Tuesday, October 11, 2011

ANALISIS NOVEL DESPERADOES CAMPUS BERDASARKAN TEORI MIMETIK


I.                   Latar Belakang
Rohrberger dan Woods memandang pendekatan mimetik sebagai pendekatan historis-sosiologis yang menyaran pada pendekatan yang menempatkan karya yang sebenarnya dalam hubungannya dengan peradaban yang menghasilkannya. Peradaban disini dapat didefinisikan sebagai sikap dan tindakan kelompok masyarakat tertentu dan memperlihatkan bahwa karya sastra mewadahi sikap dan tindakan mereka sebagai persoalan pokok. (Rohrberger dan Woods, 1971 ; 9).
Oleh karena itu, karya sastra dapat dibawa ke dalam keterkaitan yang kuat dengan dunia sosial tertentu yang nyata, yaitu lingkungan sosial tempat dan waktu bahasa yang digunakan oleh karya sastra. Konsep sosiologi sastra didasarkan pada dalil bahwa karya sastra ditulis oleh seorang pengarang, dan pengarang merupakan seseorang dalam masyarakatnya.
Dari kesadaran ini muncul pemahaman bahwa sastra memiliki keterkaitan timbal-balik dalam derajat tertentu dengan masyarakatnya; dan sosiologi sastra berupaya meneliti pertautan antara sastra dengan kenyataan masyarakat dalam berbagai dimensinya (Soemanto, 1993). Konsep dasar sosiologi sastra sebenarnya sudah dikembangkan oleh Plato dan Aristoteles yang mengajukan istilah 'mimesis', yang menyinggung hubungan antara sastra dan masyarakat sebagai 'cermin'.
Diantara genre karya sastra, yaitu puisi, prosa, dan drama, genre prosalah, khususnya novel, yang dianggap paling dominan dalam menampilkan unsur-unsur sosial, karena unsur cerita dalam novel yang paling lengkap, memiliki media yang luas untuk menyajikan masalah-masalah kemasyrakatan. Selain itu, novel juga cenderung menggunakan bahasa sehari-hari dalam suatu masyarakat tertentu. Oleh karena itu menurut Hauser (1985 : 92) karya sastra lebih jelas mewakili ciri-ciri zamannya.


Seperti halnya dalam novel Desperadoes Campus yang menggambarkan keadaan pada zaman pembuatan karya sastra tersebut, serta keadaan masyarakat sekitar yang dialami tokoh utamanya dalam novel tersebut.

II.            Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, akan dilakukan analisis mengenai latar belakang, asal-usul pembuatan karya sastra, dalam hal ini novel Desperadoes Campus.

PEMBAHASAN

Pengertian
Dalam pendekatan mimetik, karya sastra merupakan tiruan atau pembayangan dari alam dan dari kehidupan nyata. Secara mimetik, dalam proses penciptaan karya sastra/seni, sastrawan/seniman telah melakukan pengamatan terhadap alam sekitarnya lebih dulu, sebelum kemudian menuangkannya menjadi sebuah karya sastra. Sehingga dapat diartikan bahwa karya sastra dalam mimetik adalah tanggapan seorang pengarang terhadap situasi di sekitarnya, dan karya sastra merupakan refleksi kehidupan nyata.
Plato berpendapat bahwa seni hanyalah tiruan alam yang nilainya jauh dibawah kenyataan. Pengarang menjiplak kenyataan yang dapat disentuh dengan panca indra, lalu di reflesikan menjadi karya sastra.
Berbeda dengan Plato, Aristoteles justru menganggap dalam proses tiruan, pengarang tidak hanya mereflesikan ide, gagasan, pikiran mereka ke dalam karya sastra, melainkan juga menciptakan proses kreatif yang bertumpu pada kenyataan, dan menciptakan sesuatu yang baru.
Proses yang bertumpu pada kenyataan ini dilakukan pengarang untuk menghasilkan karya sastra yang sesuai dengan kenyataan kehidupan pada suatu waktu dan tempat tertentu. Oleh karena itu, Rohrberger dan Woods memandang pendekatan mimetik sebagai pendekatan historis-sosiologis yang menyaran pada pendekatan yang menempatkan karya yang sebenarnya dalam hubungannya dengan peradaban yang menghasilkannya.
Memang tidak dapat dipungkiri, pengarang akan memberikan imajinasi mereka, yang berasal dari penginderaannya untuk kemudian dituangkan  dalam karya sastra. Imajinasi yang diberikan pengarang kepada karya sastranya inilah yang berhubungan dengan teori mimetik, teori yang meneliti asal usul suatu karya sastra, sehingga teori mimetik adalah dasar dari pendekatan sosiologi sastra yang juga memandang karya sastra sebagai cerminan masyarakat sosial tertentu.
Sosiologi sastra memahami bahwa karya sastra bagian yang tak terpisahkan dengan masyarakat, karena karya sastra diciptakan oleh perngarang yang merupakan anggota masyarakat. Di dalam karya sastra juga menyerap aspek kehidupan masyarakat dan masalah-masalah yang ada pada masyarakat.

Analisis Novel Desperadoes Campus
Desperadoes Campus dalam bahasa Indonesia berarti bajingan kampus. Penulis, Ahmadi memilih judul tersebut dikarenakan sesuai dengan isi yang ingin ia sampaikan kepada pembaca, yaitu tentang kebejatan yang terjadi di dalam lingkungan kampus. Dalam novel ini, pengarang membuka kejadian sesungguhnya yang dialami oleh tokoh utama, Sarah, yang menjadi korban kebejatan di kampus.
Sarah, seorang remaja yang berniat kuliah dan lulus menjadi sarjana, akhirnya harus pupus ditengah jalan akibat ulah tidak bertanggungjawabnya dosen-dosen. Tubuh Sarah yang memang seksi menjai pemicu dosen cabul untuk menggodanya. Akhirnya dengan keterpaksaan agar cepat lulus dan dapat kerja, Sarah mau meladeni dosennya.
Penulis mendapat ide cerita langsung dari temannya, Sarah, yang menjadi korban. Setelah mendengar cerita dari Sarah, penulis membuat novel berdasarkan cerita asli dari penuturan Sarah.
Tahun 2006, ketika penulis masih menjadi mahasiswa, novel Desperadoes Campus terbit. sejak diterbitkannya novel tersebut, banyak kasus kebobrokan moral kaum intelektual yang mulai terungkap. Namun karena dianggap terlalu vulgar dalam pemakaian bahasa dan juga kritis, penulis merevisi novelnya tanpa mengubah esensi novel pada tahun 2008.
Dalam novel Desperadoes Campus ini terdapat adanya bukti bahwa kisah yang dipaparkan dalam cerita adalah hal nyata, bukan rekaan. Pada catatan pembuka dan catatan penutup, terdapat dialog antara penulis dengan Saras yang sedang melakukan persetujuan pembukuan novel yang mengisahkan tentang dirinya. Sehingga asal-usul novel tersebut diketahui secara jelas berasal langsung dari penuturan korban dosen cabul.

Kesimpulan
Ahmadi Sofyan membuat novel Desperadoes Campus ini di latar belakangi oleh ketidaksukaannya melihat aktor-aktor intelektual kampus bertindak semaunya. Ia mengkritik pendidikan Indonesia yang semakin bobrok. Meskipun vulgar, novel ini mampu membongkar aksi kebejatan asusila yang semakin berkembang di bidang pendidikan.
Selain mengkritik dunia pendidikan, ia juga mengkritik politik, ekonomi, sosial, dan budaya Indonesia lewat slempitan kalimat yang di bubuhkan dalam cerita.

No comments:

Post a Comment

thanks for reading (^o^)