Monday, December 26, 2011

Menulis Karya Ilmiah : Artikel Populer


 JEBOLAN SASTRA  Berpotensi Menjadi Penerapi Bahasa ( ILMU KESEHATAN )

Rambut gondrong dan berbusana nyeleneh mungkin tidak jauh berbeda dari seorang sastrawan, seniman, dan budayawan. Meski sebenarnya mereka berpendidikan, tetap saja anggapan itu mendarah daging di kalangan masyarakat. Karena para sastrawan dan pecinta seni lainnya sering mengapresiasikan sentilan-sentilan dalam balutan karya yang diciptakan. Tanpa basa-basi mereka melontarkan kritikan akan corat-marut zaman, di mana angkara murka ngombro-ombro (angkara murka menjadi-jadi), akeh wong ijir, akeh wong cethil (banyak orang kikir, banyak orang bakhil). Sing eman ora keduman (si hemat tidak mendapat bagian), sing keduman ora eman (yang mendapat bagian tidak berhemat). Akeh wong mbambung (banyak orang berulah dungu) dan akeh wong limbung (banyak orang limbung) (Ramalan Jayabaya).
Sejak kapan sastrawan berpenampilan nyentrik belum diketahui. Yang jelas!! Selama kami mengikuti perkuliahan sastra tidak pernah diajarkan untuk menjadi manusia cendekiawan yang aneh, pembangkang suatu idealis, atau pemberontak terhadap aturan, dan sebagainya. Tetapi di dalam sastra juga terdapat ilmu dan teori yang menjadikan sastra itu harum dan bersahaja. Ilmu dan teori yang mengajarkan tentang falsafah pengetahuan dan lingkungan sosial kita. Ilmu dan teori yang menyeret kita pada lembah kemanusiaan yang beradab dan berperilaku menggunakan logika serta perasaan. Itulah ilmu sastra yang diajarkan pada kami (anak-anak sastra).
Di dalam dunia sastra sebenarnya mencakup dua bidang kajian, yakni bidang karya sastra atau karya kreatif dan bidang ilmu sastra. Jika ditinjau dari segi kemunculannya, karya sastra muncul terlebih dahulu dibandingkan ilmu sastra yang berisikan teori-teori dan penelahaan tentang seluk-beluk sastra. Dengan kata lain, ilmu sastra muncul setelah ada karya sastra. Kedua bidang tersebut pada hakikatnya saling berhubungan. Di mana karya sastra dalam pengkajiannya memerlukan beberapa teori sastra yang tentunya terdapat dalam ilmu sastra, sedangkan ilmu sastra akan menjadi gombal-gambul atau omong kosong jika tanpa penerapan dari hasil karya sastra.
Jika kita masuk perguruan tinggi dan memilih jurusan Sastra Indonesia, maka pada semester 5-6 akan terjadi pemecahan konsentrasi. Di mana ilmu sastra lebih diperdalam ke  bahasa untuk bidang linguistik, naskah-naskah kuno untuk bidang filologi, dan sastra tentunya pada bidang sastra itu sendiri. Sedangkan bidang yang berkaitan dengan judul artikel di atas tentunya bidang yang berhubungan dengan konsentrasi saya saat ini, yakni linguistik atau bahasa.
Secara umum, linguistik lazim diartikan sebagai ilmu bahasa atau ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Pakar linguistik disebut linguis (Abdul Chaer). Cabang dari linguistik yang berkaitan dengan teori terapi bahasa adalah cabang ilmu psikolinguitik. Psikolinguistik secara etimologi terbentuk dari kata psikologi dan linguistik, yakni dua bidang ilmu yang berbeda dengan keragaman prosedur dan metode yang berlainan (Abdul Chaer). Keduanya sama-sama mengkaji bahasa sebagai objek formalnya. Namun, berbeda dengan objek materialnya. Di mana linguistik mengkaji struktur bahasa sedangkan psikologi mengkaji perilaku berbahasa atau proses berbahasa.
Dalam kajian psikolinguistik menguraikan tentang bahasa dan berbahasa yang meliputi hakikat bahasa, asal-usul bahasa, fungsi-fungsi bahasa, struktur bahasa, dan proses berbahasa. Di dalam proses berbahasa tentunya manusia melalui pembelajaran bertahap dan bakat yang natural. Jika terjadi kendala atau gangguan berbahasa, maka tidak lain penyebab utama berasal dari otak. Karena aspek neurologi manusialah yang mengatur segala perilaku tersirat maupun tersurat pada dirinya.
Pada dasarnya masa berbahasa manusia dimulai sejak baru lahir sampai usia enam bulan pada anak yang normal dan sering dilatih berkomunikasi oleh orang-orang di sekitarnya, terutama ibu. Jika sampai usia menjelang dua tahun anak belum bisa menyusun beberapa kalimat dengan empat kata, maka anak tersebut terancam agrafia, yakni gangguan kemampuan berbicara namun tetap mengerti bahasa dengan baik.
Jika anak-anak sampai orang lanjut usia mengalami hal tersebut, tentunya ada gangguan pada sistem saraf di otaknya. Berdasarkan penelitian para ahli, otak memiliki fungsi dalam komunikasi berbahasa pada makhluk hidup. Fungsi bicara-bahasa dipusatkan pada belahan otak (hemisfer) kiri bagi orang yang tidak kidal (cekat tangan, right-handed). Hemisfer kiri ini disebut juga hemisfer dominan bagi bahasa, dan korteksnya dinamakan korteks (permukaan otak) bahasa. Gangguan berbahasa di atas dapat meliputi proses membaca, berbicara, dan menulis.
Epilog dari artikel yang saya tulis ialah ingin menunjukkan keseriusan ilmu sastra yang sebenarnya bisa merambah ilmu kesehatan (psikologi; perilaku berbahasa atau proses berbahasa). Tidak hanya dicap sebagai sastrawan yang hanya berpenampilan nyentrik dengan penghasilan yang diragukan jika belum menjadi apa-apa. Sehingga artikel di atas dapat sedikit menghapus ilmu sastra sebagai ilmu yang dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang.


*Mahasiswa Sastra Indonesia’09, 2111409005, Universitas Negeri Semarang









No comments:

Post a Comment

thanks for reading (^o^)