berarti penafsir tanda. Kata semiotika berasal dari bahasa Yunani, semion, yang yang berarti tanda (Zoest, 1992 :5). Istilah semiotika sama denan semiologi.Sudjiman dan Zoest (1992 : ) mengatakan bahwa semiotika adalah studi tentang tanda dan segala yang berhubungan dengannya, cara berfungsinya, hubungan dengan tanda-tanda lain, pengirim dan penerimanya oleh mereka yang mempergunakannya.Dalam pengertian yang lebih luas, sebagai teori, semiotika berarti studi sistematis mengenai produksi dan interpretasi tanda dan apa manfaatnya bagi kehidupan. Pengkajian terhadap tanda baru benar-benar diteliti secara ilmiah pada abad ke-20 oleh De Saussure (1857 – 1913) dan Charles Sanders Peirce (1839 – 1914).Saussure adalah seorang ahli bahasa, sedangkan Pierce ahli filsafat dan logika. Istilah yang digunakan Saussure untuk menyebut tanda adalah semiologi, sedangkan Pierce menyebut tanda sebagai semiotik. Selama perkembangan ilmu tanda, istilah semiotikalah yang lebih populer daripad istilah semiologi.Buku Saussure yang berjudul Cours de linguistique generale, yang terbit 1916, dianggap sebagai asal strukturalis, dan teori bahasa. Selain ahli ilmu bahasa, Saussure juga ahli di bidang semiotik kebudayaan dan antroposemiotik. Konsep Saussure ini terdiri atas pasangan beroposisi :b.      Tanda yang memiliki dua sisi, seperti penanda (signifier, signifiant, semaion) dan petanda (signified, signifie, semainomenon).c.       Ucapan individual (parole), bersifat kokret dan bahasa umum (language), bersifat abstrak.d.      Sintagmatis dan paradigmatise.       Diakroni, studi tentang evolusi bahasa pada waktu yang berbeda, dan sinkroni, mempelajari bahasa pada waktu tertentu.
2.        Semiotika Charles Senders PeirceBerbeda dengan konsep Saussure yang berisi ganda, berpasangan beroposisi sebagai diadik, dalam konsep Pierce berisi tiga sebagai triadik.Dalam konsep Pierce berdasarkan cara kerjanya terdiri atas :a.       Sintaksis semiotika, merupakan studi yang memberikan intensitas hubungan tanda dengan tanda lain.b.      Semantik semiotika, merupakan studi yang memberikan perhatian hubungan tanda dengan acuannya.c.       Pragmatik semiotika, merupakan studi yang memberikan perhatian pada hubungan pengirim dan penerima.Dilihat dari faktor yang menentukan ada tidaknya tanda, maka konsep Pierce dibedakan sebagai berikut :a.       Ground, sebagai perwujudan gejala umum gejala itu sendiri. Tanda disebut sebagai tanda tidak didasarkan pada kode bahasa saja, melainkan juga dari kode non bahasa. Berdasarkan ground-nya, Pierce membagi tanda menjadi tiga :§   qualisigns, terbentuk oleh kuallitas suatu sifat yang murni dari tanda itu sendiri. Misalnya : warna putih, yang menandakan kesucian, merh menandakan keberanian.§   sinsigns, terbentuk melalui kenyataan, fisik individual, yang dikenali tanpa mengacu kepada kode. Misalnya : suara khas seseorang.§   Legisigns, merupakan hukum yang berlaku umum, sebuah kode dan konvensi. Misalnya : melambaikan tangan menndakan akan berpisah.b.      Object (denotatum, designatum, referent). Menurut Pierce dalam Berger (2002 : 14), tanda-tanda berkaitan dengan objek yang menyerupai, keberadaannya memiliki hubungan sebab akibat dengan tanda-tanda atau karena ikatan konvensional dengan tanda-tanda tersebut. Pierce mengklasifikasikan tanda berdasarkan objeknya sebagi berikut :
§   IkonHubungan tanda dengan objek yang serupa. Menurut Jabrohim (2001 : 68), ikon adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan yang bersifat alamiah antara penanda dan petanda. Hubungan itu adalah hubungan persamaan, misalnya gambar kuda sebagai penanda, dan sebagai petandanya adalah hewan kuda.Dalam konsep ikon, Pierce membedakan ikon menjadi tiga macam, yaitu : -       Ikon tipologis, ikon yang berhubungan dengan kemiripan bentuknya. Misalnya globe yang dibuat mirip aslinya.-       Ikon diagromatik, ikon yang berhubungan dengan kemiripan tahapan. Misalnya lencana yang dipakai seorang polisi akan menunjukkan pangkatnya.-       Ikon metaforis, ikon yang mendasarkan kemiripan sebagian. Misalnya bunga mawar sebagai penanda kecantikan.

§   IndeksMenurut Pierce dalam Kris Budiman (2003 : 30-31) mengatakan bahwa indeks adalah tanda yang memiliki keterkaitan fenomenal atau eksistensi di antara representamen dan objenya. Didalam indeks hubungan antara tanda dan objeknya bersfat konkret, aktual dan biasanya melalui suatu cara yang sekuensial atau kausal.Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa indeks adalah hubungan tanda dan objek karena adanya sebab akibat. Misalnya dengan petanda asap, berari penndanya adanya api.§   SimbolSimbol ini merupakn tipologi yang bersifat konvensional dan abitrer. Menurut Jabronihm (2001 : 68), simbol adalah tanda yang menunjukkan tidak adanya hubungn almiah antr penanda dengan petandanya, hubungan bersifat abitrer (semau-maunya). Arti tanda itu ditentukan oleh kenvensi.Contoh dari simbol banyak terdapat dikehidupan sehari-hari. Misalnya di suatu daerah tertentu kematian di simbolkan dengan bendera kuning, namun bisa  di daerah lain bisa berubah warna benderanya.
c.       Interpretant, tanda yang terjdi dalam batin penerima, bisa disebut konsep.§  Rheme merupakan tanda sebagai kemungkinan untuk orang menafsirkan berdasarkan apa yang dimenegerti dan apa yang ditangkapnya. Sehingga bisa juga disebut masih berupa konsep si penerima.§  Dicent signs merupakan tanda sebagai fakta, kenyataan. Seperti penuturan deskripsi yang menggambarkan kenyataan.§  Argument merupakan tanda sebagai nalar, dan langsung memberikan alasan tentang sesuatu.


BAB IIIMETODOLOGI PENELITIAN
1.1  Pendekatan PenelitianDalam buku kumpulan Cucu Wisnusarman yang berisi 59 cerita singkat, terdapat banyak perlambangan yang termasuk dalam konsep dasar triadik dalam semiotik. Oleh karena itu sesuai dengan permasalahan mengenai perlambangan yang tersembunyi dalam Cucu Wisnusarman, penelitian ini akan menggunakan pendekatan semiotik Pierce, karena pada semiotik Pierce terdapat konsep dasar triadik, yaitu ikon, indeks, dan simbol. 1.2  Objek PenelitianObjek penelitian dalam penelitian ini adalah kehidupan masyarakat Indonesia pada era Orde Baru yang diperlambangkan dengan sengaja oleh pengarang lewat dialog-dialog antar tokoh, sehingga objek penelitian jelas akan meneliti tentang makna pemakaian dialog dalam Cucu Wisnusarman.

1.3  Sumber DataData yang digunakan untuk penelitian ini adalah buku kumpulan kolom harian Kompas yang berjudul Cucu Wisnusarman. Kolom-kolom tersebut ditulis oleh Parakitri Tahi Simbolon sejak tahun 1979 – 1984, dan pertengahan 1992 pada masa Orde Baru. Kumpulan kolom tersebut kemudian diterbitkan dalam bentuk buku tahun 2005 oleh penerbit Nalar, Jakarta. Data penunjang yang lainnya adalah berupa buku-buku sastra, artikel-rtikel, dan berita-berita terkait Orde Baru.1.4  Teknik Analisis DataTeknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model interaktif. Seperti yang dikemukakan oleh Miles dan Hubberman, analisis model interktif (Interactive Model of Analysis), memuat tiga komponen analisis, yaitu :1.      Reduksi data, merupakan proses pemilihan, menggolongkan, dan menyederhanakan data.2.      Penyajian data, merupakan proses penyajian data yang sudah disederhanakan.3.      Penarikan kesimpulan, merupakan proses menarik kesimpulan yang sesuai dengan penyajian data.


1.5  Langkah Kerja1.      Reduksi data (data reduction)Setelah melakukan proses pengumpulan data berdasarkan sumber data, maka langkah selanjutnya adalah reduksi data. Reduksi data merupakan proses pemilihan, penyederhanaan data yang terdapat pada Cucu Wisnusarman. Selama penelitian berlangsung akan sering terjadi penyerdehanaan data. Dalam penelitian ini, data yang tidak mengandung dan tidak berkaitan dengan unsur perlambangan, akan dihapuskan.2.      Penyajian data (data display)Setelah proses redudansi selesai, data yang dihasilkan tentu hanya data yang berkaitan dengan perlambangan dan masalah yang akan dibahas dalam penelitian. Kemudian dilakukan penyajian data, penyajian informasi, atas apa yang dibahas dalam penelitian tersebut.3.      Penarikan kesimpulan (conclusion drawing)Kesimpulan akan di ambil berdasarkan penyajian data, dan diambil hal yang penting dan menjadi pokok pembahasan dalam penelitian. Kesimpulan harus sesuai dengan isi penyajian data.

Daftar Pustakahttp://www.docstoc.com/docs/10729254/Contoh-Proposal-Skripsihttp://www.scribd.com/doc/56571501/sejarah-orde-baru-2karyono1993.wordpress.comSimbolon, T. Parakitri. 2005. Cucu Wisnusarman. Jakarta : Nalar.

No comments:

Post a Comment

thanks for reading (^o^)