Monday, December 26, 2011

Menulis Karya Ilmiah : Artikel Populer


Konsep Kecantikan Perempuan dalam Dongeng di Masyarakat

Pada zaman sekarang, muncul berbagai konsep kecantikan perempuan sempurna. Wolf(2002) mendiskripsikan perempuan cantik sebagai perempuan yang mempunyai rambut indah, tinggi, langsing, putih, berat badan kurang dari 20 persen berat badan ideal, lebih muda ( umurnya tidak lebih dari 25), tidak mempunyai cacat pada kulitnya dan rambut serta pakaiannya selalu rapi. Longlois Roggman dan Musleman (1994) mengatakan perempuan cantik adalah perempuan yang selalu mengikuti trend fashion, penampilan fisiknya menarik, makan, minum, dan tinggal di tempat yang mewah.
Pernyataan di atas merupakan pandangan yang dilihat dari luar. Sampai sekarang cantik selalu dihubungkan dengan gaya yang mewah, seperti kendaraan yang mewah, pakaian yang bagus dan aksesoris yang glamor. Meskipun demikian, kecantikan dalam atau inner beauty masih menjadi hal yang paling penting daripada hanya cantik di luar.
Kecantikan sebagai Suatu Alat
Dalam masyarakat kita, kecantikan sering dijadikan sebagai suatu alat untuk mendapatkan pacar atau jodoh. Meskipun romantisme menjadi salah satu kriteria, tetapi kecantikan fisik merupakan salah satu kunci utama. Misal, seorang laki-laki sedang menghadapi dua pilihan, tak diragukan lagi ia akan memilih perempuan yang lebih cantik. Namun kecantikan luar akan luntur dimakan zaman.
Dongeng adalah karya sastra yang disampaikan dari mulut ke mulut hingga sekarang. Dongeng yang terdapat di masyarakat Indonesia seperti Roro Jonggrang, Bawang Merah Bawang Putih, Ande-ande Lumut serta dongeng-dongeng dari luar negeri dan berkembangseperti Cinderella adalah kisah yang menggambarkan kecantikan perempuan. Cinderella adalah putri yang cantik, bergaun mewah, menaiki kendaraan yang bagus dan sangat dicintai oleh perempuan. Masyarakat penikmat dongeng mendiskripsikan perempuan cantik adalah perempuan seperti Cinderella.
Tokoh utama dalam dongeng, selain menarik secara fisik juga digambarkan baik dan bijak. Analisis tokoh utama tersebut, konsep cantik dalam dongeng mempunyai dua unsur. Pertama, unsur fisik ( luar) dengan mendiskripsikan perempuan terlihat muda, cantik, menarik dan mewah. Kedua, inner beauty digambarkan bahwa perempuan sebagai seorang yang penyabar, bijaksana, suka menolong, ceria, perhatian, pintar dan rela berkorban.
Pencitraan Konsep Cantik di Masyarakat
Kecantikan memiliki standar perbandingan, sehingga menyebabkan kedengkian dan ketidakpuasan jika tidak dipenuhi. Penampilan fisik yang menarik mempunyai kekuatan tersendiri dalam memikat dan mendorong orang lain untuk memberikan perlakuan istimewa. Jika tidak memenuhi standar kecantikan yang telah melekat dalam masyarakat, mereka yang penampilan fisiknya tidak menarik mempunyai pengalaman didiskriminasikan dan merasa ditolak. Akhirnya mereka berusaha memenuhi tuntutan konsep kecantikan yang ada di masyarakat.
Pencitraan kecantikan perempuan melalui ciri-ciri fisik, seperti halnya pencitraan ratu kecantikan merupakan salah satu karakteristik modernisasi. Perempuan akan melakukan apa pun agar terlihat cantik. Sering kita mendengar seorang perempuan rela mengeluarkan banyak uang hanya untuk menunda, bahkan menghilangkan keriput.
Konsep cantik yang terlanjur diterima secara mentah oleh banyak perempuan akhirnya memunculkan monopoli di industri kecantikan. Kalngan bisnis, baik industri besar maupun kecil, media cetak, TV, dan radio mempropagandakan berbagai produk yang berhubungan dengan kecantikan dan iklan yang dipaparkan secara terus-menerus dengan memanfaatkan peran dan definisi gender yang berlaku di negara kita.
Banyak sekali produk kecantikan yang menawarkan pengobatan antikerut pada wajah. Ada juga obat untuk pengencang kulit. Herannya obat tersebut laris manis diserbu oleh perempuan-perempuan yang menginjak lanjut usia. Perempaun rela melakukan pelangsingan tubuh dengan tidak makan dan berolahraga yang berlebihan hanya untuk memperoleh tubuh indah menurut konsep kecantikan yang ada. Akibatnya, mereka menderita anoreksida dan bulimia.
Tanpa disadari iklan dan kontes kecantikan sesungguhnya menindas perempuan. Banyak perempuan hanya mencerna bagaimana citra perempuan ideal dan apa yang mampu membentuk mereka terlihat lebih menarik dan disukai oleh lingkungan sosialnya. Banyak sekali perempuan yang rela menghabiskan banyak uang untuk ke salon agar bisa tampil dengan percaya diri. Seperti halnya di film, digambarkan kisah seorang gadis miskin mersa minder bila dicintai laki-laki kaya, sehingga memilih untuk menjauhi laki-laki tersebut.
Realitasnya banyak perempuan yang salah memperjuangkan kekurangan fisiknya. Perempuan tidak seharusnya menyiksa diri, mengorbankan apa saja yang dimilikinya agar berwajah cantik. Namun semestinya ia harus menunjukkan inner beauty yang dimiliki, seperti menjaga diri dari hal-hal yang negatif, serta mengasah dan mengembangkan kelebihan. Perempuan cantik yang sesungguhnya adalah perempuan yang mempunyai inner beauty dan didukung oleh kecantikan dari luar.
Mahasiswa Sastra Indonesia 09, 2111409008, Universitas Negeri Semarang*

No comments:

Post a Comment

thanks for reading (^o^)