Wednesday, January 18, 2012

ANALISIS BUKU CERITA ANAK FIKSI ‘LOST DOG! ANJING HILANG’ DENGAN PENDEKATAN OBJEKTIF BERDASARKAN KRITERIA FIKSI SASTRA ANAK


TA. Sastra Anak
- Dari hasil analisis dengan pendekatan objektif di atas, dapat diketahui bahwa buku bacaan fiksi Lost Dog! Anjing Hilang! adalah buku bacaan anak yang memenuhi kriteria buku bacaan fiksi anak, yaitu :
-          Alur yang sederhana.
-          Latar yang berhubungan dengan aksi tindakan tokoh.
-          Tema yang sesuai dengan anak ; kasih sayang kepada binatang, orangtua, sahabat, saudara, lingkungan, dan sebagainya.
-          Perwatakan tokoh yang jelas.
-          Gaya penceritaan yang sederhana, singkat, tidak bertele-tele.
-          Sudut pandang yang memudahkan anak dalam memahami cerita.
-          Memiliki format buku yang sempurna untuk anak. -


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Sastra berbicara tentang kehidupan yang diungkapkan dengan cara dan bahasa yang khas. Menurut Lukens (2003:9) sastra menawarkan dua hal utama, yaitu kesenangan dan pemahaman. sastra hadir kepada pembaca pertama-tama adalah memberikan hiburan yang menyenangkan. Lukens menegaskan bahwa memberikan hiburan tidak memandang dewasa atau anak-anak. Untuk sastra dewasa tidak diperlukan batasan-batasan yang mendalam, berbeda dengan sastra anak yang harus dan memerlukan batasan-batasan, sehingga sastra anak memiliki kriteria khusus dalam penerapannya.
Salah satu hiburan sastra untuk anak adalah buku bacaan. Buku bacaan dapat berupa buku cerita, buku ilmu pengetahuan, komik, majalah, dan sebagainya. Dalam hal ini akan dibahas lebih lanjut mengenai sastra anak yang berupa buku cerita, yang akan dikhususkan membahas tentang buku cerita anak terbitan Erlangga yang berjudul Anjing Hilang.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka tujuan makalah ini adalah untuk menganalisis buku cerita Lost Dog! Anjing Hilang! Dengan menggunakan pendekatan objektif berdasarkan karakteristik sastra anak.


BAB II
PEMBAHASAN

A.           Pendekatan Objektif
Pendekatan objektif adalah pendekatan yang memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur, yang dikenal dengan analisis intrinsik, tanpa menghubungkan dengan hal-hal di luar karya sastra. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik, seperti aspek historis, sosiologis, politis, dan unsur-unsur sosiokul-tural lainnya, termasuk biografi.
Masuknya pendekatan objektif ke Indonesia sekitar tahun 1960-an, yaitu dengan diperkenalkannya teori strukturalisme, memberikan hasil-hasil yang baru sekaligus maksimal dalam rangka memahami karya sastra. Pendekatan objektif diaplikasikan ke dalam berbagai bidang ilmu dan dunia kehidupan manusia, termasuk mode pakaian dan menu makanan. Dengan adanya penolakan terhadap unsur-unsur yang ada di luarnya, niaka masalah mendasar yang harus dipecah-kan dalam pendekatan objektif harus dicari dalam karya tersebut, seperti citra bahasa, stilistika, dan aspek-aspek lain yang berfungsi untuk menimbulkan kualitas estetis.
Dalam fiksi, yang dicari adalah unsur-unsur plot, tokoh, latar, kejadian, sudut pandang, dan sebagainya. Melalui pendekatan objektif, unsur-unsur intrinsik karya akan dieksploi-tasi semaksimal mungkin. Penilaian objektif berarti menilai suatu karya sastra secara objektif, tidak dengan pendapat pribadi (subjektif).

B.            Lost Dog! : Anjing Hilang!
Erlangga adalah salah satu penerbitan yang peduli dengan penyebaran sastra anak yang kurang berkembang di masyarakat Indonesia. Penerbitan ini banyak menerbitkan buku untuk anak, salah satunya buku anak terbitannya adalah buku kumpulan seri ‘The Adventure of Lola and Woufi : Petualangan Lola dan Woufi’. Meskipun buku tersebut berasal dari luar negeri, namun oleh Erlangga dijadikan buku bilingual, yaitu buku dengan cerita berbahasa Inggris dan berbahasa Indonesia. sehingga selain memberikan hiburan dengan kisah dan gambar yang penuh disetiap halaman, buku tersebut juga menjadi bahan ajar untuk mendidik anak. Buku bacaan tersebut terdiri dari delapan seri dengan tema yang sama, petualangan Lola dan Woufi, namun dengan judul yang berbeda. Seri dari buku tersebut adalah : Berantakan Sekali, Liburan, Anjing Hilang, Kasihan Si Woufi, Cinta Anjing, Acara Memancing yang Sukses, Murid Aneh, dan Pertunjukan Luar Biasa!.
Salah satu dari seri buku tersebut adalah Lost Dog! Anjing Hilang!. Tokoh utama yang menjadi ikon dari buku tersebut adalah Lola dan Woufi, yang pada setiap cerita selalu ada tokoh tersebut. Pada cerita Anjing Hilang ini, Lola merasa sedih karena kehilanan Woufi. Sahabatnya, Titou yang melihat Lola bersedih berusaha menghiburnya. Lalu mereka berdua menyusuri jalan untuk mencari Woufi. Mereka juga mencari dari rumah-kerumah tetangga, hingga bertanya pada semua orang yang lewat, namun tidak ada hasil. Lalu mereka mempunyai rencana membuat poster yang digambar sendiri dan ditempelkan di jendela-jendela toko.
Kemudian Titou mulai melacak, kapan dan dimana Lola terahir kali bersama Woufi. Terakhir kali Lola mengajak Woufi berjalan-jalan ke taman. Berbekal ingatannya, mereka berdua menuju taman, namun nihil. Tak ada tanda-tanda Woufi. Kemudian Lola mempunyai ide untuk pergi ke rumah Tuan Gerard, pemilik anjing cantik yang biasanya bermain dengan Woufi. Anjing betina itu bernama Kanela.
Akhirnya di rumah Tuan Gerard, Lola dan Titou menemukan Woufi. Ternyata Woufi berada di sana sedang menunggui Kanela yang ternyata melahirkan. Woufi dan Kanela memiliki empat ekor anak anjing. Lola dan Titou merasa terharu melihat Woufi yang setia menunggu Kanela.
Keadaan fisik semua buku seri Lola dan Woufi ini sungguh menarik. Cerita dikemas singkat dan lengkap. Ukuran huruf yang digunakan juga sesuai untuk usia anak belajar membaca. Apalagi ditambah dengan semua halaman penuh gambar dan warna, sehingga tidak membuat anak jenuh. Selain memberi hiburan dan imajinasi ketika melihat gambar, anak juga dapat sekaligus belajar bahasa Inggris melalui cerita tersebut.
Dibagian halaman depan terdapat tempat identitas yang dihias sebegitu menariknya, sehingga anak dengan senang hati belajar menulis namanya di halaman tersebut. dihalaman akhir juga terdapat dua lembar gambar hitam putih yang sengaja ditambahkan untuk melatih kreatifitas anak dalam mewarnai. Tak lupa diberikan pula lembaran catatan pada halaman paling akhir, sekali lagi dengan dihias semenarik mungkin agar anak bersemangat mencatat apa saja yang perlu di catat. Untuk ukuran buku enambelas halaman yang penuh gambar dan berwarna, dan dengan kualitas kertas yang bagus, harga Rp. 5000 tidak menjadi masalah, mengingat buku tersebut bsa dijadikan buku hiburan sekaligus buku pelajaran yang menarik.

C.           Analisis Buku Cerita Fiksi Lost Dog! Anjing Hilang! Dengan Pendekatan Objektif Berdasarkan Kriteria Fiksi Sastra Anak
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam fiksi, yang dicari dalam pendekatan objektif adalah unsur-unsur plot, tokoh, latar, kejadian, sudut pandang, dan sebagainya. Melalui pendekatan objektif, unsur-unsur intrinsik karya akan dieksploi-tasi semaksimal mungkin. Penilaian objektif berarti menilai suatu karya sastra secara objektif, tidak dengan pendapat pribadi (subjektif).
Berikut analisis buku cerita fiksi Lost Dog! Anjing Hilang! (LDAH) Dengan menggunakan pendekatan objektif :

1.      Alur Cerita
Kebanyakan dari alur-alur dalam sastra anak disajikan dalam mode atau dengan cara yang monoton saja. Biasanya anak-anak belum mencapai kematangan untuk mengikuti beberapa alur, seperti sorot balik (flashback) atau alur rumit dan kompleks lainnya. Dalam buku LDAH menggunakan alur yang monoton, linear, lurus, sehingga pembaca anak akan mudah memahami peristiwa yang sedang terjadi dalam cerita.
Peristiwa diceritakan secara runtut, dari mulai Lola sedih karena kehilangan Woufi, perjalanan Lola dan Titou dalam mencari Woufi, hingga mereka beruda berhasil menemukan Woufi di tempat tak terduga, di rumah tuan Gerard. Dengan kata lain, cerita LDAH berhasil menciptakan cakrawala harapan pada anak, yaitu mengajak anak untuk menebak dimana Woufi berada.

2.      Latar Cerita
Latar dibagi menjadi tiga, latar waktu, tempat dan latar suasana. Ketiga latar tersebut haruslah mempengaruhi dan berhubungan aksi atau tindakan tokoh dan tema cerita, sehingga anak akan lebih mudah mengerti mengapa ada latar tertentu yang muncul di cerita. Seperti yang tergambar pada cerita LDAH. Pada cerita tersebut memperhatikan suasana, yaitu suasana sedih saat Lola kehilangan Woufi, dan suasana senang saat berhasil menemukan Woufi.
Latar tempat yang ada pada cerita tersebut juga sangat mendukung aksi tindakan Lola dan Titou dalam menari Woufi, yaitu tindakan bertanya kesetiap rumah tetangga, mencari di taman, dan menemukan Woufi berada di rumah orang yang sudah dikenal mereka, tuan Gerard.
Untuk latar waktu tidak ditunjukkan secara tersurat, melainkan hanya dengan adanya gambar matahari yang bersinar disetiap gambar langit. Gambar matahari tersebut menjadi tanda bahwa waktu saat itu adalah pagi-siang hari.

3.      Tema Cerita
Tema untuk sastra anak ada baiknya bermanfaat untuk pertubuhan anak yang didasarkan pada keadilan, kejujuran akhlak yang sehat, logis, dan berprinsip etis. Tema akan selalu berkaitn dengan persoalan kemanusiaan, seperti cinta kasih terhadap orangtua, sahabat, saudara, sesama, binatang, rasa takut, percaya diri, harga diri, dan lain sebagainya. Tema yan diusung oleh pengarang berkaitan dengan isi cerita.
Dalam LDAH ini bertema tentang kasih sayang, terhadap binatang, sesama, dan sahabat. Kasih sayang terhadap binatang tercermin ketika Lola sedang sedih dan cemas karena Woufi hilang. Kasih sayang terhadap sahabat icerminkan ketika Titou ikut mencari Woufi, karena ia tidak mau melihat sahabatnya sedih. Sedangkan kasih sayang terhadap sesama tercermin ketika Lola dan Titou bertanya tetangga tentang Woufi, dan tetangga-tetangga bersedia membantu Lola mencari Woufi. Tema kasih sayang seperti di ataslah yang cocok untuk anak, bukan kasih sayang kepada lawan jenis, pacar, dan sebagainya, yang cocok untuk sastra dewasa.

4.      Tokoh Cerita
Tokoh dalam bacaan anak dapat berupa mnusia, binatang, tumbuhan, bahkan makhluk atau objek lain. Dalam pengertian sederhana anak dan yang paling dimengerti anak, tokoh dibagi dalam dua perwatakan, yaitu protagonis tokoh baik, dan antagonis tokoh jahat.
Tokoh dalam cerita LDAH tidak menampilkan tokoh jahat, hanya menghadirkan tokoh baik sepanjang cerita. Yaitu tokoh Lola yang menyayangi binatang. Tokoh Titou yang baik hati menemani Lola mencari Woufi. Tokoh tetangga yang dengan sukarela membantu mencarikan Woufi. Serta tokoh tuan Gerard yang mengijinkan Woufi berhubungan dengan anjing betinanya.
Tidak adanya tokoh jahat yang menentang tokoh baik, membuat tidak adanya knflik antar tokoh dalam cerita. Tokoh-tokoh dengan perwatakan yang baik seperti dalam cerita tersebut, cocok untuk menjadi panutan anak.

5.      Gaya Cerita
Gaya menulis yang baik dan menarik haruslah serasi dan mencerminkan dengan alur, tema, latar, dan tokoh. Gaya penceritaan dalam LDAH ini sangat menarik. Kalimat yang digunakan tidak panjang, tidak lebih dari sepuluh kata, sehingga anak lebih mudah memahami dan menangkap maksud dari kalimat per kalimat. Bahasa penceritaan juga tidak bertele-tele, bahasa yang digunakan singkat, padat, dan jelas maksudnya. Gaya penceritaan seperti inilah yang cocok digunakan untuk anak dalam tahapan belajar membaca.

6.      Sudut Pandang Cerita
Sudut pandang umumnya terdiri dari sudut pandang pertama dan sudut pandang ketiga, dimana pengarang menggunakan tokoh aku untuk menjalankan cerita. sudut pandang orang ketiga serba tahu, yang mengizinkan pengarang menggunakan kebebasan menjalankan tokoh lain. Sudut pandang orang ketiga serba tahu terbatas, sang pengarang berdiri di belakang pengarang.
Buku LDAH ini menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu, karena pengarang seakan tahu semua kejadian dan perasaan tokoh. Seperti yang tergambar dalam kutipan berikut :
Hari yang tidak menyenangkan. Lola kehilangan anjingnya, Woufi. Kasihan Lola, dia sedih karena dia sangat menyayangi Woufi.
Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa pengarang tahu segalanya tentang perasaan Lola yang sangat sayang kepada Woufi. Padahal didalam cerita tidak disebutkan alasan mengapa Lola sangat menyayangi Woufi, apakah dia lucu, lincah, atau menggemaskan. Yang dijelaskan pengarang hanya bahwa Lola sangat menyayangi Woufi.
Lalu pada kutipan berikut :
Lagipula semua tetangga ramah pada mereka. Tentu saja, setiap orang ingin membantu Lola begitu melihat wajahnya yang sedih.
Dalam cerita tidak disebutkan bagaimana pengarang tahu bahwa tetangga bersungguh-sungguh ikut membantu mencari Woufi, karena tidak ada dialog ataupun penjelasan lain yang mendukung kebaikan tetangga.

7.      Format Buku Cerita
Salah satu hal yang paling penting dalam format buku adalah jaket buku atau kulit buku, karena bagian itulah yang dilihat pertama kali oleh anak. ketertarikan anak terhadap suatu buku muncul ketika melihat kulit buku yang menarik perhatiannya. Karena itulah hal pertama yang harus diperhatikan adalah kemenarikan sampul buku. Tak bisa ipungkiri bahwa anak-anak cenderung ebih suka buku dengan banyak gambar dan berwarna daripada yang banyak berisi tulisan dan sedikit warna. Sehingga tak heran jika pada umumnya harga buku anak cenderung lebih mahal daripada buku dewasa.
Selain sampul buku, hal lain yang patut dipertimbangkan adalah ukuran, bentuk, halaman, ilustrasi, kualitas kertas, dan penjilidannya.
Format buku yang dimiliki LDAH ini sangat menarik, bahkan bisa dibilang sempurna untuk ukuran buku anak. Sampul buku yang menarik membuat anak tertarik membaca isi ceritanya. Apalagi disertai bahasa inggris dan tertulis bilingual. Anak maupun orang dewasa akan tertarik memberikan buku ini sebagi bahan bacaan untuk anak.
Untuk bagian dalam, anak akan lebih tertarik lagi dikarenakan full picture and full colour. Dihalaman awal sudah disajikan tempat menarik untuk anak mengisi identitas kepemilikan buku, sekaligus melatih anak belajar menulis namanya.

Pada halaman penerbitan juga dihias sedemikian rupa, sehingga anak juga tertarik membaca asal usul buku tersebut.

Begitu pula pada halaman hak cipta yang juga dihias menarik, agar anak-anak mengetahui Undang Undang tentang pelanggaran hak cipta.

Kemudian pada halaman cerita disediakan format yang lebih menarik. Ukuran tulisan besar, simple, dan berwarna, sehingga anak tidak jenuh membaca melulu. Cerita disajikan dalam dua bahasa, bagian atas bahasa Inggris, sedangkan bagian bawah bahasa Indonesia. setiap cerita menampilkan gambar penuh satu halaman. Keindahan tersebut tergambar di sepanjang cerita yang terdiri 10 halaman beserta ilustrasi.

Buku ini tak hanya menghadirkan cerita saja, melainkan juga menyematkan halaman mewarnai, agar anak dapat mengasah kreatifitas mereka.

Sebagai halaman terakhir diberikan disertakan juga halaman buku bergaris untuk mengasah kemampuan menulis anak. Tak lupa halaman ini juga diberikan ilustrasi menarik.

Pada kulit buku bagian belakang disertakan juga seri-seri buku Petualangan Lola dan Woufi lainnya.


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari hasil analisis dengan pendekatan objektif di atas, dapat diketahui bahwa buku bacaan fiksi Lost Dog! Anjing Hilang! adalah buku bacaan anak yang memenuhi kriteria buku bacaan fiksi anak, yaitu :
-          Alur yang sederhana.
-          Latar yang berhubungan dengan aksi tindakan tokoh.
-          Tema yang sesuai dengan anak ; kasih sayang kepada binatang, orangtua, sahabat, saudara, lingkungan, dan sebagainya.
-          Perwatakan tokoh yang jelas.
-          Gaya penceritaan yang sederhana, singkat, tidak bertele-tele.
-          Sudut pandang yang memudahkan anak dalam memahami cerita.
-          Memiliki format buku yang sempurna untuk anak.



DAFTAR PUSTAKA
-          Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Sastra Anak : Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Bandung : Gadjah Mada University Press.

-          2004. The Adventures of Lola and Woufi Petualangan Lola dan Woufi : Lost Dog! Anjing Hilang!.  Jakarta : Penerbit Erlangga.

5 comments:

thanks for reading (^o^)