Thursday, July 14, 2011

Tiga Hari Bersamamu

CRIING… Lonceng diatas pintu berbunyi. Itu tandanya ada seseorang yang datang.
Dian…
Sejak tiga hari lalu, di cafe ini aku melihat Dian datang dengan pakaian seperti biasa. Kacamata itu lagi, buku itu lagi, kemeja kotak-kotak lagi, dan itu semua lagi dan selalu membuatnya terlihat ‘aneh’.
Dian duduk ditengah café area bebas rokok, selalu semeja denganku, meja 21. Aku tak tahu mengapa Dian memilih meja ini untuknya. Padahal masih banyak meja yang kosong dan seorang teman yang lebih cantik dan lebih harum dari pada aku.
Diletakkannya buku setebal kamus Indonesia diatas meja dan berdiri sambil mengacungkan telunjuknya untuk memesan menu café. Aku tahu namanya Dian dari nama yang tertera dibukunya.
“Cappucino satu aja, ya?”
Bukunya mulai dibaca, dipahami, diresapi plus diletakkan didepan keempat matanya dengan jarak sepuluh sentimeter.
Capucinonya telah datang dimeja dengan seorang waitress sebagai perantaranya. Disruputnya seteguk, kemudian kembali larut dalam ilmu buku tebalnya. Tapi sayang, aku tak dipesankan makanan, uuntungnya, aku selalu disuguhi minuman yang menyegarkan seluruh badanku. Walaupun air putih.
Kulihat Dian sambil meneruskan kewajibanku, memeberi kenyamanan dan kesegaran bagi semua orang di sekitarku, khususnya di depanku.
Setiap hari aku selalu melihatnya datang. Dari penampilannya bisa kutebak kalau Dian seorang mahasiswa yang setengah kutu buku dan sedikit penyendiri.
Bayangkan saja. Rambut model 45’an masih ada dizaman sekarang. Ditoko banyak model kacamata yang trendy, malah sudah ada yang lebih canggih, lensa kontak. Tapi kacamata berbingkai hitam tebal dengan bangga masih dipakainya.
Humh…mungkin itu memang keunikannya kali, ya? Buktinya, dari tiga hari lalu aku ada disini, Dian selalu saja datang dengan keunikannya yang membuatku selalu ingat Dian.
CRIING
Lonceng berbunyi lagi. Seorang cewek cantik memasuki café yang mulai longgar. Ia duduk di samping  meja kami.
“Bella.” gumam Dian lirih.
Dian melirik Bella yang mulai duduk. Pujian demi pujian selalu melambung untuk Bella disetiap detak jantungnya. Capucino Dian telah habis. Dian ingin memanggil waitress, tapi niat itu diurungkannya karena Dian melihat Bella berjalan menuju meja pemesanan.
Tak pernah Dian melihat dewi secantik Bella turun kebumi ibu pertiwi. Aku tertawa melihat Dian menaik turunkan kacamata hanya untuk melihat Bella di pupil matanya langsung.
Hikz…hikz…kulihat Dian grogi, hanya menatap saja sudah grogi, apalagi kalau Bella ngajak ngomong, bisa pingsan Dian.
Selama Dian kesini, tak pernah sekalipun Dian datang dengan seorang sejenis Hawa. Boro-boro sejenis Hawa, semacam Adam saja cuman sekali datang bersamanya. Terakhir kali Dian datang bersama Bino kemarin. Dan sampai hari ini, aku tak pernah melihat Dian dengan orang lain lagi.
Dian mencuil, eghem…lebih tapatnya menyobek kertas dari … nggak tahu jelas Dian menyobek kertas dari mana. Yang penting Dian sudah mendapatkan selembar kertas kosong. Walaupun dibalik kertas kosong itu terdapat semacam angka yang mungkin berupa rumus.
Yah…walaupun kecil dan tak bertepi rata, tapi kertas itu adalah perantara keramat yang dipakai Dian agar bisa berhubungan dengan Bella.
Saat Bella kembali ke-mejanya, Dian sudah berhasil menyelipkan sesuatu didalam tasnya.
“Hai, “ Bella melambai pada Dian yang berada disamping, dua meja dari mejanya.
Bella berdiri dan merentangkan kedua tangannya. Karena Dian merasa bahwalah Dialah yang diharapkan Bella, Dian berdiri dan hampir melangkah mendekati Bella, berharap akan mendapat pelukan.
Tapi tiba-tiba pundak seorang cowok menyenggol tubuh Dian yang perlahan ikut berdiri. Cowok itu mendekati Bella dan memeluknya.
Dian kembali terduduk lesu dimejanya. Buku tebal yang selalu menggairahkan untuk  baca kini menjadi cacing, hewan yang paling Dia benci.
Satu jam Dian melihat Bella dan cowok itu bermesraan di dua meja disampingnya. Walaupun aku bukan Tuhan, tapi aku tahu pasti bagaimana hatinya  saat ini.
Meskipun aku baru bertemu dengannya tiga kali ini, aku sudah bisa memahami hatinya. Bisa kurasakan hatinya pasti hancur melihat Bella yang duduk berdekatan dengan cowok itu.
“Huuft…”
Kalau sempat aku hitung, mungkin sudah puluhan kali ia mendesah pasrah. Wajahnya terlihat sayu dan tak ada niat untuk membaca buku favoritnya.
Satu jam kemudian Bella meninggalkan café ini dengan cowok itu. Dian merasa kehilangan sisa waktu untuk melihatnya.
Cowok itu sudah keluar dasi café, namun Bella seperti mengulur waktu. Mata Dian yang selalu mengikuti Bella, tertegun ketika sadar kalau Bella berjalan mendekatinya.
Selembar kertas tak beraturan diletakkan Bella di atas buku tebal Dian. Dengan segera, dan tanpa lupa meninggalkan senyum, Bella kembali ke cowok yang sudah menungguya diluar café.
 Sesudah Bella pergi, secepat mungkin Dian mencari kertas yang tadi ditinggalkan di atas buku.
“Dimana? Dimana?” Dian mencari dengan panik
Panik seperti ada kebakaran hebat di café ini. Atau persis seperti saat restaurant di Kuningan yang terkena bom. Padahal kertas yang dicarinya ada di hadapan matanya.
Tapi aku senang akhirnya Dian punya semangat untuk something missing yang nggak tentu akan ia dapatkan pada saat ini juga.
“Yeah, gue dapat.”
Begitu riangnya ekspresi Dian yang senang menemukan selembar kertas. Betapa kagetnya saat menyadari coretan angka yang ada di secuil kertas itu.
Bella 085756123xxx
Sebenarnya, tanpa diberi namapun, Dian sudah mengetahui lebih dulu nama bidadarinya, Bella. Dan tanpa disuruh, nomor itu langsung dihapalkan diluar kepala (hafal betul, bukannya lupa).
“Dian, ayo ke kampus. Ditungguin Pak Burhan!” teriak seorang cowok diluar café, aku tahu itu adalah Bino, karena cowok itu yang pernah diajak Dian kemari.
Dian dan Bino pergi. Aku disini hanya bisa memandangi punggungnya yang teduh.
“Surya, tolong ganti yang lebih cantik dimeja 21, sudah tiga hari belum diganti.”
“Siap, Pak.”
Ya, dari awal aku sudah merasa tak akan bertahan lama di café ini, dimeja ini, disini. Dian, hanya Dian yang ingin aku lihat petama dan terakhir. Bye…
“Permisi, Mas.” Dian kembali.
“Iya, ada apa ya, mas?”
“Anu, saya, saya…saya mau minta itu.”
“Ini? Oh iya silahkan. Tapi sudah nggak cantik.”
“Nggak pa-pa, kok. Terima kasih, ya, mas.”
---
“Hai, cantik…” desis Dian bersemangat sambil menmbawaku dan mendekapku di dadanya.
“Dian! Buruan! Kenapa lo balik lagi ke café? Waktu istirahat udah selesai tau!” teriak Bino dari kejauhan.
Dian berlari menjajari Bino “Iya, gue lagi ngambil mawar cantik, nih, daripada dibuang. Kan bisa dijadiin pembatas buku gue. Haha...”
“Wah, dasar cupu, lo! Bunga mawar hampir layu diambil.”
“Biarin…masih cantik.”
Suara Dian menyembuhkanku sejenak, dan BUUK, buku tebalnya menindihku, dan aku senang, bisa berakhir di buku kesayangan Dian.

No comments:

Post a Comment

thanks for reading (^o^)