Monday, December 26, 2011

Menulis Karya Ilmiah : Artikel Populer


KESANTUNAN BERBAHASA SEBAGAI WUJUD BUDAYA DAN KOMUNIKASI


K
esantunan merupakan aturan perilaku yang ditetapkan oleh suatu masyarakat tertentu sehingga membentuk tatacara, adat, atau kebiasaan yang berlaku di dalam masyarakat. Kesantunan sangat diperlukan dalam pergaulan sehari-hari. Ketika orang dikatakan santun, maka dalam diri seseorang itu terdapat sikap sopan santun yang berlaku secara baik di masyarakat tempat seseorang mengambil peran sebagai anggotanya. Ketika ia bersikap santun, masyarakat memberikan penilaian baik secara mendadak maupun konvensional panjang, memakan waktu lama. Kesantunan berlaku dalam masyarakat baik itu tempat, atau dalam situasi tertentu, tetapi belum tentu berlaku untuk masyarat lain. Hal ini bisa dikatakan bahwa kesantunan merupakan sesuatau yang sangat kontekstual. Banyak jenis kesantunan, diantaranya yaitu kesantunan berbusana, kesantunan perbuatan yaitu tatacara bertindak atau gerak-gerik ketika menghadapi sesuatu atau dalam situasi tertentu. Kesantunan tindakan misalnya ketika kita menerima tamu tidak boleh muka di tekuk.
Kesantunan dalam berbahasa tercermin dalam tatacara berkomunikasi lewat tanda verbal dan tatacara berbahasa. Ketika kita berkomunikasi alangkah baiknya kita tunduk pada norma-norma budaya. Tatacara berbahasa harus sesuai dengan unsur-unsur  budaya dalam masyarakat tempat hidup dan dipergunakanya suatu bahasa dalam berkomunikasi. Apabila seseorang dalam berkomunikasi tidak sesuai dengan tatacara bahasa yang benar dan unsur-unsur budaya, maka ia akan mendapat nilai negatif, contohnya ia akan dikatakan sombong, angkuh, egois, maka masyakat akan berpikiran bahwa ia tidak beradat bahkan tidak berbudaya. Dalam berkomunikasi tatacara berbahasa sangat penting diperhatikan demi kelancaran dalam komunikasi. Tatacara berbahasa seseorang sangat dipengaruhi oleh norma-norma budaya suku bangsa dan masyarakat tertentu. Tatacara berbahasa orang Jawa dengan Madura sangat berbeda meskipun pada kenyataannya mereka sama-sama berbahasa Indonesia. Hal ini menunjukan bahwa kebudayaan yang mendarah daging pada seseorang berpengaruh dalam berbahasanya. Itulah perlunya kita mempelajari norma-norma budaya sebelum atau di samping mempelajari bahasa.
Penerapan prinsip kesopanan dalam berbahasa. Prinsip ini ditandai dengan memaksimalkan kesenangan/kearifan, keuntungan, rasa salut atau rasa hormat, pujian, kecocokan, dan kesimpatikan kepada orang lain’ dan bersamaan dengan itu meminimalkan hal-hal tersebut pad diri sendiri.Selain itu kita juga harus menghindarkan pemakaian kata tabu. Pada kebanyakan masyarakat, kata-kata yang berbau seks, kata-kata yang merujuk pada organ-organ tubuh yang lazim ditutupi pakaian, kata-kata yang merujuk pada sesuatu benda yang menjijikkan, dan kata-kata “kotor” dan “kasar” termasuk kata-kata tabu dan tidak lazim digunakan dalam berkomunikasi sehari-hari, kecuali untuk tujuan-tujuan tertentu. Penggunaan eufemisme juga sangat di perlukan untuk menghindari dari kesan negatife. eufemisme harus digunakan secara wajar, tidak berlebihan. Jika eufemisme telah menggeser pengertian suatu kata, bukan untuk memperhalus kata-kata yang tabu, maka eufemisme justru berakibat ketidaksantunan, bahkan pelecehan.
Dalam kaitannya hal ini tujuan utama kesantunan berbahasa adalah memperlancar komunikasi. Oleh karena itu, pemakaian bahasa yang sengaja dibelit-belitkan, yang tidak tepat sasaran, atau yang tidak menyatakan yang sebenarnya karena enggan kepada orang yang lebih tua juga merupakan ketidaksantunan berbahasa. Kenyataan ini sering dijumpai di masyarakat Indonesia karena terbawa oleh budaya “tidak terus terang” dan menonjolkan perasaan. Karena tatacara berbahasa selalu dikaitkan dengan penggunaan bahasa sebagai sistem komunikasi,maka selain unsur-unsur verbal, unsur-unsur nonverbal yang selalu terlibat dalam berkomunikasi pun perlu diperhatikan. Unsur-unsur nonverbal yang dimaksud adalah unsur-unsur paralinguistik, kinetik, dan proksemika. Pemerhatian unsur-unsur ini juga dalam rangka pencapaian kesantunan berbahasa.
*Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Semarang, 2111409002

No comments:

Post a Comment

thanks for reading (^o^)