Saturday, October 29, 2011

ANALISIS DRAMA NYONYA-NYONYA


Novi Fransiska. 2111409001. Sastra Indonesia. Universitas Negeri Semarang

Sinopsis
Seorang Tuan pedagang barang antik sedang berdiri di teras depan rumah seorang Nyonya sambil menggerutu sendiri. Nyonya tersebut mengomel karena Tuan berdiri di terasnya. Ia khawatir keberadaan Tuan di teras rumahnya akan menimbulkan pandangan negatif dari masyarakat. Ia juga mengusir Tuan agar lekas pergi dari teras rumahnya. Tuan mengelak kekhawatiran Nyonya dengan mengemukakan banyak alasan. Akhirnya Tuan membeli empat buah marmer tempat dia berdiri agar ia bisa bebas berdiri di sana tanpa didesak-desak untuk pergi oleh Nyonya.
Kemudian Ponakan A—keponakan suami Nyonya—datang menagih uang hasil penjualan tanah pusaka. Tanah pusaka milik keluarga mereka telah diserahkan kepada Datuk, suami Nyonya, untuk dijual, namun uang hasil penjualannya tidak dibagi-bagikan kepada keponkan-keponakannya. Karena itu Ponakan A menuntut bagi hasil. Ia juga mencurigai Nyonya menggunakan harta pusaka itu untuk membangun rumahnya yang mewah. Ponakan A kemudian mengeluarkan pisau dari dalam tasnya dan mengancam Nyonya agar memberikan uang. Nyonya kemudian memberikan uang hasil penjualan empat buah mermernya kepada Ponakan A.
Nyonya yang tidak berhasil mengejar Ponakan A kembali ke ruang tamu dan terkejut mendapati Tuan sudah duduk enak-enakan duduk di kursi ruang tamunya. Ia marah karena Tuan masuk dan duduk di ruang tamunya tanpa izin. Tuan membela diri dengan berbagai macam alasan. Akhirnya Tuan membeli kursi ruang tamu Nyonya agar Nyonya tidak mendesak-desaknya keluar dari ruang tamu.
Istri Tuan kemudian datang sembari marah-marah. Ia memarahi Tuan yang tak kunjung pulang, apalagi ketika ia mengetahui suaminya itu membeli sebuah kursi bekas dengan harga yang menurutnya sangat mahal. Dua pasangan suami istri itu terus bertengkar dan pergi.
Ponakan B dan Ponakan C datang menemui Nyonya. Sama seperti Ponakan A, mereka juga menuntut pembagian uang penjualan tanah pusaka. Mereka juga menuduh Nyonya seperti tuduhan Ponakan A.
Nyonya akhirnya memberikan sejumlah uang hasil penjualan kursinya kepada Ponakan B dan Ponakan C. Uang itu segera dibagi jadi dua, tapi bagian Ponakan C lebih besar. Ponakan B tidak terima, ia menuntut pembagian yang rata. Kemudian Ponakan A datang menuntut pembagian uang itu. Ia mengancam dengan pisau di tangannya. Ponakan C tidak terima, ia juga mengeluarkan pisau yang lebih besar. Demikian juga dengan Ponakan B, ia juga mengeluarkan piasu yang lebih besar lagi dari pisau Ponakan C.
Nyonya berteriak-teriak, mencegah agar mereka tidak berbunuhan. Ia ketakutan dan masuk kerumahnya.
Sepeninggalnya Nyonya, ketiga Ponakan lega dan saling bersalaman. Mereka juga tertawa cekikikan. Ponakan A berkata bahwa dengan uang itu, mereka dapat membayar ongkos rumah sakit Datuknya sehingga mereka tidak lagi dituduh sebagai orang yang tak tahu adat
Tuan datang dan segera duduk di kursi makan. Nyonya yang datang tak berapa lama kemudian merasa terkejut. Mereka kembali beradu argumen. Akhirnya Tuan membeli kursi makan tersebut. Ia membayar kursi itu separuh harga dan berjanji akan melunasi sisanya besok pagi. Tuan akhirnya keluar sambil bernyanyi-nyanyi senang.
Nyonya sedang berdandan di kamar. Ia duduk di kursi riasnya, tiba-tiba Tuan masuk.
Nyonya memarahi Tuan yang seenaknya memasuki kamarnya. Tuan beralasan bahwa ia ingin melunasi hutangnya. Ia mengeluarkan sejumlah uang tapi Nyonya tak peduli. Tuan kemudian menghitung uang itu sambil duduk di atas tempat tidur. Matanya terpaku pada tubuh Nyonya yang sedang berdandan.
Nyonya menyuruh Tuan keluar tapi Tuan mengelak dengan berbagai alasan.
Tuan mulai menawar harga tempat tidur dan kursi rias. Setelah menyerahkan uang, Tuan tak langsung pergi. Ia mengatakan bahwa kursi rias itu telah menjadi miliknya, maka Nyonya tidak berhak menempati milik orang. Nyonya akhirnya berdiri. Di luar kamar, ketiga ponakan datang sambil meratap tentang kemalangan Datuknya. Kemudian istri Tuan juga datang dan ketiga ponakan itu pun berhenti meratap.
Di dalam kamar, Tuan segera bangkit dan langsung berjongkok di dekat kaki Nyonya. Tuan mengkhawatirkan lutut Nyonya yang bisa bengkak karena kelamaan berdiri. Namun Nyonya tak peduli, ia tetap berdiri. Nyonya kemudian menjual tumitnya agar Tuan tidak lagi memegang kakinya. Tuan mulai menawar, tapi Nyonya meminta harganya naik. Dan setiap Nyonya meminta kenaikan harga, pegangan Tuan naik ke atas.
Nyonya kemudian berteriak tertahan, dan nyonya-nyonya yang berada di luar kamar ikut berteriak. Nyonya dan Tuan segera sadar bahwa ada orang lain di teras. Keduanya tersentak dan saling berusaha melarikan diri, tapi tidak tahu mau lari ke mana. Akhirnya, mereka berangkulan dan saling melepaskan lagi, kemudian berangkulan lagi. Nyonya-nyonya di luar mengintip dan tercengang. Mereka marah dan mengejar Tuan dan Nyonya ke dalam sambil menghunus pisau masing-masing. Istri Tuan kemudian datang tergesa dan ketika melihat Tuan dan Nyonya berpelukan, ia kemudian pingsan.

1.       Tema               : Dalam drama ini penulis ingin mengungkapkan tentang masalah sosial, menjaga nama baik dimata orang lain. Nyonya-nyonya dalam drama ini selalu menghindari perbuatan yang buruk, yang dapat membuatnya buruk dimata orang lain.
Nyonya selalu mengusir Tuan yang berusaha mendekatinya dengan alasan transaksi perdagangan. Nyonya tidak mau dilihat sebagai istri yang tidak setia, bersenang-senang dengan lelaki lain sementara suaminya sedang sekarat di rumah sakit.
Ponakan A, B dan C juga demikian. Mereka rela berpura-pura berkelahi membawa pisau hanya untuk mendapatkan uang dari Nyonya yang kemudian mereka gunakan untuk membayar rumah sakit, agar mereka tidak dianggap tidak berbakti pada pamannya.
2.       Fakta Cerita
a.       Tokoh
- Nyonya      : Tokoh protagonis.  Seorang wanita muda, cantik, dan seksi yang selalu memikirkan status sosialnya di lingkungannya. Sehingga ia tak mau ada seorangpun yang melihat dirinya bersama Tuan, karena akan menimbulkan pandangan negative tentang dirinya sebagai seorang istri yang suaminya sedang berada di rumah sakit.
- Tuan          : Tokoh protagonis. Seorang lelaki penjual barang antic yang memiliki fisik tidak terlalu tua. Ia memiliki sifat yang tidak mau kalah, sehingga ia selalu menawar apa saja yang dilarang disentuh Nyonya. Bahkan lutut Myomya yamg dilarang untuk dipegang, ia tawar dengan harga yang terus ‘naik’.
- Ponakan A: Tokoh antagonis. Keponakan dari suami Nyonya yang tidak mau dianggap tidak berbakti pada pamannya yang sedang sakit.
- Ponakan B: Tokoh antagonis. Keponakan dari suami Nyonya yang tidak mau dianggap tidak berbakti pada pamannya yang sedang sakit
- Ponakan C: Tokoh antagonis. Keponakan dari suami Nyonya yang tidak mau dianggap tidak berbakti pada pamannya yang sedang sakit. Ia juga memiliki sikap tidak adil terhadap pembagian uang yang diberikan Nyonya kepadanya dan ponakan B.
- Istri            : Tokoh tritagonis. Istri dari Tuan yang sabar menerima kelakuan Tuan.
b.      Latar
-          Tempat :
▫ teras, ketika Tuan berhasil member empat petak marmer milik Nyonya.
▫ ruang tamu, ketika Tuan berhasil membeli sofa empuk milik Nyonya.
▫ ruang makan, ketika Tuan berhasil membeli kursi makan milik Nyonya.
▫ kamar Nyonya, ketika Tuan berhasil member kursi rias, ranjang, dan lutut milik Nyonya.

-          Waktu             : waktu yang ditujukan pada naskah drama hanya waktu malam, ketika Tuan berteduh di teras Nyonya.

-          Suasana
▫ Hujan. Ketika Tuan meneduh di teras runah Nyonya.
▫ Kesal. Nyonya kesal ketika Tuan terus menawar barang-barang miliknya.
▫ Ketakutan, ketika ponakan A, B, dan C, bertengkar memperebutkan tanah pusaka di depan Nyonya sambil saling membawa pisau.

c.       Alur           : alur dalam naskah tersebut adalah alur maju atau lurus, karena tahapan cerita yang bersambungan, dari pemaparan, pertikaian, klimaks, peleraian.

3.       Sarana Cerita
a.       Judul         : Nyonya-nyonya. Judul tersebut diambil karena berkaitan dengan isi drama yang juga mengisahkan tentang nyonya-nyonya. Meskipun tokoh yang benrama Nyonya hanya ada satu, namun Ponakan A, B dan C, juga istri, juga merupakan seorang nyonya.

b.       Dialog        : dalam naskah drama Nyonya-nyonya ini menggunakan gaya bahasa budaya Minang yang cukup kental. Terlihat dari dialog
 NYONYA
Kenapa datang tergesa? Kamu dari rumah sakit? Apa Datuk (kakek) mu memerlukan sesuatu? Apa dokter mengatakan Datukmu akan dioperasi? Katakan cepat. Saya cemas sekali dengan kedatanganmu yang tiba-tiba begini.
▫ BERTIGA
(Berteriak lebih keras setelah menyimpan pisau kedalam tas)
Kamilah pewaris adat negeri ini! Tak lekang dek panas! Tak lapuk dek hujan! (Lalu keluar sambil bergoyang pinggul) Ekornya…. Ekornya…. Ekornya…..

No comments:

Post a Comment

thanks for reading (^o^)