Monday, December 26, 2011

Ilmu Budaya : Simbolisasi Kebudayan Jawa Dalam Novel Pengakuan Pariyem


Pengakuan Pariyem adalah sebuah novel dengan penyajian prosa lirik yang mengungkap kehidupan seorang gadis Jawa yang bernama Pariyem, berpredikat babu. Iyem begitu pasrah memandang hidup, namun di dalam jiwanya menyimpan kebijaksanaan hidup. Iyem, babu yang berasal dari Wonosari, Ngayogya yang penuh wibawa itu, mampu bercerita banyak soal hidup, soal masyarakat, soal potret sebuah keluarga bangsawan tempatnya mengabdi yang penuh diwarnai oleh sebuah pola kultur Jawa yang tenang namun mengalir demikian tak tertahankan.
Keluguan kultur yang nyata begitu tegar dan lembut rasanya. Dia bicara bagaimana konsep nrimo dalam kultur Jawa, bagaimana keseimbangan antara dua jagad di dalam kehidupan manusia, tentang konsep Manunggaling Kawula Lan Gusti yang sudah dikenal sebagai ciri kultur Jawa.
3B: Bibit,Bobot dan Bebet, nama membawa tuah bahwa asal-usul dijadikan patokan pada masa itu hingga sekarang, seperti dah tertempel di kening, bukan semangat yang menempel dibadan.( hal 5 )

Dalam novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi mengandung simbol-simbol kebudayaan. Simbol-simbol kebudayaan tersebut seperti berikut :
1.    Hal. 1-2 : Upacara Kelahiran Bayi
“Ya, ya, Pariyem saya
Saya lahir di atas amben bertikar
dengan ari-ari menyertai pula
Oleh mbah dukun dipotong dengan welat
tajamnya tujuh kali pisau cukur
Bersama telor ayam mentah, beras, uang logam
bawang merah dan bawang putih, gula, garam
jahe dan kencur, adik ari-ari jadi Satu
Sehabis dibersihkan dibungkus periuk tanah
kemudian ditanam di depan rumah
Ya, ya, telur: lambang sifat bayi baru lahir
belum bisa apa-apa – murni –
gulang-gulung tergantung pada yang tua
Beras dan dhuwit logam: lambang harap
semoga hidup kita kecukupan
dalam hal sandang, pangan, dan uang
Bawang merah dan baawang putih, gula, garam
jahe dan kencur: lambang pahit-manisnya hidup
yang bakal berjumpa dan terasakan, agar:
jangan terlalu sedih bila mendapat kesusahan
jangan terlalu bergembira bila mendapat kesenangan
Dengan upacara kecil adik ari-ari pun dikubur
di depan pintu sebelah kanan bila bayi laki-laki
di depan pintu sebelah kiri bila bayi perempuan
Dipanjar diyan sampai bayi umur selapan
Apa yang terungkap pada cuplikan di atas, menggambarkan budaya Jawa ketika lahir seorang bayi. Tata cara dan bahan-bahan yang digunakan pun mempunyai arti dan makna tersendiri. Seperti telur yang dilambangkan sebagai sifat bayi baru lahir, belum bisa apa-apa. Beras dan uang logam sebagai lambang harap semoga hidup kita serba kecukupan dalam hal sandang, pangan dan uang. Pada tata cara yang dilakukan inilah para orang tua menaruh harap pada anaknya, kelak bisa menjadi orang yang berkecukupan.
2.        Hal. 2-3: adat orang jawa setelah mempunyai bayi
-sepasaran, bahasa populernya
Maka tersedialah di tikar, di lantai, di tanah:
Jenang abang: lambang kesucian si jabang bayi
Jenang putih; lambang cahaya yang menerangi alam
Ingkung ayam: lambang keutuhan badan
awadhag telanjang
Nasi tumpeng dan gudhangan: lambang
pergaulan hidup
yang kelak memperkaya pengalaman
Jenang sumsum: lambang harap, semoga
otot bayu simbok bayi yang melahirkan pulih
segar bugar sebagai sediakala
Dan jabang bayi kian kokoh daya kekuatannya
Dalam upacara keduri di kampung
berkeliling para tetangga satu dusun

Setelah mempunyai bayi, dalam adat orang Jawa masih harus melakukan adat, seperti saat hari kelima setelah bayi lahir yang disebut sepasaran. Pada sepasaran digelar syukuran yang dikenal masyarakat Jawa sebagai kenduri, yang dihadiri oleh warga satu kampung, dengan menyajikan jenang merah sebagai lambang kesucian bayi, jenang putih sebagai lambang cahaya bayi, nasi tumpeng dan gudhangan sebagai simbol pergaulan hidup, jenang sumsun sebagai simbol penambah kekuatan ibu sehabis melahirkan dan kekuatan otot bayi.
3.        Hal. 23     : pariyem sadar siapa dirinya, dia terima apa adanya, dia juga tidak pernah mengeluh akan kehidupannya, walaupun dia seorang babu dia ikhlas, dan supaya dia sadar siapa dirinya maka dia menerapkan konsep ngilo githoke dhewe yang berarti selalu melihat siapa dirinya, hal itu yang membuat dia bisa ikhlas menjalani hidup.
4.        Hal. 28     :  3M (Madeg, Mantep, Madhep), artinya dia berdiri, mantap dan menerima bahwa kehidupannya sebagai seorang babu.
Hidup yang prasojo saja
tak usah yang aeng-aeng
Madeg, Mantep, dan Madhep
Dan saya sudah 3M sebagai babu, kok

5.        Hal. 28 : 3A ( Asih, Asah dan Asuh ), bahwa bukan ketakutan atau keberanian yang mengantarkan kita berjalan tapi kemauan dan kebulatan hati yang membuat kita bangun dan bangkit,dan bukan kemenangan dan gagah-gagahan yang mengundang untuk bertandang tapi maaf dan rasa kasih sayang yang melestarikan hubungan.
Asih, Asah, dan Asuh
Dan saya sudah 3A aebagai babu, kok
...
Dan saya resapkan ke dalam sanubari
sebagai susu ibu meresap ke tubuh bayi
Bukan ketakutan atau keberanian
Bukan ketakutan atau keberanian
yang mengantarkan kita berjalan
Tapi kemauan dan kebulatan hati
yang melambari kebangunan diri
Bukan kemenangan dan gagah-gagahan
yang mengundang kita bertandag
Tapi permaafan dan kasih sayang
yang melestarikan perhubungan

6.        Hal. 31     : 3 K ( karsa, kerja, karya) keinginan untuk bekerja dan memperoleh hasil dari apa yang dikerjakan. Itulah konsep yang ditanamkan oleh Pariyem.

Karsa, Kerja, dan Karya
Dan saya sudah 3K sebagai babu, kok
Saya siap menyambut berkah kerja
sebagai ibadah harian hidup saya
...
Ya, ya, pada mulanya adalah karsa:
...
Tanpa karsa, kerja bakalan percuma
tanpa kerja, karya hanya cita-cita
antara karsa sampai pada karya
kerja memanggil jam-jam tersedia

7.        Hal. 33     : 3L (lirih, laras, lurus), lirih artinya dia tidak pernah mengeluh akan pekerjaannya sebagai babu, Laras artinya sesuai dengan irama maksudnya dia menikmati apa yang telah dia jalani selama ini. Lurus artinya dia tidak neko-neko apa adanya.
Lirih, Laras, dan Lurus
Dan saya sudah 3L sebagai babu, kok
saya ngomong tak pernah berteriak
lirih, tapi terang kesampaian
sanggup menguak tabir lenggang
dan menyibak bising percakapan
Saya ngomong tak pernah gadhog laras, tapi penuh irama khas
Medhok – kata wong Tanah Sebrang
yang pinternya bicara Jawa ngoko
Dan saya mangap tak pernah mencong, lho
lurus, bagaikan jalur jalan Malioboro

8.        Hal. 34 : 3T ( Titis, Tatas dan Tetes ), sebagai orang muda harus titis dalam mengungkap makna pembicaraan, tatas dalam perkerjaan yang dilakukan dan teteslah buah budi yang diwujudkan mengandung semua kebijaksanaan hidup.

9.        Hal. 49     : konsep orang jawa wani ngalah luhur wekasanipun artinya berani mengalah pada akhirnya ialah yang dianggap sebagai orang yang berjiwa luhur.
 “Wani ngalah luhur weksanipun”
-itulah wejangannya

10.    Hal. 66     : pakaian adat jawa bebed sido mukti dan surjan lurik, lengkap blangkonnya gaya ngayogya, timangnya gemerlap, jamnya berantai, dengan keris semar mesem tersandang di punggung miring ke kiri dan selop mengkilat warnanya.
-itulah wejangannya

11.    Hal. 74-76: menjelaskan tentang anggapan yang ada di masyarakat tentang seoarang sindhen. Yang pertama, predikat jelek suka nomplok. Kedua, menjadi bahan pembicaraan seorang sindhen kondhang karena pakai susuk. Ketiga, pesindhen harus kuat iman.
12.    Hal. 102-103: tradisi orang jawa yang dilakukan saat bulan sura.
13.    Hal. 164-166: orang jawa mempunyai kebiasaan untuk mengartikan mimpi.
14.    Hal. 220: tradisi orang jawa disaat menggendong anaknya pasti sambil dinyanyikan atau ditembangkan.

1 comment:

  1. Nice blog.. Visit back??
    Kalo kamu follow, aku bakalan follback :)

    ReplyDelete

thanks for reading (^o^)