Monday, November 14, 2011

KAJIAN STILISTIKA PUISI SITOR SITUMORANG


Postingan ini adalah tugas mata kuliah Stilistikaku yang diampu oleh Pak Sendng Mulyana.
Tugas ini adalah tentang kajian, penelitian, terhadap 5 puisi karya Sitor Situmorang.
Yang aku analisis kali ini adalah tema, makna, paduan bunyi, pencitraan, dan gaya bahasa.
Semoga bermanfaat ^.^
Boleh di copy, kok!
Asal jangan keseluruhan ya?
Ini hasil pengkerjaanku selama 3 minggu!
Hehe... terlihat tulalit, ya?
Memang! ^.* 
Semoga bermanfaat ...
1.      Si Anak Hilang

Pada terik tegah hari
Titik perahu timbul di danau
Ibu cemas ke pantai berlari
Menyambut anak lama ditunggu

Perahu titik menjadi nyata
Pandang berlinang air mata
Anak tiba dari rantau
Sebaik turun dipeluk ibu

Bapak duduk di pusat rumah
Seakan tak acuh menanti
Anak di sisi ibu gundah
-laki-laki layak menahan diri-

Anak disuruh duduk bererita
Ayam disembelih nasi dimasak
Seluruh desa bertanya-tanya
Sudah beristri sudah beranak?

Si anak hilang kini kembali
Tak seorang dikenalnya lagi
Berapa kali panen sudah
Apa saja telah terjadi?

Seluruh desa bertanya-tanya
Sudah beranak sudah berapa?
Si anak hilang berdiam saja
Ia lebih hendak bertanya

Selesai makan ketika senja
Ibu menghampiri ingin disapa
Anak memandang ibu bertanya
Ingin tahu dingin Eropa

Anak diam mengenang lupa
Dingin Eropa musim kotanya
Ibu diam berhenti berkata
Tiada sesal hanya gembira

Malam tiba ibu tertidur
Bapak lama sudah mendengkur
Di pantai pasir berdesir gelombang’
Tahu si anak tiada pulang

Tema
Puisi Si Anak Hilang ini bercerita tentang seorang ibu yang menunggu kepulangan anaknya di pelabuhan. Sejak lama ia menunggu anaknya yang merantau ke negeri Eropa. Setelah sekian lama, si anak pulang. kepulangan si anak membuat orang-orang desa bertanya tentang kehidupan anak tersebut. Sudah menikahkah, sudah beranakkah. Si anak hanya diam, tidak menjawab. Bapak tidak mau menunjukkan kegembiraanya ketika si anak pulang, oleh karena itu ia bersikap acuh. Ibu memasak nasi dan menyembelih ayam untuk makan malam anaknya. Sesudah makan malam, ibu ingin bertanya tentang kehidupan si anak di Eropa, namun si anak hanya melamun dan diam. Ibupun tidak kecewa dan tetap bahagia akan kedatangan anaknya. Malampun datang, bapak sudah lebih dulu tidur, ibu mulai tidur. Dalam tidurnya, ibu sadar, si anak belum pulang ke rumah. Kepulangan anaknya adalah mimpi ibu belaka.
Tema puisi Si Anak Hilang adalah tentang kerinduan. Kerinduan seorang ibu kepada anaknya yang lama tak pulang, hingga kepulangan anaknya terbawa kedalam mimpi.
Verifikasi
a.     Bait ke-satu memiliki rima berbentuk silang dan rima bunyi tak sempurna.
b.     Bait ke-dua memiliki rima bunyi sempurna (nyata-mata dan rantau-ibu) dan rima bentuk kembar.
c.    Bait ke-tiga memiliki rima bunyi sempurna (rumah-gundah dan menanti-diri) dan memiliki rima bentuk silang.
d.      Bait ke-empat memiliki rima bunyi sempurna (bercerita-tanya dan dimasak-beranak) dan rima bentuk silang.
e.    Bait ke-lima menggunakan rima bunyi tak sempurna dan rima bentuk patah (kembali, lagi, sudah dan terjadi).
f.        Bait ke-enam menggunakan rima bunyi sempurna dan rima bentuk rangkai (tanya, berapa, saja, dan bertnya).
g.    Bait ke-tujuh menggunakan rima bunyi sempurna dan rima bentuk rangkai (senja, disapa, bertanya, dan Eropa).
h.    Bait ke-delapan berima bunyi sempurna dan berima bentuk rangkai (lupa, kotanya, berkata dan gembira).
i.      Bait ke-sembilan beria bunyi sempurna dn berima bentuk kembar (tertidur, mendengkur, gelombang dan pulang).
Citraan
a.    Citraan penglihatan
-       Titik perahu timbul di danau
-       Perahu titik menjadi nyata
-       Pandang berlinang air mata
-       Selesai makan ketika senja
-       Anak memandang ibu bertanya
-       Malam ibu tertidur
Pada baris-baris puisi di atas, pembaca seolah-olah dapat melihat sendiri bagaimana perahu terlihat seperti titik dikejauhan, semakin dekat semakin menjadi ‘perahu’, melihat air mata ibu yang jatuh, melihat senja setelah makan, melihat anak yang memandang ibu, dan ketika malam pembaca seperti melihat ibu sedang tertidur.
b.    Citraan pendengaran
-       Seluruh desa bertanya-tanya
-       Bapak lama sudah mendengkur
-       Di pantai pasir berdesir gelombang
Pada baris-baris puisi di atas pembaca seolah-olah dapat mendengar orang-orang desa bergosip, bapak yang sudah tiur sambil mendengkur, dan mendengar pasir dan ombak saling beradu menghasilkan bunyi.
c.    Citraan perasa
-       Ibu cemas ke pantai berlari
-       Seakan tak acuh menanti
-       Anak disisi ibu gundah
-       Dingin Eropa musim kotanya
-       Tiada sesal hanya gembira
Pada baris-baris puisi di atas, pembaca seolah-olah dapat merasakan apa yang dirasakan ibu ketika cemas menunggu anak, bapak yang tak acuh menanti anak,si anak yang gundah didekat ibunya, ketika ibu merasa sesal dan gembira si anak pulang, dan ketika anak menceritakan dinginnya kota Eropa.
d.   Citraan gerak
-       Ibu cemas ke pantai berlari
-       Pandang berlinang air mata
-       Bapak duduk di pusat rumah
-       Sebaik turun dipeluk ibu
-       Ibu menghampiri ingin disapa
Pada baris-baris puisi di atas, pembaca dapat membayangkan pergerakan yang dilakukan ketika iu berlari ke pantai, ibu menangis melihat anaknya, bapak duduk di rumah, ibu memeluk si anak, dan ibu bergerak menghampiri si anak.
Gaya bahasa
a.       Hiperola
Seluruh desa bertanya-tanya
Kata ‘seluruh’ bermakna semua. Sehingga jika ‘seluruh desa’, berarti setiap orang di desa, tanpa terkecuali, dari anak-anak hingga orangtua, membicarakan si anak. Padahal belum tentu tiap orang mengetahui berita tersebut. Anak kecilpun belum mengerti berita seperti itu. Sehingga pada baris puisi tersebut menggunakan majas hiperbola, majas yang melebih-lebihkan sesuatu.
b.      Personifikasi
Di pantai pasir berdesir gelombang
Kata desir dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti tiruan bunyi seperti uap keluar dari cerek. Sedangkan dalam kenyataannya, pasir ti dak bisa mengeluarkan bunyi-bunyi, apalagi bunyi uap seperti pada cerek. Sehingga puisi pada baris ini menggunakan majas personifikasi, majas perumpamaan benda mati seolah-olah menjadi hidup.
c.       Simile
Bapak duduk di pusat rumah
Seakan tak acuh menanti
Kata seakan menunjukkan perbandingan terhadap suatu hal. Kata ‘seakan’ sama artinya dengan seperti, bagaikan, serupa, yang meruparan kata-kata pembanding untuk majas simile. Seakan tak accuh menanti berarti bapak berpura-pura tidak perduli pada anaknya yang belum pulang, namun sebenarnya ia berharap anaknya pulang.

2.                                                                                                          MALAM LEBARAN
Bulan di atas kuburan
Karya : Sitor Situmorang
Tema puisi di atas adalah kemanusiaan, karena dalam puisi ini mengarah pada kehidupan sosial. Kata “Bulan” dimaksudkan bulan sesungguhnya yang muncul pada saat malam lebaran. Malam dimana umat muslim merayakan kemenangannya setelah satu bulan berpuasa, sehingga kata ‘bulan’ diartikan sebagai lambang kebahagiaan. ‘Kuburan’ di atas dimaksudkan dengan kesedihan.
Namun kata ‘Bulan’ dilengkapi dengan ‘di atas kuburan’, melambangkan adanya suatu kebahagian di atas kesedihan. Ketika malam lebaran banyak umat muslim yang bahagia merayakan hari kemenangan, namun tak sedikit orang yang yang belum bisa disebut bahagia, masih serba kekurangan.
Puisi “Malam Lebaran” ini terdapat paduan bunyi /a/ pada bulan dan kuburan dalam satu larik yang sama. Pemilihan kata/diksi menggunakan bahasa sehari-hari tanpa adanya bahasa kiasan, namun, memiliki makna yang luas. Pembaca seolah-olah dapat melihat bulan yang bersinar di atas kuburan, sehingga puisi di atas menggunakan citraan penglihatan.
Dengan membaca puisi ‘Malam Lebaran’ tersebut, pembaca merasa disihir sekaligus tersindir dengan kekuatan diksinya. Pembaca disadarkan bahwa masih banyak orang yang belum bisa merasakan kebahagian pada malam lebaran, sehingga pembaca diharapkan dapat berbagi kepada mereka yang kurang beruntung.

3.      Topografi Danau Toba

Dari pantai Haranggaol
kutatap pulau
danau biru membuai perahu
nelayan Bandar Saribu
dengan lagu kasih
adat Simalungun
di tanah Purba

dari seberang ke seberang
sawang gunung
mendekap teluk
mendekap lembah
hati bunda pertiwi
air biru kedamaian
di tengah riuh dunia
hatiku yang memeluk
langitnya Ayah
di atas sawah ladang
kaumku

hari ini aku sampai di Bakara
bermalam di rumah asal
seketiduran dengan roh batu gunung
mendengarkan silsilah bintang-bintang
di tulang-belulang leluhur
terkujur di tubuh malam
lembah-lembah kecintaan
sarat beban perlambang
air kehidupan
tempat kasih berkecimpung
bersama ikan-ikan
bersama manusia pendatang
dari balik tanjung


(Sumber : Situmorang, Sitor. 1982. Angin Danau. Jakarta : Penerbit Sinar Harapan. Cetakan Pertama)

Tema
Pengertian ‘topografi’ menurut KBBI, yaitu kajian atau penguraian yang terperinci tentang keadaan muka bumi pada suatu daerah. Puisi ‘Topografi Danau Toba’ melukiskan keindahan alam Danau Toba dan sekitarnya. Sehingga tema puisi tersebut adalah keindahan alam. Keindahan alam Danau Toba dan keindahan lingkungan di sekitarnya.

Citraan
a.       Citraan penglihatan
-  Kutatap pulau
-  Danau biru membuai perahu
-  Dari seberang ke seberang
-  Sawang gunung
-  Di atas sawah ladang
-  Dari balik tanjung
b.      Citraan pendengaran
-          Dengan lagu kasih
-          Di tengah riuh dunia
-          Mendengarkan silsilah bintang-bintang
c.       Citraan gerak
-          Hatiku memeluk
-          Hari ini aku sampai di Bakara
-          Seketiduran dengan roh batu gunung
-          Terkujur di tubuh malam
-          Tempat kasih berkecimbung
Gaya Bahasa
a.    Personifikasi
Danau biru membuai perahu
Pada kenyataannya, danau adalah benda mati, sedangkan benda mati tidak bisa melakukan kegiatan membuai. Sehingga baris puisi tersebut menggunakan majas personifikasi.

sawang gunung
mendekap teluk
mendekap lembah
baris-bari puisi di atas mengandung majas personifikasi karena penggunaan kata kerja ‘mendekap’ yang dilekatkan pada subjek sawang gunung (ruang antara gunung) yang merupakan benda tak bernyawa.
hatiku yang memeluk
‘Hatiku’ adalah benda tak bernyawa dan dilekatkan pada kata kerja ‘memeluk’ yang hanya bisa dilakukan oleh makhluk hidup. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa barisan kata itu mengandung bahasa kiasan personifikasi.
seketiduran dengan roh batu gunung
Digambarkan bahwa roh batu gunung turut tertidur bersama penulis. Kata ‘roh batu gunung’ bukan sesuatu yang bisa melakukan pekerjaan ‘tidur’ karena itulah larik tersebut mengandung unsur personifikasi.
b.    Metafora
hati bunda pertiwi
‘Bunda pertiwi’ merupakan metafor dari ‘negeri’ yang mempunyai ‘hati’ layaknya manusia, sehingga baris tersebut mengandung personifikasi.
c.    Hiperbola
di tengah riuh dunia
Kata ‘riuh’ mengandung kesan dibesar-besarkan atau dilebih-lebihkan. Terlebih lagi ketika kata tersebut disandingkan dengan kata ‘dunia’, menjadi ‘riuh dunia’. Penggunaan frasa ‘riuh dunia’ mengesankan bahwa dunia benar-benar ramai (dalam konteks suara). Memang benar, namun terkesan dilebih-lebihkan dari kenyataan. Oleh karena itu, bolehlah dikata bahwa barisan kata itu mengandung unsur hiperbola.
d.   Paraleisme
mendekap teluk
mendekap lembah
Kata ‘mendekap’ yang diulang dengan isi dan maksud yang serupa, hanya berbeda subjek ini mengandung majas paraleisme.

4.       Tamasya Danau Toba

seribu gunung
seperti kawanan gajah
menyerbu air danau
lalu beku—
kejadian lapisan bumi
30.000 lalu
—kata ilmu—
ketika perut bumi
memuntahkan ke langit
batu berapi lahar mendidih
jadi gunung-gunung gundul

ribuan tahun lewat
—rumput tumbuh
air menggenang
jadilah danau
di kawah raksasa—
sebelum hutan tumbuh
sebelum puak pengembara
tiba dari benua utara
membuka ladang
kemudian sawah pertama
dilembahlembah subur
menghadap danau
warna hijau biru
seperti pohon hutan
kini kelabu batu
di tengah kuning padang
hutan sisa
terancam punah
(Sumber : Situmorang, Sitor. 1982. Angin Danau. Jakarta : Penerbit Sinar Harapan. Cetakan Pertama)
Tema
Sama seperti puisi Topografi Danau Toba, pada puisi Tamasya Danau Toba juga menggunakan acuan Danau Toba dan pemandangan disekitarnya. Sehingga temanya adalah keindahan Danau Toba.
Pada bait pertama menggambarkan bencana alam gunung meletus 30.000 tahun lalu yang membekukan air danau dan menggundulkan hutan sekelilingnya. Bait kedua menggambarkan tentang kejadian seribu tahun sesudah bencana dahsyat 30.000 tahun lalu. Tumbuhan tumbuh lebat dan air menggenang menjadi danau di kawah gunung. Masyarakat mulai bertanam di ladang dan di sawah. Namun, danau yang dulu berwarna hijau biru seperti warna pohon di hutan, kini mulai gundul, terancam punah.
Citraan
a.       Citraan Penglihatan
Seribu gunung
Seperti kawanan gajah
Menyerbu air danau
Lalu beku
Memuntahkan ke langit
Batu berapi lahar mendidih
Jadi gunung-gunung gundul
Rumput tumbuh
Air menggenang
Jadilah anau
Di kawah raksasa
Sebelum hutan tumbuh
Kemudian sawah pertama
Si lembah subur
Menghadap danau
Warna hijau biru
Di tengah kuning padang

b.      Citraan gerak
Menyerbu air danau
Memuntahkan ke langit
Tiba dari benua utara
Membuka ladang
Menghadap danau
Gaya bahasa
a.       Hiperbola
seribu gunung
Kata ‘seribu’ mengandung kesan dibesar-besarkan atau dilebih-lebihkan. Terlebih lagi ketika kata tersebut disandingkan dengan kata ‘gunung’, menjadi ‘seribu gunung’. Penggunaan frasa ‘seribu gunung’ mengesankan bahwa gunung yang mengelilingi danau Toba ada seribu gunung. Memang benar danau Toba dikelilingi gunung, tapi tidak sampai sebanyak seribu gunung.
di kawah raksasa
Penggunaan kata ‘raksasa’ mengesankan sesuatu yang sangat besar. Kawah pun sudah menggambarkan sesuatu yang lebar dan besar, terlebih lagi jika detambah dengan kata ‘raksasa’. Hal ini menjadikan kesan yang dilebih-lebihkan dari kenyataan.
perut bumi memuntahkan ke langit
Penggunaan kata ‘memuntahkan’ dan dilekatkan pada kata ‘ke langit’ terkesan berlebihan. Hal itu mengisyaratkan bahwa ledakan dari perut bumi terjadi sangat hebat hingga mencapai langit.
b.      Personifikasi
kemudian sawah pertama
dilembah-lembah subur menghadap dana
 Penggunaan kata kerja ‘menghadap’ yang dilekatkan pada subjek ‘sawah’ dan ‘lembah-lembah’ mengisyaratkan bahwa sawah tersebut bisa melakukan pekerjaan yang seringkali dilakukan oleh yang bernyawa, yakni menghadap.
c.       Paradoks
kini kelabu batu
di tengah kuning padang
Ada perlawanan antara’kelabu’ di tangah ‘kuning’, yang menandakan bahwa ada kegersangan diantara yang subur dan sejahtera.
d.      Simile
seribu gunung
seperti kawanan gajah
Penggunaan kata ‘seperti’ secara langsung membandingkan antara ‘seribu gunung’ dengan ‘kawanan gajah’, karena besarnya gunung dianggap sama dengan gajah yang berbadan besar. Gunung paling besar diantara benda alam lainnya, sedangkan gajah adalah hewan paling besar diantara hewan lainnya. sehingga kedua baris puisi tersebut mengandung bahasa kias simile.

5.      LAGU GADIS ITALI
Buat Silvana Maccari

Kerling danau di pagi hari
Lonceng gereja bukit Itali
Jika musimmu tiba nanti
Jemputlah abang di teluk Napoli

Kerling danau di pagi hari
Lonceng gereja bukit Itali
Sedari abang lalu pergi
Adik rindu setiap hari

Kerling danau di pagi hari
Lonceng gereja bukit Itali
Andai abang tak kembali
Adik menuggu sampai mati

Batu tandus di kebun anggur
Pasir tandus di bawah nyiur
Abang lenyap hatiku hancur
Mengejar bayang di salju gugur

(Dalam Sajak, 1955:9)

Tema
Puisi Lagu Gadis Itali ini berbeda dengan ke-empat puisi Sitor sebelumnya. Pada puisi ini menggunakan pola bunyi sajak syair yang dikombinasikan dengan pantun, tetapi dengan variasi baru. Polanya seperti pantun, baris pertama kedua merupakan sampiran, baris ketiga dan keempat merupakan isi.
Tema pada puisi tersebut adalah kesetiaan. Kesetiaan ditunjukkan pada bait ke-dua.

Kerling danau di pagi hari
Lonceng gereja bukit Itali
andai abang tak kembali
Adik menunggu sampai mati

Paduan Bunyi
Penggunaan pola pantun ini membuat paduan bunyi yang sama pada bait ke-satu, ke-dua, dan ke-tiga yaitu paduan bunyi /i/ pada kata hari, Itali, nanti, Napoli, hari, Itali, pergi, hari, hari, Itali, kembali, dan mati. Sedangkan untuk bait ke-empat menggunakan paduan bunyi /u/ pada kata anggur, nyiur, hancur dan gugur.
Citraan
a.    Citraan Penglihatan
Kerling danau di pagi hari
Batu tandus di kebun anggur
Pembaca seolah-olah melihat kerlingan, pantulan sinar matahari yang memantul di permukaan air danau di pagi hari.
b.    Citraan Gerak
Jemputlah abang di teluk Napoli
Sedari abang lalu pergi
Adik menunggu sampai mati
Mengejar bayang di salju gugur
Pembaca bisa membayangkan penggambaran yang seolah-olah bergerak untuk menjemput, pergi, menunggu, dan mengejar.
c.    Citraan Pendengaran
Lonceng gereja bukit Itali
Seakan-akan mendengar suara loneng dari gereja Itali.

d.   Citraan Perasa
Adik rindu setiap hari
Abang lenyap hatiku hancur
Seolah-olah pembaca merasakan perasaan rindu dan hancur ketika ditinggal kekasih pergi jauh.
Gaya Bahasa
a.       Personifikasi
Kerling danau di pagi hari
Pada baris ini kata kerja ‘kerling’ yang umumnya dilakukan oleh mata saja, bukan danau, yang merupakan benda mati. Oleh karena itu, baris tersebut mengandung majas personifikasi.
Mengejar bayang di salju gugur
Kegiatan mengejar layaknya dilakukan untuk menangkap sesuatu yang bergerak, bukan untuk benda diam, atau benda yang mustahil seperti bayangan, karena sampai kapanpun, bayangan tidak bisa di tangkap.



2 comments:

thanks for reading (^o^)